Tag Archives: Pelayanan

Rahasia PI Yang Berhasil

Kis. 2:36-42

 Diperlukan orang-orang yang terpanggil untuk mengabarkan Injil. Mereka perlu diperlengkapi dengan pengetahuan tentang budaya lokal, hubungan anatar anggota masyarakat dan adat istiadatnya, bagaimana cara berbicara, apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan dan bagaimana bisa bekerjasama dengan saudara-saudara sepelayanan di tempat itu. Di samping itu, mereka juga perlu pembekalan firman Tuhan, apa yang perlu disampaikan dalam membawa jiwa-jiwa bagi Kristus. Mereka perlu juga pengetahuan tentang strategi pelayanan. Semua itu diperlukan. Tetapi apakah kunci utama keberhasilan PI adalah penyertaan Roh Kudus.

Mari kita renungkan hal ini, dari pengalaman jemaat mula-mula. Pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah dengan berani dan pada hari itu ada 3000 jiwa yang bertobat. Para petobat baru ini bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.

Apakah Petrus seorang pengkhotbah yang berpengalaman, seorang teolog yang handal atau hamba Tuhan yang sudah biasa mengabarkan Injil? Tidak! Pekerjaan Petrus sebelumnya adalah penjala ikan, termasuk lapisan masyarakat kelas bawah. Ia tidak pernah mengikuti pendidikan formal. Dari segi karakter, Petrus adalah seorang yang temperamental, emosional dan suka meledak-ledak. Contohnya, Pada saat penangkapan Yesus di taman Getsemane, Petrus mengayunkan pedangnya menetak daun telinga seorang hamba Imam Besar. Contoh lainnya, pada peristiwa penyaliban Yesus berkata, sebelum ayam berkokok Petrus akan menyangkal Yesus tiga kali, Petrus menjawab itu sama sekali tidak akan terjadi. Dalam kenyataannya, tiap kali orang berkata bahwa Petrus adalah pengikut Yesus, ia menyangkalnya. Dan ketika ia menyangkal untuk ketiga kali, ayam pun berkokok. Tergenapilah perkataan Yesus. Petrus menangis dengan hati yang hancur.

Dapatkah sebuah khotbah yang indah memenangkan 3000 jiwa keluar dari seorang dengan kualifikasi yang amat minim tersebut? Terus terang, tidak mungkin. Petrus bukan orang yang yang memiliki kualifikasi istimewa. Tetapi telah terjadi perubahan besar. Petrus sekarang bukan lagi Petrus yang dulu. Petrus yang memenangkan jiwa-jiwa adalah Petrus yang baru, Petrus yang semakin dewasa, Petrus yang bisa mengendalikan dirinya, Petrus yang sudah diurapi oleh Roh Kudus.

Yang memenangkan jiwa pada hari bersejarah itu adalah Kristus sendiri melalui Rohnya yang kudus. Bukan khotbah yang indah, tetapi campur tangan Kristus sendirilah yang menyelamatkan manusia. Petrus mewakili kita semua yang menganggap diri tidak berharga di hadapan Allah. Petrus mewakili kita yang tidak berpendidikan, Petrus mewakili kita yang emosional yang suka marah yang lemah  dalam pengendalian diri. Petrus mewakili kita semua yang merasa tidak memiliki kekuatan melayani Yesus.

Seperti Petrus mampu mengabarkan Injil, kita juga semua bisa dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan karena Ia mengurapi kita dengan Roh Kudus.

Dalam kesaksian tokoh iman, seorang hamba Tuhan terkenal, Charles Spurgeon dari Inggris dimenangkan oleh seorang tukang sepatu. Begini kisahnya. Hari minggu pertama tahun 1850, tidak seperti hari-hari lainnya, jalan-jalan ditutupi oleh salju yang tebal di kota London. Dalam udara dingin menembus tulang, seorang remaja usia 15 tahun berjalan dan masuk ke sebuah gereja kecil. Remaja itu adalah Charles Spurgeon muda. Ada kira-kira 10 orang di dalam dan beberapa waktu kemudian jumlahnya mencapai 20 orang. Pendeta tidak kunjung tiba, tampaknya terhalang oleh salju.

Para pengerja gereja berbisik-bisik seorang dengan lainnya melakukan konsultasi. Kalau kebaktian dibatalkan akan aneh sekali, apalagi itu minggu pertama di tahun yang baru. Akhirnya, mereka putuskan, seorang pengerja yang ternyata adalah tukang sepatu naik ke mimbar untuk berkhotbah. Khotbahnya diambil dari Yes. 45:22. Karena ia tidak ada persiapan,  ia sering mengulang-ulang ayat itu, dan sesudah 10 menit ia mengahiri khotbahnya. Pada saat-saat terakhir, ia mengarahkan pandangannya kepada Charles Spurgeon. Karena yang hadir tidak banyak ia tentu mengetahui Charles adalah seorang tamu di gerejanya. Ia berkata: ”Anak muda, engkau kelihatan menderita. Aku katakan kepadamu bahwa dalam hidup ini engkau menderita dan sesudah mati juga engkau menderita kecuali apabila engkau mau mendengarkan firman Tuhan tadi”. Charles Spurgeon tersentak. Ia mengakui dalam hati, ia memang menderita membutuhkan sesuatu yang bisa meneduhkan jiwanya. Tetapi, pernyataan keras di depan jemaat itu tidak menyenangkan hatinya.  ”Berpalinglah kepada Yesus anak muda, maka engkau akan diselamatkan, berpalinglah, berpalinglah, berpalinglah!”. Sesudah keluar dari gereja kecil itu, Charles  merasa hatinya diselimuti perasaan sukacita. Saat itulah ia memutuskan ikut Yesus. Remaja ini kelak menjadi seorang hamba Tuhan yang dipakai Allah dengan heran memenangkan ribuan jiwa di Inggris. Khotbahnya didengar dan dibaca oleh jutaan orang  di seluruh dunia sampai dengan sekarang ini. Bukan khotbah yang  indah dari seorang tukang sepatu yang memenangkan  Charles Spurgeon, tetapi oleh karena Yesus hadir dalam kebaktian itu.

Roh Kudus adalah kunci keberhasilan Pekabaran Injil. Dalam  Kis. 13,  sesudah jemaat berdoa dan berpuasa, Roh Kudus memerintahkan Paulus dan Barnabas memulai pelayanan PI. Roh Kudus menuntun dan mengarahkan mereka. Roh Kudus mencegah mereka memasuki daerah tertentu, mengarahkan mereka memasuki daerah lain. Pada suatu ketika Allah berbicara kepada Paulus melalui suatu penglihatan untuk merubah perjalanan perjalanan mereka  ke Makedonia, berbeda dengan tujuan mereka semula.

Roh Kudus tetap berkarya sepanjang zaman dalam PI. Kadang-kadang kita tidak habis pikir kenapa orang-orang yang begitu potensial di negerinya, yang bisa mendapatkan kehidupan baik berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan juga keberadaan keluarganya  memutuskan untuk melakukan kegiatan misi ke negeri asing yang berbahaya dimana nyawa menjadi taruhannya. Kekuatan manusia tidaklah mungkin melakukan hal tersebut kecuali apabila Roh Kudus yang sudah memanggil seseorang untuk ikut dalam pelayanan. Orang-orang seperti William Carey dan Adoniram Judson adalah beberapa orang saja dari begitu banyak penginjil yang sudah melayani di daerah asia ini.

William Carey mengabarkan Injil di India, Adoniram Judson melayani di Birma. Kehidupan mereka bukanlah kehidupan yang gampang, sakit penyakit, kehilangan isteri kesulitan akomodasi mereka hadapi namun mereka tidak mundur dari pelayanan itu. Dan oleh karena jasa mereka, Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lokal. Para penginjil datang ke Indonesia walau nyawa menjadi taruhannya. Nama Nomensen tidak mungkin dilupakan suku Batak, Penginjil ini mampu membawa nilai-nilai kristiani ke dalam suku batak yang sangat keras.

Penginjil-penginjil itu berangkat ke daerah pelayanan karena ada gereja-gereja atau organisasi misi yang mengutusnya. Pengutusan itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Roma 10:14-15, ”Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Injil artinya kabar baik. Pemberitaan Injil adalah sesuatu yang indah. Lewat pemberitaan ini manusia-manusia yang sedang berjalan ke neraka diselamatkan untuk memasuki Kerajaan Allah.

Berapa lamakah seorang penginjil tinggal di daerah yang dilayaninya? Ada beberapa versi. Penginjil-penginjil yang datang ke India, Burma dan juga ke Indonesia,  menghabiskan usia mereka di daerah pelayanan. Versi kedua, seperti pelayanan Rasul Paulus. Dalam tiga kali perjalanan misi yang dilakukannya, ia mendatangi banyak tempat di Asia Kecil bahkan sampai ke Eropah. Walaupun pelayannya tidak lama di suatu tempat, biasanya ia berhasil menetapkan pelayan atau pengerja yang melayani di daerah itu. Lantas bagaimana dengan Tim Pekabaran Injil yang kita kirimkan pada masa kini? Katakanlah, sebuah tim  dibentuk untuk melayani ke suatu daerah selama satu bulan. Tim ini akan berangkat  mengabarkan Injil, mengadakan  Kebaktian Kebangunan Rohani, mengadakan Kebaktian Penyembuhan dan kemudian mereka pulang kembali. Kalau Tim Pekabaran Injil ini bekerjasama dengan saudara-saudara sepelayanan di daerah yang diinjili maka follow-up atau kelanjutan pelayanan ini akan diteruskan oleh tim lokal.

Apakah pengiriman tim untuk waktu singkat itu tadi efektif dalam Pekabaran Injil? Pada masa pelayanan Yesus di bumi ini, ia  mengutus murid-mudrid-Nya ber-PI. Ia membentuk beberapa tim, satu tim terdiri dari dua orang dan mereka berangkat mengabarkan Injil. Ini adalah semacam pendidikan dan latihan yang diberikan Yesus bagi para murid. Manfaat pengiriman tim untuk jangka pendek lebih bersifat pendidikan latihan, untuk memahami lebih baik lagi  kegiatan PI atau untuk mengawali kegiatan PI jangka panjang di suatu daerah tertentu.  Kegiatan PI yang kita harapkan tentulah kegiatan yang mampu mewujudkan sebuah jemaat lokal yang lengkap dengan pelayan-pelayan, tiang-tiang iman yang melayani sehari-hari. Tentu dibutuhkan waktu yang lama. Itu sebabnya, kita cenderung berpendapat, seorang penginjil perlu tinggal untuk waktu yang lama di daerah yang dilayaninya.

Ada sebuah ganjalan mental dalam kegiatan PI, yaitu anggapan dibutuhkan dana yang besar. Betul, untuk mengirimkan parapenginjil dibutuhkan  dana yang cukup. Dalam kondisi yang ideal, artinya seturut dengan firman Tuhan, dana sebenarnya tidak boleh menjadi ganjalan bagi PI. Tuhan Yesus sewaktu mengutus murid-murid untuk ber-PI, mengatakan bahwa mereka tidak perlu membawa uang, perlengkapan tidak lebih dari apa yang mereka pakai di tubuh mereka. Artinya, Tuhan sendiri yang akan mencukupkan kebutuhan mereka dalam daerah pelayanan. Kalau kita memiliki iman seperti ini, ketersediaan dana tidak lagi merupakan ganjalan. Ketika ada sebuah tekad mengadakan PI,  dana  akan Tuhan cukupkan.

Di GIKI kita punya pengalaman yang menarik. Ketika mengutus tim pekabaran Injil, kita pernah  melakukan persiapan-persiapan, latihan dan pembekalan. Tim yang diutus itu melakukan pekerjaan mereka dalam jangka waktu pendek. Namun, misi seperti ini belum pernah berhasil membentuk sebuah jemaat baru. Sebaliknya, ada kegiatan PI tanpa dana, tanpa pembekalan dan tanpa pelatihan yang berhasil mewujudkan jemaat baru. Ada beberapa orang jemaat kita yang meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampungnya masing-masing karena alasan ekonomi atau alasan keluarga. Ini alasan resmi, tetapi alasan yang sebenarnya, Yesus mengutus mereka sebagai pemberita Injil. Setiba di kampung, mereka mulai mengadakan persekutuan kristiani yang kecil. Tuhan memberkati persekutuan ini semakin besar dan semakin besar dan akhirnya berubah menjadi jemaat mandiri. Ada anggota  jemaat kita yang pindah ke kampung, sebelumnya tidak memiliki pengetahuan memadai tentang firman Tuhan. Ia belajar sambil melayani. Siapakah sebenarnya yang mengutus mereka? Bukan gereja kita, bukan organisasi kita, tetapi Yesus Kristus sendiri melalui Roh-Nya yang kudus  yang mengutus mereka, memimpin perjalanan mereka.

Tentang jiwa-jiwa yang dimenangkan, berapa orangkah target jumlah jiwa yang akan dimenangkan oleh tim PI bagi Kristus?  Ada yang berpendapat, perlu diberikan target bagi penginjil. Tentang hal ini, kita cenderung berpendapat, dalam PI tidak perlu ditetapkan target tertentu. Yang penting kita melayani sebaik-baiknya. Sewaktu Petrus berkhotbah, ada 3000 jiwa yang bertobat, sungguh suatu karya Roh Kudus yang luar biasa. Tetapi dalam kasus lain, Roh Kudus berkarya dengan cara yang lain.  Pelayanan William Carey memenangkan satu jiwa orang India sesudah 7 tahun. Beliau tiba di India tahun 1793 dan orang India pertama yang bertobat baru terjadi dalam tahun 1800. Demikian juga dengan Adoniram Judson di Birma. Ia tiba di Birma  tahun 1813 dan orang Burma pertama yang bertobat terjadi pada tahun 1819. Diperlukan waktu 6 tahun untuk memenangkan satu jiwa. Suksesnya PI bukan terletak dalam jumlah orang yang dimenangkan, itu semua urusan Tuhan. Yang penting, kita mengabarkan Injil dengan setia.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Pelayanan yang berhasil

Ibrani 12 : 1-3

 Judul tulisan ini jelas artinya, siapakah yang tidak ingin pelayanannya berhasil, tetapi harus kita akui adakalanya kita jenuh dalam pelayanan. Kadang-kadang kita bertanya, apakah kita harus mencari  pelayanan yang lain?  Barangkali sesudah lama melayani tampaknya pelayanan itu tidak membuahkan hasil, sehingga kita ragu, bimbang, apakah benar ini pelayanan yang diberikan Tuhan Yesus bagi kita?

Bacaan firman Tuhan hari ini kiranya dapat memberi pencerahan dan jawaban.  Banyak orang awam menganggap penulis kitab Ibrani adalah Paulus, tetapi sebagian ahli Alkitab tidak sependapat karena  kitab Ibrani dikirimkan untuk orang-orang Yahudi, sedangkan Paulus mengatakan bahwa ia adalah Rasul untuk bangsa-bangsa di luar Yahudi. Lagipula Rasul Paulus menulis surat-suratnya dengan menyebut namanya sendiri, bukan sebuah surat anonim. Disamping itu,  gaya bahasa tulisan-tulisan Paulus berbeda dengan gaya bahasa penulis kitab Ibrani.

Dari isi kitab Ibrani, kita dapat memperkirakan bahwa penulisnya adalah ahli teologi PL, menguasai hukum taurat, tetapi sudah lahir baru, sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat nya. Ia memahami dengan baik arti keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Siapapun penulisnya, yang jelas kitab Ibrani ditulis untuk memilihara iman orang-orang percaya pada masa itu, pada masa kesukaran dimana sedang terjadi diaspora, pengikut-pengikut Kristus dianiaya sehingga mereka menyebar ke berbagai tempat dan berbagai negara.

Kitab Ibrani memberi pertolongan di kala iman kita lemah, bukan hanya untuk orang-orang percaya pada zaman dulu tetapi juga bagi kita pelayan-pelayan Kristus pada masa kini.

Tadi dikatakan,  adakalanya pelayan Tuhan merasa jenuh, merasa lemah di dalam iman. Dalam saat-saat seperti ini lah kitab Ibrani memberikan kita kekuatan, inspirasi suatu kesegaran baru.

Ada empat hal yang dapat kita pelajari dari  dari pembacaan firman Tuhan di atas.

Pertama, dari ayat 1 bagian terakhir penulis Ibrani mengatakan,  “bahwa hidup pelayanan kita ibarat sebuah perlombaan”. Pada masa kitab Ibrani ditulis, perlombaan populer di kekaisaran Romawi adalah lomba lari marathon. Lomba lari marathon adalah lomba lari jarak jauh, bukan lari jarak pendek.

Ada perbedaan lomba lari jarak pendek, katakanlah lari 100 M dengan lari jarak jauh yang barangkali 5 KM atau lebih. Dalam lari jarak pendek yang di pentingkan adalah kecepatan awal, sehingga pelari perlu berlari secepat-cepatnya pada awal perlombaan. Dalam lari jarak jauh, yang jadi masalah utama adalah daya tahan.  Untuk lari jarak jauh ada 2 tahap kritis, berbeda dengan lari jarak pendek seorang pelari jarak jauh tidak bisa lari sekencang- kencangnya pada bagian awal karena nanti. tenaganya habis terkuras pada bagian awal sehingga mengurangi daya tahan menyelesaikan perlombaan itu sampai selesai. Ibaratnya seorang yang ikut Tuhan Yesus begitu bersukacita, begitu bergembira awalnya, tetapi karena tidak bertumbuh diatas tanah yang tebal, maka pada waktu datang pergumulan ia tarik kiri. Tahap kritis yang kedua, terjadi ketika pelari marathon itu sudah menempuh setengah jalan, merasa capek sehingga mudah tergoda untuk berhenti, tidak melanjutkan lagi. Kalau kedua bagian itu sudah di lewati kemungkinan besar pelari itu akan bisa menyelesaikan perlombaan sampai tahap akhir.

Kedua, pelayanan adalah seperti perlombaan, dan dalam sebuah perlombaan tentunya ada penonton. Penulis Ibrani mengatakan: “Ada banyak saksi yang mengelilingi kita”. Siapakah saksi-saksi yang dimaksudkan oleh penulis Ibrani?. Tampaknya  berhubungan dengan pasal 11, pasal yang khusus berbicara tentang saksi-saksi iman. Ada banyak tokoh-tokoh iman yang disebutkan disana.

Sorak-sorai penonton dalam sebuah perlombaan menambah semangat, khususnya dalam lomba lari jarak jauh. Seorang pelari membutuhkan dukungan terutama pada bagian pertengahan, pada saat ia merasa begitu capek dan lelah.

Saksi-saksi iman itu seolah-olah berbicara secara langsung kepada kita. Adakalanya kita merasa sudah terlalu lama pelayanan ini. “Aku sudah melayani 5 tahun, tetapi tidak ada hasil apa-apa, aku bingung Tuhan mengarahkan aku kemana sekarang ini”. Pada waktu kita tidak sabar menunggu hasil pelayanan, mungkin kita mendengar seorang saksi ima, Nabi Nuh,  seolah berkata: “Anakku engkau katakan, engkau sudah menunggu 5 tahun, aku membutuhkan waktu 120 tahun untuk membangun bahtera itu, aku diejek, dipermalukan oleh masyarakat di sekitar ku, mereka tidak percaya bahwa kesudahannya sudah semakin dekat”.

Apabila pada suatu waktu kita merasa kehidupan kita ini galau, segala sesuatu seperti tidak menentu, kita berada di titik yang paling bawah dalam pelayanan,  saksi iman Abraham mungkin berkata: “Jangan ikut apa kata dunia, jangan lihat apa yang ada di depan matamu, tetapi percaya saja pada apa yang di katakan Tuhan”.  Abraham  menunggu lama janji Tuhan untuk menerima berkat anugerah. Kehadiran Ishak anak perjanjian di dalam kehidupan rumah tangganya, anak yang sangat di kasihi nya ini, diminta oleh Tuhan untuk di persembahkan sebagai korban di gunung Moria.  Betapa galau nya bapa Abraham sewaktu menerima perintah Tuhan itu, tetapi ia punya iman, ia berpikir dalam hatinya: “Kalau Tuhan memintanya, tentu Ia juga nanti bisa menghidupkannya”. Ia tetap berjalan dalam iman. Kehidupan kita pada suatu waktu, bisa juga berjalan berlawanan dengan apa yang kita harapkan, ada angin ribut dalam kehidupan, dalam pelayanan, tetapi ikuti Abraham, percaya hanya  pada janji firman Tuhan.

Barangkali kita merasa diperlakukan tidak adil. Saksi iman, Yusuf mungkin berkata: “Aku mau dibunuh oleh saudara-saudara ku, dimasukkan ke dalam lobang sumur yang dalam, aku menjadi budak di tanah Mesir. Pada waktu Tuhan, mengangkat aku menjadi Perdana Menteri yang menguasai peredaran uang, dan bahan makanan, serta gerak-gerik manusia, aku tetap mengampuni saudara-saudara ku”.

Pada waktu Yusuf diangkat Tuhan menjadi Perdana Menteri di Mesir, ia tetap Yusuf yang dulu, Yusuf yang setia, Yusuf yang percaya kepada Allah, Yusuf yang bisa mengampuni saudara-saudaranya.

Ketiga,  penulis Ibrani mengatakan: “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang di wajibkan bagi kita”. Penulis Ibrani menasihati kita untuk menanggalkan semua beban yang sedang kita pikul. Orang yang hidup di negeri yang punya musim dingin, waktu salju lagi tebal,  memakai pakaian musim dingin dengan jaket, mantel, sarung tangan dan topi, sehingga bagian tubuh yang tampak hanya mata, hidung dan bibir saja. Dengan pakaian seperti itu, seorang tidak mungkin bisa berlari. Supaya kita bisa berlari kita perlu menggunakan pakaian seringkas mungkin, celana pendek, baju kaos, dan sepatu karet.

Tanggalkan beban sehingga kita bisa mengikuti perlombaan. Ketika Zakeus bertemu dengan Yesus ia bertobat. Dalam ucapan pertobatannya ia mengatakan: “Kalau ada orang yang sudah kuperas aku akan menggantinya empat kali lipat “. Ini adalah beban Zakeus yang dirasakan nya selama ini. Ia memang punya harta banyak, tetapi bebannya berat. Ketika ia mengutarakannya kepada Yesus,  beban itu jadi  ringan. Apa yang menjadi  beban kita dalam kehidupan ini? Apakah ada dosa?. Mungkin orang lain tidak tahu, tetapi kita tahu dan tentu saja Tuhan mengetahuinya.

Apabila kita ingin mengikuti perlombaan iman ini, tanggalkan dosa itu. Barangkali ada kebiasaan yang bukan dosa, tetapi menyita banyak waktu, sehingga kita tidak punya waktu lagi untuk Tuhan. Tanggalkan beban itu. Kalau internet ria membuat kita tidak bisa ikut kebaktian Minggu, tinggalkan internet itu. Kalau kita kecanduan cari uang sehingga tidak ada waktu ikut persekutuan dan ibadah hari Minggu kurangi usaha cari uang.

Kita tidak membawa suatu apa ke dunia ini, dan kitai tidak akan membawa apa-apa ketika kembali ke rumah Bapa di Sorga.

Keempat atau yang terakhir, ayat terakhir dari firman Tuhan yang kita baca yaitu “mata yang tertuju kepada Yesus”. Penulis Ibrani mengatakan dua kali,  dalam ayat 2 dan  ayat  3, kenapa kita perlu memandang Yesus. Pada bagian terakhir ayat 3 dikatakan,  “supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa”, sekali lagi, “supaya kita tidak lemah dan putus asa pandang Yesus”. Adakalanya pelayanan begitu berat, banyak masalah, mungkin kita berkata:  “Aku berhenti melayani, aku cari pelayanan yang lebih menyenangkan”. Dalam keadaan seperti inilah penulis Ibrani mengatakan  “pandang Yesus, lihat Yesus”.  Dalam perjalanan Umat Israel dari Mesir ke tanah perjanjian, umat Israel sering bersungut-sungut,  oleh karena itu Allah menghukum mereka, mengirimkan ular-ular tedung mematuk mereka sehingga banyak yang mati.

Pada waktu mereka mendatangi Musa minta petunjuk apa yang harus dilakukan, Musa minta petunjuk Allah, dan Allah mengatakan: “Buatlah patung Ular dari tembaga dan pancangkan di tiang”. Setiap orang yang sudah terluka dan melihat ke tiang itu ia akan disembuhkan.

Dalam Yoh. 3:14-15, tertulis ayat-ayat persamaannya:  “Siapa yang memandang Yesus, yang ditinggikan itu memperoleh hidup yang kekal”. Dalam kehidupan orang percaya ,memandang Yesus lebih dari hanya sekedar bertatap muka dengan Yesus, Yesus adalah bagian dari kehidupan kita.

Yesus berdiam dalam diri kita di dalam Roh-Nya yang kudus. Memandang Yesus tidak lagi berarti pandang-memandang dalam jarak yang jauh, tetapi kita memandang Yesus bertemu muka dengan muka, kita berjalan bersama. Inilah makna dari memandang Yesus bagi orang yang sudah percaya. Kita mungkin pernah menyanyikan  lagu “Yesus adalah sobat setia”. Benar sekali ungkapan itu. Ketika penjahat di kayu salib mengatakan: ”Kalau engkau kembali sebagai Raja ingat aku Yesus”, Yesus berkata kepadanya: “sesungguhnya sebentar lagi kita akan bersama, saya dengan engkau berada di Firdaus”. Yesus adalah sobat setia. Di dunia ini kita bersama Yesus, di kerajaan kekal kita bersama Yesus. Adakah persahabatan yang lebih indah dari itu?

Yesus sobat setia, Yesus mengerti masalah yang kita hadapi, bahkan Ia mengerti bahasa tetesan air Mata. Ketika Yesus bertemu dengan Maria dan Marta ia menangis, mereka menangis bersama-sama, karena Lazarus sudah meninggal dunia. Sungguh mengherankan mendengar Yesus menangis. Yesus adalah Tuhan, Ia mengetahui bahwa Lazarus sebentar lagi akan Ia bangkitkan, Lazarus akan hidup kembali, tetapi kenapa Ia menangis? Karena Ia berbagi rasa, Ia mengerti akan arti duka, Ia bersimpati dengan Maria dan Marta. Ia mau berbagi rasa, menangis dengan orang yang menangis,  Yesus mengerti bahasa air mata. Maz 51 : 19 berkata: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”.

Apakah hati kita sedang patah dan remuk, merasa jiwa sedang hancur?. Yesus peduli, Ia mengerti apa artinya penderitaan dan duka, Ia sendiri sudah merasakan penderitaan itu. Kita barangkali mengatakan: “Aku tidak layak untuk ikut Yesus, dosa ku begitu besar, hidup ku begitu berat”, Yesus berkata: “Aku bukan datang untuk orang sehat, tetapi untuk orang yang sakit”.

Kalau kita ingin berhenti meninggalkan pelayanan, pandang Yesus!.

Ada sebuah cerita tradisi tentang Simon Petrus pada akhir masa hidupnya. Ia tinggal di Roma pada masa pemerintahan kaisar Nero yang kejam, orang-orang Kristen dianiaya. Jemaat di Roma meminta agar Rasul Petrus meninggalkan kota itu. Di tengah perjalanan,  Petrus bertemu dengan Yesus dan bertanya: “Hendak kemana engkau Tuhan?”, Yesus berkata: “Aku menuju kota Roma untuk disalibkan kembali”. Penampakan Yesus menyadarkan Petrus bahwa ia telah meninggalkan pelayanan dan segera ia balik arah pulang kembali ke Roma dimana kaisar Nero menyalibkannya. Menurut cerita tradisi Rasul Petrus meminta agar ia tidak disalibkan dengan kepala ke atas karena baginya itu terlalu terhormat disamakan dengan Yesus, Tuhan dan Rajanya. Ia meminta untuk disalibkan dengan kepala ke bawah.

Apabila pada waktu ini kita punya pikiran meninggalkan pelayanan, renungkanlah pertemuan Petrus dengan Yesus. Apakah kita ingin menyalibkan Yesus untuk ke dua kalinya?  Pandang Yesus dan  kembali ke dalam pelayanan. Ia akan menguatkan kita, memberikan kemampuan ekstra untuk mengatasi pergumulan betapapun beratnya.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI