Tag Archives: Yesus

Siapakah Yesus Yang Sebenarnya?

Pertanyaan tentang siapakah Yesus, adalah pertanyaan dari awal berdirinya gereja sampai dengan sekarang ini, banyak orang yang berbeda pandangan tentang siapakah Dia. Misalnya, pada waktu kita menyebut Allah sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Benar yang kita sebutkan adalah Allah, apabila kita melihatnya sebagai Allah di dalam Yesus Kristus. Pemeluk agama Yahudi juga menyebutkan Allah sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, tetapi mereka tidak mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan. Apakah sama Allah dalam kedua versi itu? Tentu saja tidak. Allah di luar Yesus Kristus, bukanlah Allah umat Kristiani.

Untuk mengenal Yesus lebih baik, kita perlu juga mengenal Allah lebih baik. Siapakah Allah itu? Apakah manusia di bumi ini pernah melihat Allah? Kalau kita pelajari kitab-kitab Perjanjian Lama, Allah berbicara hanya dengan orang-orang tertentu, misalnya dengan Musa. Ia merasakan kehadiran dan kemulian Allah yang luar biasa, tetapi Musa tidak pernah melihat Allah dengan sempurna. Apakah nanti di Sorga kita bisa melihat Allah ? Dalam kitab Yes. 6:1, Tuhan mengizinkan Yesaya melihat kemulian-Nya. Dalam ayat tersebut,  tertulis :” Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci”. Jadi Yesaya tidak bisa melihat dengan sempurna kemuliaan Allah itu.

Dalam Yes 6:2 tertulis : Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang”. Bahkan Serafim sendiri, malaikat kudus yang melayani Tuhan, tidak bisa melihat kemuliaan Allah secara sempurna. Kalau demikian, bagaimana kita nanti mengenal Allah? Kita hanya bisa mengenal Allah, apabila Ia memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Itulah yang terjadi dengan kedatangan-Nya sebagai manusia di dalam Yesus Kristus. Yoh 1:18 berkata: Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia melalui Yesus Kristus.

Selanjutnya, kita amini,Yesus yang disalib, bangkit dari antara orang mati dan naik ke sorga duduk disebelah kanan Allah Bapa? Apa artinya Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa sedangkan kita sendiri kita tidak mampu untuk melihat Allah Bapa itu. Menurut pendapat saya, pada waktu kita memasuki kerajaan kekekalan, Yesus adalah Tuhan yang bisa kita lihat. Kepada penjahat yang disalib bersama Dia, Yesus mengatakan: ”Sebentar lagi kita akan bersama-sama di taman firdaus”. Dengan pengertian ini, menjadi jelas, yang dikatakan Yesus bahwa ”di dalam Yesus tidak ada lagi kematian”, artinya, di dunia ini kita bersama Yesus, di taman firdaus kita bersama Yesus dan di dunia yang kekal nanti kita bersama dengan Yesus.

Cara berdoa kadang-kadang menunjukkan juga pemahaman kita tentang siapakah Yesus. Ada orang yang beranggapan bahwa nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus harus disebut secara berimbang. Apabila saya menyebut nama Bapa terlalu sering nanti  bagaimana dengan Allah Anak, dan bagaimana kalau saya terlalu sering menyebut nama Allah Bapa dan Allah Anak,  nanti saya melupakan  Allah Roh Kudus? Perlu kita ingat, Allah adalah Allah Yang Esa. Dalam Yoh. 14:23, ” Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”. Jadi tidak perlu dibedakan, tidak perlu dipertentangkan antara Allah Bapa dengan Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Kita dapat menyebut  Allah sebagai Bapa, atau menyebut Allah sebagai Roh Kudus. Tetapi sebagai umat Injili, kita lebih sering menyebut Allah sebagai Tuhan Yesus karena alamat doa ini jelas. Kalau hanya menyebut nama Tuhan, barangkali kita berbicara tentang Allah yang berbeda.

Pengenalan kita tentang Yesus akan mempengaruhi semua hubungan kerohanian kita dengan Allah. Baik cara kita berkhotbah, memilih puji-pujian dan sebagainya. Semua pemberitaan firman berpusat kepada Dia, semua puji-pujian akan berpusat pada Dia. Kidung-kidung pujian yang mungkin terasa indah, dan enak didengar, tetapi tanpa ada pemberitaan tentang Yesus didalamnya, tidak lebih dari kidung pujian yang dinyanyikan penyanyi-penyanyi populer. Mungkin indah, namun tanpa ada jamahan terhadap rohani kita.

Sampai masa kini usaha-usaha merendahkan Yesus tidak pernah berhenti. Beberapa waktu yang lalu muncul film berjudul Da Vinci Code yang menghebohkan karena mengatakan bahwa Yesus menikah dengan Marida Magdalena. Munculnya Anti Kristus sudah dinubuatkan oleh firman Tuhan antara lain dalam 1 Yoh 4:3 demikian: “Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”. Sejak tahun 1960-an bermunculan buku-buku dan film-film yang mencoba mendiskreditkan pribadi Yesus. Sebuah buku terbit dalam tahun 1960-an yang kemudian difilmkan dalam tahun 1970-an dengan judul ”Jesus Christ Super Star” karya Tim Rice dan Andrew Lloyd Weber yang menjadikan Judas Iskariot sebagai pahlawan dan Yesus digambarkan sebagai orang yang frustrasi dan mati dalam kegagalan.

Perkembangan teologia liberal yang didorong paham rasionaisme beberapa abad yang lalu telah menghasilkan apa yang disebut ”Historical Jesus”, ”Yesus Sejarah” yang mencoba merekonstruksi kehidupan Yesus dengan menolak hal-hal yang bersifat supranatural disekeliling-Nya terutama kelahiran dari anak dara, mujizat yang dilakukannya, kebangkitan-Nya sehingga ketuhanan Yesus pun ditolak dan Yesus dipaksakan untuk sekedar  menjadi tokoh yang mengalami pergumulan sosial politik di Palestina di abad pertama.

Kembali pada pertanyaan, siapakah Yesus yang sebenarnya?

Ada berbagai sebutan yang diberikan bagi Yesus, Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai Anak Manusia , Anak Domba Allah , Anak Allah, Nabi, Rabbi, Tabib yang Agung , Gembala Yang Baik, Terang Dunia, Firman Allah Yang Hidup, Yang Awal dan Yang Ahir. Tetapi bagi saya, ada tiga sebutan utama Yesus. Yang pertama, Yesus adalah Tuhan, yang kedua Ia adalah Juru Selamat dan yang ketiga, Yesus adalah Raja.

Sebutan yang pertama, Yesus adalah Tuhan. Tuhan, adalah sebutan utama Yesus. Kyrios dalam bahasa Yunani, merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani YHWE yaitu nama Allah dalam Perjanjian Lama. Dengan menyebut Yesus sebagai Tuhan, kita meyakini bahwa Yesus adalah Allah yang menciptakan langit, bumi dan segenap isinya. Yesus adalah Allah yang disebut dalam perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru mendatangi manusia di dalam pribadi Yesus. Dalam Yoh 10:30, Yesus berkata: “Aku dan Bapa adalah satu”. Dalam Yohanes 8:58, Yesus menjelaskan lebih jauh siapa Dia sebenarnya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”. Keilahian Yesus ditegaskan Injil Yoh. 1:1 yang mengatakan, “Firman itu adalah Allah” dan dalam Yoh 1:14 tertulis ”Firman itu telah menjadi manusia”. Yesus adalah Allah dalam wujud manusia.

Nubuat-nubuat tentang Kristus dalam Perjanjian Lama menyatakan keilahiannya, Antara lain dalam Yesaya 9:5-6, tertulis “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini”.

Menarik untuk diketahui,  penyebutan ”Tuhan Yesus” dalam Perjanjian Baru terjemahan baru Bahasa Indonesia ada sebanyak 56 kali, dan hanya 3 kali penyebutan ’Tuhan Yesus” dicatat dalam kitab-kitab Injil yaitu, Markus 16:19, Lukas 24:3   dan Yoh 4:1. Sebanyak 53 kali  penyebutan ”Tuhan Yesus” lainnya justru terdapat dalam kitab atau surat-surat lainnya. Apa artinya ini? Yesus yang rendah hati itu, walau Dia adalah Allah tidak pernah menyebut diri-Nya sebagai Allah. Para pengikutnyalah yang dengan pemahaman yang disampaikan Roh Kudus menyebut Yesus sebagai Tuhan.

Sebutan Yesus yang kedua adalah Juru Selamat.  Sebutan ini dikumandangkan oleh seorang malaikat, diiringi bala tentara Sorga yang banyak jumlahnya, dalam Lukas 2:11, ”Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”. Ia adalah Anak domba yang telah dikorbankan di kayu salib sebagai korban penghapusan dosa manusia. Kita bukan ditebus dengan uang, emas atau perak melainkan dengan harga yang sangat mahal, dengan darah yang tidak bercela yaitu  darah Allah sendiri yang mengalir dalam tubuh Yesus Kristus. Anak Domba yang dikorbankan, berarti dosa manusia yang percaya kepada-Nya dihapus melalui kematian Yesus, seperti yang dimaksudkan sebagai “korban penebus salah” dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Kitab Imamat 5:17-19. Dalam peristiwa Paskah pertama,  ketika bangsa Israel dilepaskan dari perbudakan di Mesir, pengorbanan seekor anak domba memainkan peranan besar. Dalam Markus 14:22-25, Ia mengingatkan murid-murid bahwa apa yang akan dilakukan-Nya di kayu salib merupakan suatu titik balik yang penting dalam hidup mereka sendiri, sama seperti Paskah pertama telah menjadi titik balik bagi seluruh bangsa Israel.

Dalam Markus 10:45, Yesus mengatakan dengan tegas bahwa Dia hendak menjadi “tebusan”. “Tebusan” adalah harga yang dibayar guna membebaskan seorang budak. Gambaran ini cocok dengan kematian Yesus, karena orang yang dibebaskan Yesus, benar-benar dibebaskan agar menjadi milik Allah. 1Petrus 1:18-19 berkata, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”.  Ketika Yesus mati sebagai korban di kayu salib sebagai tebusan bagi kita, Ia mati menggantikan kita. Di kayu salib Ia melakukan bagi kita apa yang tidak dapat kita lakukan sendiri.

Sebutan Yesus yang ketiga adalah Raja. Malaikat Gabriel menyapa Maria dalam Lukas 1:33, demikian,  ”dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”. Hal inilah yang telah dinubuatkan di dalam Yesaya 9:6, ”Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya”. Yesus bukan saja Tuhan dan Juru Selamat tetapi juga adalah Raja. Ia adalah Raja, kita adalah warga kerajaan itu.

Apakah beda antara Tuhan dan Raja? Tuhan dan Raja sama-sama ditinggikan, dihormati dan disembah, tetapi seorang Raja memiliki hubungi keseharian dengan rakyat-Nya. Dalam Yesaya 9:5 tertulis bahwa ada lambang pemerintahan yang diletakkan dalam bahu Yesus. Apakah fungsi seorang raja? Ada tiga fungsi yang melekat dalam diri seorang raja. Pertama, seorang raja bertanggung-jawab terhadap keamanan kerajaan dan rakyatnya. Kalau ada musuh menyerang, raja akan menggerakkan pasukannya untuk menumpas musuh yang menyerang. Yang kedua, seorang raja bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dan fungsi raja yang ketiga adalah sebagai hakim. Pada waktu rakyatnya diperlakukan tidak adil, rakyat bisa mengadukan perkaranya kepada raja dan ia akan menghakimi dengan adil.

Kerajaan Allah sudah ada di dunia ini, sudah diproklamasikan oleh Yesus. Kerajaan itu akan menjadi sempurna sesudah kedatangan-Nya yang kedua kali. Kerajaan Allah itu ibarat biji sesawi yang bertumbuh menjadi pohon yang besar atau sebagai ragi yang mengkhamiri seluruh adonan. Kerajaan Allah itu ada di antara orang-orang percaya. Kalau kita meyakini Kerajaan Allah sudah ada, maka sebagai konsekuensinya, Yesus adalah Raja dalam Kerajaan Allah ini. Dengan keyakinan seperti ini, kita meyakini pula bahwa pada masa kini pun ada proteksi, perlindungan khusus bagi setiap orang percaya, kita adalah biji mata-Nya. Yesus, raja kita akan meluputkan kita pada masa kesesakan.

Kita meyakini, setiap orang percaya akan mendapatkan makanan, minuman, pakaian, rumah dan semua kebutuhan hidupnya. Inilah yang dijanjikan Yesus dalam matius 6:33, ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu”.

Kita juga meyakini, walau kita hidup dalam dunia yang tidak adil tetapi Yesus adalah Hakim yang Adil, Ia akan melindungi kita, mempertahankan hak-hak kita dalam kehidupan kita di dunia ini.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Kenapa Allah Perlu Datang Sebagai Manusia?

Setiap orang, apapun suku, bangsa dan bahasanya, pasti sudah pernah mendapatkan nasihat-nasihat yang baik. Apakah dari orang tua, dari guru, dari pemuka agama dan sebagainya. Tetapi, kenyataannya, dunia bukan semakin baik. Artinya, nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran itu tidak membuat manusia lebih baik. Bukan hanya nasihat manusia, ajaran dari Tuhan pun tidak didengarkan manusia. Kita dapat merenungkan hal ini dalam sejarah umat manusia seperti ditulis dalam Alkitab.

Allah menciptakan manusia untuk menjadi mitra-Nya mengelola dunia ini. Allah ingin manusia menikmati berkat-berkat yang disediakan Tuhan, hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera. Itu adalah tujuan penciptaan yang kita bisa baca dalam pasal pertama kitab Kejadian. Nenek moyang kita yang pertama, Adam dan Hawa menikmati hidup berkelimpahan di Taman Eden. Tetapi ketika Iblis berhasil menggoda Hawa untuk memakan buah larangan itu, maka manusia itu jatuh ke dalam dosa. Sejak saat itu kehidupan manusia menjadi berbeda sama sekali. Dosa memasuki kehidupan manusia.

Manusia berkembang, bertambah jumlahnya, tetapi dosa semakin merasuki kehidupan manusia. Pada suatu waktu, Allah memusnahkan umat manusia dengan air bah, kecuali empat pasang keluarga Nuh dengan anak-menantunya. Ibarat menulis di atas kertas yang sudah kotor,  yang sudah banyak coreng-morengnya, Allah memutuskan untuk menulis kembali di sebuah kertas putih bersih yang baru.

Tetapi sejak bencana air bah itu, Allah berjanji tidak akanmenghukum manusia dengan cara yang sama. Allah mengirim utusan-utusan-Nya para Nabi untuk menyampaikan nasihat-nasihat dan ajaran yang baik. Apabila manusia menurut nasihat dan ajaran  yang disampaikan oleh Allah maka manusia itu akan hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera.

Dalam perjalanan dari tanah perbudakan di tanah Mesir ke Tanah Perjanjian, di Gunung Sinai, Allah memberikan kepada Musa dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah yang merupakan rambu-rambu agar umat pilihan Allah mengetahui apa yang baik, apa yang salah, apa yang benar dan apa yang berdosa.

Dalam perjalanan umat Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian selama 40 tahun, banyak mujizat terjadi dalam perjalanan itu. Umat Israel melihat kemuliaan Alllah dalam berbagai peristiwa. Allah memberi manna dan burung puyuh sebagai makanan mereka. Allah menyediakan tiang awan untuk memelihara mereka dari terik matahari. Allah menyediakan tiang api agar mereka tidak kedinginan di malam hari. Tetapi Umat Israel  tetap bersungut-sungut mendukakan hati Allah. Kebaikan Allah tidak diresponi dengan baik oleh Umat Israel  Namun demikian,  Allah terus berkarya menyampaikan firman Tuhan dengan perantaraan para nabi. Umat Israel yang disebut Allah sebagai bangsa yang tegar tengkuk tidak menuruti nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Allah.

Nasihat dan ajaran betapa  baiknya pun, bahkan yang disampaikan oleh Allah sendiri, tidak dituruti oleh manusia. Inilah penyebab dari segala kekacauan yang terjadi di dunia sampai sekarang ini. Bukan karena hukum tidak ada, bukan karena firman Allah tidak ada tetapi karena manusia tidak menuruti firman Allah.

Betapa sedih hati Allah terhadap umatNya yang tidak menuruti ajaran dan nasihat-Nya dapat kita lihat dari tangisan Yesus.  Hanya dua kali Alkitab mencatat Yesus menangis. Yang pertama, Yesus menangis bersama dengan Maria dan Marta yang berduka oleh  karena saudara mereka Lazarus sudah meninggal dunia. Dan yang kedua, Yesus menangis ketika Ia menatap Yerusalem dari lereng di sekitar Bukit Zaitun. Pada waktu itu Ia berkata, seperti tertulis dalam Luk 19:41-44, “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau”. Yesus menatap Yerusalem dan menangisi jiwa-jiwa yang sedang hilang menuju neraka padahal Allah dalam Yesus Kristus sedang melawat mereka. Kesimpulannya, firman Allah dalam bentuk hukum, ajaran dan nasihat tetap tidak dituruti oleh umat manusia.

Maleakhi adalah kitab terakhir Perjanjian Lama. Sesudah itu untuk masa yang panjang sekitar 400 tahun, Tuhan berdiam diri, tidak ada lagi nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Apakah Allah berhenti berkarya bagi keselamatan umat manusia. Tidak, Allah tetap berkarya. Ada karya agung yang disiapkan-Nya, yaitu, Ia sendiri datang secara pribadi menemui umat-Nya, menemui manusia. Ia menjadi manusia di dalam Yesus Kristus.

Allah mengetahui bahwa manusia dengan kekuatannya sendiri tidak mungkin diselamatkan. Sekali lagi, manusia tidak bisa diselamatkan dengan kekuatannya sendiri walau diberikan ajaran, nasihat dan hukum. Itu sebabnya Allah sendiri datang menemui manusia yang berdosa itu.

Nabi terakhir yang diutus Allah sebelum kedatangan-Nya sebagai manusia adalah Yohanes Pembaptis. Nabi Yohanes perintis jalan bagi kedatangan Yesus. Apa yang disampaikan oleh Yohanes? Ia menyampaikan seruan pertobatan. Dalam Mrk 1:4 ia berkata. ” Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”.  Suara kenabian yang disampaikan Yohanes  juga disampaikan Yesus dalam Mrk 1:15, ”Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”.

Apakah Tuhan Yesus membawa ajaran baru? Tidak! Semua ajaran yang disampaikan oleh Yesus sebenarnya sudah disampaikan Allah dalam Perjanjian Lama melalui para nabi. Yesus menggenapi apa yang sudah disampaikan-Nya sebagai Allah dalam Perjanjian Lama. Ajaran kasih yang disampaikan Yesus adalah intisari dari semua ajaran yang sudah disampaikan oleh Allah. Yesus memberikan pencerahan tentang firman Allah dalam suatu persepsi baru yang benar dan segar.

Yesus tidak meyampaikan suatu ajaran atau hukum yang baru karena Alllah mengetahui ajaran dan hukum tidak menyelamatkan manusia. Kalau demikian, apa sesungguhnya  arti kedatangan Yesus? Perlu kita simak baik-baik. Ada dua hal yang sangat sangat penting dari kedatangan Yesus. Pertama, Ia menjadi anak domba yang dikorbankan di Kayu Salib untuk menebus dosa manusia, sekali dan untuk selamanya. Yang kedua, Allah tahu bahwa manusia tidak mampu dan tidak mungkin menyelamatkan dirinya  walaupun Allah menyediakan petunjuk-petunjuk berupa ajaran, nasihat dan hukum. Sekarang, kita perlu catat baik-baik,  kita perlu ingat baik-baik, Allah memutuskan bahwa Ia bersedia tinggal di dalam diri manusia itu sendiri. Allah  dalam Roh Kudus diam di dalam manusia. Manusia memang tidak mampu untuk menyelamatkan dirinya, tetapi Allah yang berdiam di dalam diri manusia memampukannya. Dua hal ini yang paling penting dan tidak boleh kita lupakan tentang arti kehadiran Allah sebagai manusia di dunia ini.

Karya Alllah di dalam Roh Kudus adalah dimensi baru dalam sejarah keselamatan. Allah bersedia diam dalam hati manusia.

Dalam Perjanjian Lama hanya orang-orang tertentu yang menerima urapan Roh Kudus seperti para nabi dan raja-raja yang diurapi-Nya. Dalam Perjanjian Baru, Allah membuka kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menerima anugerah Roh Kudus itu. Anugerah itu tersedia bagi setiap orang yang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Nya. Dalam Mrk 1:7-8, Yohanes Pembaptis berkata, ” Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.  Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”.

Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Tetapi apabila kita mempelajari pelayanan Yesus di dunia ini, Ia tidak pernah membaptis, Ia tidak pernah menyelenggarakan apa yang disebut sebagai baptisan Roh Kudus. Kapan baptisan Roh Kudus terjadi? Kapan Yesus membaptis dengan Roh Kudus?  Sebelum naik ke sorga, Ia berkata dalam Kis. 1:4-5, ”Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — “telah kamu dengar dari pada-Ku.  Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”. Yesus mengatakan, nubutan yang disampaikan Yohanes tentang baptisan Roh Kudus yang dilakukan oelh Yesus akan segera tiba waktunya. Peristiwa itu terjadi pada hari Pentakosta, limapuluh hari sesudah hari minggu kebangkitan Yesus.

Kenaikan Yesus ke Sorga berhubungan dengan karya Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Yesus berkata dalam Yoh 16:7, ”Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.

Jelas, peristiwa kenaikan Yesus ke sorga berhubungan dengan karya Roh Kudus yang dinyatakan pada hari Pentakosta. Kalau Yesus tidak naik ke sorga maka tidak ada pencurahan Roh Kudus, dan kalau tidak ada kebangkitan maka Yesus tidak akan naik ke sorga. Yesus tidak akan bangkit kalau Ia tidak disalib di Golgota. Ia tidak disalib di Golgota apabila Ia tidak dilahirkan di kandang Betlehem. Ada tali temali, kaitan yang sangat erat dalam peristiwa-peristiwa, dalam momen-momen penting dari pelayanan Yesus yang merupakan intisari misi Yesus ke dunia ini. Ia lahir, Ia disalib, Ia mati dan dikuburkan, Ia bangkit, Ia naik ke Sorga dan kemudian Ia mencurahkan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Kesimpulan:

  1. Firman Allah yang berisi hukum, ajaran dan nasihat  tidak membawa keselamatan bagi manusia. Godaan Iblis dan sifat kedagingan mencegah manusia mengikuti  ajaran baik yang sudah disediakan Allah. Saudara, apabila seorang berpendapat bahwa ia bisa menguduskan dirinya dengan menyiksa diri, dengan bertapa, dengan melakukan suatu kehidupan yang sangat berdisiplin ia tidak akan bisa mencapai hidup kudus tersebut karena betapa besarpun upaya manusia, ia tidak akan bisa mengalahkan godaan dari si iblis.
  2. Allah mengetahui manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Allah di dalam Yesus Kristus meninggalkan kemuliaan Sorga dan hidup sebagai manusia yang hina . Ada dua hal utama yang dilakukan-Nya bagi keselamatan manusia. Yang pertama Ia disalibkan sebagai korban penebus dosa bagi manusia. Dan yang kedua, melalui peristiwa kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga Ia mencurahkan Roh Kudus pada hari pentakosta. Roh Kudus adalah Alllah yang  berdiam di dalam hati manusia. Pencurahan Roh Kudus adalah baptisan Roh Kudus oleh Yesus Kristus. Karunia Roh Kudus diberikan bagi setiap orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.

Dalam kesempatan ini, perlu kita renungkan lebih mendalam tentang hubungan antara pertobatan dengan ”diselamatkan karena percaya bahwa Yesus adalah Tuhan”. Kalau kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka kita akan menuruti seruan pertobatan-Nya yang disampaikan dalam Mrk 1:15, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Bertobat adalah suatu sikap hati. Hal ini bisa kita lihat dari cerita anak yang hilang dalam Lukas 15,  ketika anak bungsu meminta warisannya, meninggalkan rumah Bapa, pergi ke negeri yang jauh, berfoya-foya menghabiskan uangnya dan  kemudian ia hidup melarat. Suatu kali ia harus menyantap ampas makanan babi. Ditengah-tengah keterpurukannya, ia mengingat kehangatan di riumah bapa di mana para pegawai dan pembantu yang bekerja di sana tidak ada yang berkekurangan. Di rumah, ada kehangatan, perhatian dan cinta kasih. Kemudian, ia mengambil putusan mengatasi rasa ego  dan rasa malunya untuk pulang ke rumah bapa dan melamar menjadi pekerja, menjadi seorang pegawai. Ia tidak membayangkan hal yang lebih baik, Ia menyadari akan kesalahan dan dosanya. Ia menyadari bahwa ia berdosa kepada Sorga dan kepada bapa. Harapannya tidak banyak, ia ingin bekerja sekedar bisa makan dan minum.

Dan ketika ia pulang ke rumah, apa reaksi sang bapa? Dari jauh, ketika bapa melihat anaknya yang bungsu pulang, ia berlari mengejar anaknya itu. Bayangkan, bapa yang terhormat, bapa yang mulia berlari mengejar anak bungsu. Berlari, menunjukkan kegirangan yang amat sangat di dalam hati sang bapa. Pada waktu anak bungsu berkata: ”Saya sudah berdosa kepada Sorga dan bapa”. Bapa tidak menanggapi perkataan anak bungsu. Ia menyuruh pegawai-pegawainya mengambil jubah terbaik, memasang cincin pada jari anak bungsu dan memasang sepatu pada kakinya. Ia meminta supaya anak lembu tambun disembelih dan mereka akan berpesta bersukacita.

Pada waktu anak bungsu bertobat, sang bapa tidak berkata: ”Anakku kalau engkau bertobat, tunjukkanlah lebih dahulu melalui perbuatan-perbuatan sehingga bapa yakin akan pertobatanmu”. Tidak, tidak ada perbuatan-perbuatan yang dituntut oleh sang bapa. Yang diperlukannya adalah hati yang bertobat. Jadi kembali kepada pertobatan, pertobatan adalah sebuah sikap hati seseorang dan bukan tindakan atau perbuatan baik. Jadi, ia belum melakukan perbuatan-perbuatan yang mendukung pertobatannya itu. Pada waktu seorang bertobat di dalam hatinya, ia menyesali perbuatan-perbuatannya yang sesat selama ini, maka Tuhan mengampuninya. Kemudian,  Allah berdiam bersama dengan orang itu di dalam Roh-Nya Yang Kudus. Roh Kudus lah yang memampukan orang itu melakukan perbuatan-perbuatan yang baik.

Pertobatan adalah kunci untuk memasuki Kerajaan Allah dan pertobatan adalah konsekuensi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kecenderungan pengajaran agama Kristen yang menekankan diselamatkan oleh iman kepada Yesus Kristus atau diselamatkan oleh karena anugerah Allah tanpa menekankan pentingnya pertobatan dapat menghasilkan suatu keselamatan yang semu.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI