Tag Archives: Alkitab

Menyampaikan dan Menafsirkan Firman Tuhan

Ada tiga metode menyampaikan firman Tuhan, pertama, metode tekstual yaitu penyampaian firman Tuhan berdasarkan beberapa ayat firman Tuhan (bisa satu ayat saja) dan kemudian merenungkan, menyelidiki melihat kebenaran dan pesan-pesan yang terdapat didalamnya. Kedua, metode topikal, penyampaian firman Tuhan berdasarkan satu topik tertentu, menyelidiki firman Tuhan yang berhubungan dengan topik, merenungkan dan menyampaikan kebenaran dan pesan-pesan yang terdapat didalamnya. Ketiga, metode ekspositori, usaha penyampaian firman Tuhan sesuai dengan yang dimaksudkan oleh penulisnya. Firman Tuhan direnungkan ayat demi ayat dan boleh juga perikop demi perikop dan pasal demi pasal.

Firman Tuhan yang disampaikan oleh seorang pengkhotbah, tentu saja berisi pemahamannya tentang teks, topik dan ayat-ayat Alkitab. Dengan perkataan lain, pengkhotbah menyampaikan tafsirannya tentang firman Tuhan. Menjadi pertanyaan, apakah tafsiran yang disampaikannya sesuai dengan maksud penulisnya?

Dari 2Tim 3:16 dan 2Pet 1:20-21 dapat  kita pahami bahwa penulis Alkitab mendapat inspirasi atau pengilhaman dari Roh Kudus. Demikian pula penafsiran Alkitab terbaik dilakukan oleh orang yang didiami oleh Roh Kudus. Dalam kaitan ini, penafsir perlu berhati-hati untuk tidak dimasuki oleh roh iblis sehingga apa yang dianggapnya adalah tafsiran berdasarkan tuntunan Roh Kudus sebenarnya sudah disusupi oleh roh iblis sehingga dapat memunculkan pandangan-pandangan menyimpang bahkan ajaran-ajaran sesat. Untuk mencegah terjadinya hal ini, menelah firman Tuhan seperti tertulis di Alkitab, tidak dapat diabaikan (berhati-hati, jangan gampang mengatakan “Tuhan berbicara kepadaku”, atau “Roh Kudus memberitahukan kepadaku”, tetapi check-recheck dengan firman Tuhan dalam Alkitab)

Dalam menafsirkan firman Tuhan, kita perlu mengingat, penulis-penulis Alkitab hidup dalam zaman, budaya, tingkat peradaban dan wilayah geografis yang berbeda-beda. Untuk mengetahui dengan baik apa yang dimaksudkan oleh Alkitab, para penafsir perlu memahami latar belakang masing-masing penulisnya,  memahami hermeneutika, yaitu prinsip-prinsip penafsiran Alkitab,  dan penerapannya dalam praktik (eksegese).

Prinsip-prinsip penafsiran Alkitab:

  1. Analisa kontekstual,  suatu kata/ayat harus dipahami dalam kaitan dengan ayat/perikop/pasal yang lain. Dengan kata lain, seorang penafsir tidak boleh mengambil ayat sembarangan.
  2. Analisa kata dan tata bahasa. Memerlukan pengetahuan yang baik terhadap bahasa asli Alkitab (bahasa Ibrani untuk Perjanjian Lama, dan bahasa Yunani untuk Perjanjian Baru). Sebagai alternatif, kita dapat membandingkan ayat-ayat firman Tuhan yang sedang kita pelajari menggunakan beberapa versi Alkitab, bahasa Indonesia, bahasa daerah atau versi-versi bahasa asing misalnya Bahasa Inggris terutama King James Version (KJV) yang terjemahannya dilakukan secara lateral, kata demi kata.
  3. Penafsiran sejarah dan sosial budaya pada waktu bagian Alkitab itu ditulis.
  4. Penafsiran  bahwa seluruh Alkitab adalah karya Allah, sehingga saling menjelaskan dan tidak ada bagian-bagian yang berkontradiksi. Penafsiran suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain.

Kita perlu mengingat pula, dalam Yoh. 1:14 tertulis bahwa Yesus Kristus adalah firman yang telah menjadi daging dan di sisi lain  Roh Kudus disebut juga sebagai Roh Yesus (Kis. 16:7, Fil. 1:19). Dengan demikian, penafsiran berdasarkan firman Tuhan dalam Alkitab yang diterangi oleh Roh Kudus, adalah penafsiran yang memiliki kuasa mengubah hidup baik penafsir maupun  pendengar atau pembacanya.

Siapa pun dapat membaca Alkitab, tetapi tanpa penerangan dari Roh Kudus, renungan itu sama saja dengan renungan populer yang mungkin menarik tetapi tidak mempunyai kuasa untuk mengubah hidup pendengarnya. Hanya Roh Kudus yang dapat “menghidupkan” isi Alkitab dan mencelikkan mata hati tentang peristiwa-peristiwa rohani terutama tentang keselamatn di dalam Yesus Kristus.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Ringkasan Isi Alkitab

Kalau kita diminta menuliskan ringkasan Alkitab yang berisi 39 kitab PL dan 27 kitab PB dalam dua atau tiga halaman, apa yang akan kita tuliskan?

Kita dapat  memulainya dengan ayat pembuka Alkitab, Kej. 1:1, Allah menciptakan manusia untuk menjadi mitra-Nya mengelola dunia ini. Allah ingin manusia menikmati berkat-berkat yang disediakan Tuhan, hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera. Itu adalah tujuan penciptaan. Nenek moyang kita yang pertama, Adam dan Hawa menikmati hidup berkelimpahan di Taman Eden. Inilah bagian pertama yang penuh sukacita dalam awal sejarah manusia.

Bagian kedua terjadi ketika Iblis berhasil menggoda Hawa untuk memakan buah larangan di Taman Eden  dan nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa. Hubungan Allah dengan manusia menjadi renggang, Allah Maha Kudus tidak dapat bersatu dengan manusia berdosa. Adam dan Hawa harus meninggalkan Taman Eden, tempat yang penuh berkat, menjalani hidup keseharian dengan berpeluh, dengan bersusah payah.

Bagian ketiga dimulai, Allah segera melakukan karya penyelamatan, Ia menubuatkan keturunan Adam dan Hawa akan meremukkan kepala si iblis. Nubuat ini tergenapi dengan kehadiran Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, disalib di golgota sebagai korban penebus dosa manusia.

Manusia berkembang, bertambah jumlahnya, tetapi dosa semakin merasuki kehidupan manusia. Pada suatu waktu, Allah memusnahkan umat manusia dengan air bah, kecuali empat pasang keluarga Nuh dengan anak-menantunya. Ibarat menulis di atas kertas yang sudah kotor,  sudah banyak coreng-morengnya, Allah memutuskan untuk menulis kembali di sebuah kertas putih yang baru. Tetapi sejak bencana air bah itu, Allah berjanji tidak akan menghukum manusia dengan cara yang sama. Allah mengirim utusan-utusan-Nya para Nabi untuk menyampaikan nasihat-nasihat dan ajaran yang baik. Apabila manusia menurut nasihat dan ajaran  yang disampaikan oleh Allah maka manusia itu akan hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera.

Allah bermaksud membentuk suatu umat yang akan dipimpin dan diberkatinya dalam kehidupan, dengan memanggil seorang manusia bernama Abraham keluar dari sanak saudaranya di Tanah Haran, berangkat ke negeri yang ditunjukkan oleh Allah. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan dua anak kembar, Esau dan Yakub. Yakub memperanakkan 12 anak laki-laki yang merupakan bapa dari 12 suku bangsa Israel.

Yakub dan keluarganya ternyata tidak pernah terbebas dari dosa. Saudara-saudaranya menjual Yusuf, anak yang dikasihi Yakub, menjadi budak di tanah Mesir. Yusuf diangkat Tuhan menjadi Perdana Menteri di tanah Mesir, menyelamatkan bangsa Mesir dan penduduk yang tinggal disekitarnya dari kelaparan ketika terjadi masa kekeringan yang sangat panjang. Yusuf menyelamatkan Yakub dan saudara-saudaranya, dan membawa mereka pindah ke tanah Mesir.

Dalam beberapa generasi, umat Israel beranak pinak dan bertambah jumlahnya di tanah Mesir.  Firaun yang berkuasa tidak mengingat lagi tentang Yusuf dan umat Israel bekerja sebagai budak di tanah Mesir. Allah berbelas kasihan, mendengarkan tangisan dan teriakan umat-Nya, membebaskan mereka dari perbudakan. Ia memilih dan menetapkan Musa sebagai pemimpin mereka.

Dalam perjalanan dari tanah perbudakan di tanah Mesir ke Tanah Perjanjian, di Gunung Sinai, Allah memberikan kepada Musa dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah yang merupakan rambu-rambu agar umat pilihan Allah mengetahui apa yang baik, apa yang salah, apa yang benar dan apa yang berdosa.

Dalam perjalanan umat Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian selama 40 tahun, banyak mujizat terjadi dalam perjalanan itu. Umat Israel melihat kemuliaan Alllah dalam berbagai peristiwa. Allah memberi manna dan burung puyuh sebagai makanan mereka. Allah menyediakan tiang awan untuk memelihara mereka dari terik matahari. Allah menyediakan tiang api agar mereka tidak kedinginan di malam hari. Tetapi Umat Israel  tetap bersungut-sungut mendukakan hati Allah.

Kebaikan Allah tidak diresponi dengan baik oleh Umat Israel  Namun demikian,  Allah terus berkarya menyampaikan firman Tuhan dengan perantaraan para nabi. Umat Israel yang disebut Allah sebagai bangsa yang tegar tengkuk tidak menuruti nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Allah.

Nasihat dan ajaran betapa  baiknya pun bahkan yang disampaikan oleh Allah sendiri tidak dituruti oleh manusia. Inilah penyebab dari segala kekacauan yang terjadi di dunia sampai sekarang ini.

Bukan karena hukum, bukan karena firman Allah tidak ada tetapi karena manusia tidak mampu menuruti nasihat, ajaran atau firman Allah.

Maleakhi adalah kitab terakhir Perjanjian Lama. Sesudah itu untuk masa yang panjang sekitar 400 tahun, Tuhan berdiam diri, tidak ada lagi nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Apakah Allah berhenti berkarya bagi keselamatan umat manusia. Tidak, Allah tetap berkarya. Ada karya agung yang disiapkan-Nya, yaitu, Ia sendiri datang secara pribadi menemui umat-Nya, menemui manusia. Ia menjadi manusia di dalam Yesus Kristus.

Allah mengetahui manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Allah di dalam Yesus Kristus meninggalkan kemuliaan Sorga dan hidup sebagai manusia yang hina . Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan akan diselamatkan. Kita akan berbicara lebih jauh tentang keselamatan ini dalam renungan yang akan datang.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Mengenal Alkitab

Manusia tidak dapat mengenal Allah kalau bukan Ia sendiri yang memperkenalkan dirinya. Ia memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, pertama, melalui ciptaan-Nya di alam semesta ini, kedua, melalui Alkitab yang berisi tulisan-tulisan yang diinspirasikan Allah. Ketiga, pada zaman akhir Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai manusia di dalam anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Keempat,  dalam zaman anugerah ini, Tuhan bergaul akrab dengan  orang percaya karena Ia tinggal di dalam diri orang tersebut, di dalam Roh-Nya Yang Kudus.

Alkitab adalah sumber tulisan yang kaya untuk mengenal Tuhan. Alkitab berisi suara hati, perasaan, pandangan dan pikiran Tuhan tentang segala sesuatu di alam semesta ini, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, khususnya tentang hubungan-Nya dengan manusia ciptaan-Nya. Dengan demikian, kita dapat mengenal Tuhan lebih baik, mengenal Yesus lebih baik, apabila kita mau mempelajari sehingga memahami Alkitab lebih baik.

Bagaimana proses penulisan Alkitab? Pada masa kini, kita dapat menulis di atas kertas dengan pensil. Bila ada salah tulis, kita bisa menghilangkannya dengan karet penghapus dan menulis perbaikannya. Atau, kita bisa mencoret-coret di sana sini. Sesudah dianggap cukup baik, kita salin kembali pada lembaran kertas baru. Revisi tulisan lima sampai sepuluh kali, sampai penulis puas, tidak menjadi masalah karena harga kertas, pensil dan penghapus cukup murah. Apalagi sekarang ini, semakin banyak orang menulis program pengolah kata di komputer. Penulisan, penghapusan, penambahan dan pergeseran kata, kalimat dan paragrap sangat mudah dilakukan.

Sangat berbeda keadaan sekarang dengan keadaan zaman dulu, pada waktu Alkitab ditulis. Belum ada kertas tulis dan komputer pengolah kata. Pada umumnya, naskah Alkitab  ditulis di atas papirus atau kulit binatang yang diolah sehingga bisa ditulis.  Papirus ialah “kertas” yang dibuat dari pohon mirip pohon bengkuang, bahan pembuat tikar di negeri kita, tumbuh di delta sungai Nil di Mesir. Bahan kertas papirus diambil dari bagian dalam pohonnya dan dipotong-potong dalam bentuk pita, diproses menjadi lembaran yang bisa ditulis. Nama Yunaninya adalah  papuros (kata kedua Yunani yang sama artinya adalah bublos, akar kata dari bible dalam bahasa Inggris sedangkan papuros adalah akar kata dari “paper” dalam bahasa Inggris). “Kertas” dari kulit binatang  disebut perkamen (parchment) atau “kertas kulit”, lebih tahan lama, namun lebih mahal harganya. Perkamen dibuat dari kulit domba, anak domba, kambing dan anak lembu.

Coba kita bayangkan bagaimana naskah asli Alkitab ditulis. Hamba Tuhan (seperti nabi dan rasul) yang memperoleh wahyu atau inspirasi dari Roh Kudus menulis firman Tuhan dengan tangannya sendiri atau dituliskan oleh pengikutnya. Tidak ada ruang untuk perbaikan redaksional seperti kita miliki bila menulis dengan komputer. Kesalahan-kesalahan menulis atau mengucapkan kalimat akan berakibat pada penggantian kertas papirus atau perkamen yang mahal. Tetapi, sungguh mengagumkan, merupakan suatu mujizat melihat keindahan tulisan-tulisan dalam Alkitab. Tulisan itu bersinambung secara utuh dan mengungkapkan makna sesuai dengan yang diinginkan Tuhan. Keindahan dan ketelitian seperti itu barangkali memerlukan editing 10 sampai dengan 20 kali pada masa kita sekarang, tetapi dalam penulisan naskah asli Alkitab tampaknya tanpa editing sama sekali. Pengucapan dan penulisannya seperti air yang mengalir. Hal ini hanya bisa terjadi karena Roh Kudus lah yang sebenarnya berkarya pada penulisan naskah asli Alkitab itu.

Hal lain yang perlu kita pahami, penulisan naskah asli Alkitab itu, adalah ibarat seorang pemuda menulis surat cinta berpuluh halaman pada kekasihnya. Surat itu tidak memakai pasal, sub-pasal dan nomer ayat. Seperti dikatakan tadi, tulisan itu seperti air yang mengalir. Alkitab tanpa pembagian pasal atau sub-pasal (perikop) atau nomer ayat menimbulkan kesulitan dalam mengkomunikasikannya. Bagaimana kita meminta jemaat membaca bagian firman tertentu tanpa pasal dan nomer ayat? Oleh karena itu, beberapa orang bapa gereja dan akhli Alkitab membagi-bagi kitab dalam Alkitab atas pasal dan nomer ayat, bahkan memberi judul pada sebagian besar pasal atau sub-pasal (perikop). Tetapi perlu kita ingat, pembagian dan pemberian judul dan penomeran ayat bukan termasuk yang diwahyukan Allah kepada penulisnya.

Kitab-kitab yang paling pendek terdiri dari 1 pasal saja, yaitu ada lima: Kitab Obaja, Surat Filemon, Surat 2 Yohanes, Surat 3 Yohanes, dan Surat Yudas; sedangkan yang paling panjang 150 pasal: Kitab Mazmur. Masing-masing pasal dibagi menjadi sejumlah ayat. Yang paling sedikit 2 ayat: Mazmur 117; dan yang paling banyak 176 ayat: Mazmur 119.  Selain itu setiap terjemahan Alkitab memiliki bagian sub-pasal yang disebut dengan perikop, yaitu yang membahas suatu topik tertentu. Pembagian-pembagian ini bukan merupakan bagian isi Alkitab yang sebenarnya, melainkan hanya sebagai alat bantu untuk memudahkan pembacaan atau pencarian kembali suatu pembacaan bagian tertentu.

Mungkin, dengan maksud tidak mempengaruhi apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulisnya, Alkitab Bahasa Inggris versi King James (KJV), tidak menulis judul pasal kecuali dalam kitab Mazmur. Dalam kitab Mazmur, sebagian besar pasalnya dalam KJV diberi judul yang sama dengan ayat pertama pasal tersebut. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia, judul pasal tersebut menjadi ayat pertama, judul diberikan tersendiri. Jadi jumlah ayat Mazmur bahasa Indonesia lebih banyak dari jumlah ayat Mazmur Bahasa Inggris. Pasal-pasal Kitab mazmur adalah kumpulan nyanyian atau puisi yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan lainnya.

Kitab-kitab zaman dahulu kala memiliki dua macam bentuk, bentuk gulungan dan bentuk “kodeks” (Codex). Yang berbentuk “gulungan”  dijahit atau dilekatkan satu sama lain pada ujungnya, sehingga terbentuk helai “kertas” yang panjang, kadang-kadang mencapai beberapa meter. Kodeks adalah buku mirip bentuk buku zaman sekarang, halaman demi halaman ditumpuk satu dengan lainnya, mulai digunakan sejak abad ke-2 sesudah masehi. Naskah-naskah PL maupun PB yang ada sekarang ini adalah salinan dari naskah-naskah asli, atau mungkin salinan dari salinan. Hal ini dapat dipahami karena bahan yang dipakai ialah papirus yang rapuh dan menjadi lapuk dalam waktu yang panjang.  Berabad-abad lamanya Kitab Suci disalin dengan tangan. Buku lama diganti dengan yang baru.

Bagaimanakah proses penulisan Akitab? Umumnya nabi-nabi tidak menuliskannya, mereka menyampaikan langsung kepada umst atau jemaat. Murid-murid nabi-nabi menghimpun nubuat-nubuat dan menuliskannya. Ini berarti, terdapat banyak penulis Alkitab. Kebanyakan dari mereka itu tidak dapat kita ketahui. Semula naskah-naskah itu tersebar luas sesuai dengan alamat pengiriman masing-masing. Surat Paulus kepada jemaat Galatia, Korintus, dan kepada Timotius misalnya, disimpan oleh jemaat di tempat-tempat itu. Lalu naskah yang tersebar itu berangsur-angsur dihimpun dan akhirnya PL dan PB mencapai bentuknya yang sekarang.

Terbentuknya Alkitab dalam bentuknya sekarang ini memakan waktu sekitar sebelas abad (1100 tahun). Dalam rentang waktu yang panjang itu terjadilah proses pembentukan kanon, kitab-kitab yang diakui sebagai Firman Allah, diilhamkan oleh Roh Kudus, berwibawa sebagai ukuran atau patokan iman dan kehidupan.  Gereja Protestan mengakui Alkitab yang terdiri dari 66 kitab itu sebagai firman Tuhan. Kitab-kitab PL yang tertua berbahasa Ibrani (Yahudi) terdiri dari 39 kitab, dan PB berbahasa Yunani sebanyak 27 kitab.  Disamping 66 kitab itu, Gereja Katolik Roma menetapkan tambahan 10 kitab apokrif ([deuterokanonika).

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI