Category Archives: Renungan

Allah Adalah Sumber Kasih Dan Damai Sejahtera

2 Kor. 13:11

 Air sungai bisa mengalir ke hilir karena di hulu ada sumber air. Di bumi ini ada panas, karena ada sumbernya di matahari. Dalam 2 Kor. 3:11, Paulus menyebut Allah adalah sumber kasih dan dami sejahtera. Sama seperti air atau panas tidak bisa kita hasilkan sendiri, kasih dan damai sejahtera juga tidak bisa kita hasilkan sendiri, masing-masing mempunyai sumber. Kita bisa menikmati air karena ada sumbernya di hulu. Kita bisa menikmati panas karena ada matahari. Kita bisa menikmati kasih dan damai sejahtera karena ada sumbernya yaitu Allah sendiri.

Semua orang mencari kehidupan sukacita, damai dan sejahtera yang bahasa populernya kehidupan bahagia. Sungguh menyedihkan, manusia pada umumnya mencari kehidupan damai sejahtera itu pada sumber yang salah. Ada yang menganggap kekayaan sebagai sumber, yang lain menganggap pendidikan atau jabatan tinggi sebagai sumber. Kalau ada orang mencari air tawar ke laut atau mencari panas ke kutub utara, kita akan menyebut mereka sebagai orang yang sangat dan sangat bodoh. Demikian juga Allah menyebut orang yang mencari damai sejahtera di luar diri-Nya sebagai orang yang sangat dan sangat bodoh. Sumber kasih dan  damai sejahtera hanya Allah sendiri.

Sumber kasih adalah Allah. Bagaimana kita bisa memperolehnya, bagaimana caranya? Uang, berapa besar sekalipun tidak bisa membeli kasih itu. Sebaliknya, kasih diberikan secara cuma-cuma. Kasih Tuhan kita peroleh dengan cuma-cuma pada waktu kita mengakui Yesus sebagai Tuhan, Juru Selamat dan Raja kita, pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

 Dalam 1 Yoh. 4:7 tertulis,  “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah”. Mari kita garis bawahi perkataan “sebab kasih itu berasal dari Allah”. Kasih hanya ada di dalam Allah. Kasih ada di dalam diri kita, apabila Allah tinggal di dalam diri kita di dalam Roh-Nya Yang Kudus. Roh Kudus tinggal di dalam diri kita pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

Kalau dalam kehidupan keluarga, kasih mesra yang begitu indah pada awal-awalnya antara suami dan isteri, sekarang terasa semakin pudar dan tampaknya datar-datar saja, mari kita periksa apakah Roh Sudah hadir di dalam diri kita. Dengarkanlah seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yesus. Roh Kudus akan menyalakan kehidupan iman kita, kasih-Nya menghangatkan rumah tangga kita. (Pdt. Sukawati)

Roh Zaman

Disepanjang sejarah sejak abad Masehi sampai akhir abad ke 19, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak bisa dibandingkan dengan puluhan tahun terakhir ini. Kalau mata kita hanya tertuju kepada fenomena ini, kita akan tertipu dan tidak dapat melihat kepada esensi yang lebih dalam. Orang yang bijak mau menembus ke dalam esensi yang sesungguhnya, roh apa yang ditawarkan oleh zaman ini.

Didalam perspektif penulis membagi zaman dalam beberapa bagian diantaranya: Abad Iman (Abad 1-3), Abad kepercayaan (Abad 3-seterusnya), Abad Rasio (abad 15-17), Abad Pencerahan (17-19), Abad Ideologi (Abad 19), Abad Ananlisis (Abad 20). Dr. Sthepen Tong berkata “Abad 20 adalah abad yang bodoh”. Pada permulaan abad ke 20 manusia begitu nyakin yang ditemukan ideologi dan sistem pikiran abad ke 19, lalu mereka menggangap itu kebenaran. Abad ke 20 dianggap adalah era menuju kehidupan yang lebih baik (teori evolusi zaman), sebaliknya kita melihat tahun 1914-1918 Perang Dunia I meletus ini membuktikan pengharapan kepada zaman yang lebih baik sirna. Abad 20 hanya menghasilkan orang-orang yang mengosongkan otak lalu menciptakan Tokoh yang besar yang tidak mengenal Tuhan seperti Karl Max (tokoh Komunisme), Soren Abie Kierkegaard (Filsafat Eksistensialisme), Fredrik Nistzche (Ateis).

Sekarang kita hidup di abad ke 21, seperti abad ke 20 dimulai dengan optimisme yang naif, menunggu hari depan yang cerah. Sebagai hamba Tuhan dilahirkan di abad ini, kita harus berjuang menantang zaman ini. Apa yang ditawarkan oleh roh zaman sekarang ini. Namun sayang terlalu sedikit hamba Tuhan yang peka akan hal ini yang muncul diri mimbar gereja. Itu sebabnya gereja tidak memimpin dunia. Kita dipanggil untuk menjadi terang. Namun masalahnya, menerangi siapa? Dengan cara apa? Dan mendapat cahaya dari mana?

Hai umat manusia, kemanakah engkau? Optimisme, hari depan cerah karena evolusi. Tuhan berkata, “Kembalilah kepada-Ku, disinilah tempat pangkalan pengharapanmu. Di sini sasaran imanmu dan disini ada cinta kasih yang memberi kepuasan pada jiwamu”. “zaman ini harus kembali kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah kepala Gereja!”. SOLA DEO GLORIA!

Penulis: Posman Alexander Aritonang S.Th

Bukti Kasih

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. – Yohanes 3:18

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 41 ; Kisah Para Rasul 13; Keluaran 31-32

Waktu adalah hal berharga bagi kita karena kita memilikinya secara terbatas. Kita bisa saja memiliki banyak uang, namun hal tersebut tidak bisa membeli waktu lebih banyak. Waktu kita adalah kehidupan kita, karena itulah pemberian terbesar yang dapat kita berikan kepada seseorang adalah waktu.

Jika kita menganggap penting seseorang maka kita harus buktikan dengan menginvestasikan waktu untuknya. Kata-kata saja tidak ada artinya, karena sebuah hubungan perlu dibangun dengan waktu dan curahan perhatian. Jadi kita bisa katakan bahwa wujud dari cinta adalah waktu yang diberikan.

Kebanyakan pria yang telah menikah melupakan hal ini, mereka sering berkata, “Saya tidak mengerti mengapa istri dan anak-anak merasa kecewa dengan saya padahal saya telah menyediakan semua yang mereka butuhkan.” Mereka kecewa karena yang mereka butuhkan bukanlah pemberiannya, namun kehadirannya.

Pemberian kasih yang paling diinginkan bukanlah berlian atau bunga mawar dan coklat. Yang diinginkan adalah perhatian yang terfokus. Mereka menginginkan kehadiran, perhatian, telinga untuk mendengarkan, dan waktu untuk bersama-sama. Tidak ada yang dapat menggantikan semua itu.

Kasih berkata, “Aku begitu menghargaimu sehingga aku memberikan aset yang paling berharga yang kumiliki, yaitu waktuku.”

Sumber : jawaban.com

Kasih Tidak Menyimpan Dan Membalas Dendam

Rm. 12: 17-21

 Kalau kita cermati bahwa “kasih” selalu mengandung arti yang positif. Misalnya seseorang (A) mengasihi orang lain (B), maka bisa di pastikan si A akan melakukan hal-hal yang baik yang dapat menyenangkan hati si B. Dan kasih yang sempurna itu biasanya tidak pernah menuntut balasan, bahkan ia rela berkorban sebagai pertanda bahwa dia benar-benar membuktikan kasihnya itu. Dalam arti kata, kasih itu bukan hanya di ucapkan dengan kata-kata yang manis tetapi harus dapat dibuktikan pula dengan perbuatan-perbuatan (1 Yoh 3 : 18).

Realita dalam kehidupan sehari-hari justru sangat bertolak belakang. Banyak orang mengatakan bahwa “aku mengasihimu, aku mengasihimu”, tetapi perbuatan-perbuatannya justru sangat menyakiti orang lain.

Jujur saja, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengampuni dan menerima kekurangan orang lain. Sebab sering kali kita dapat menerima orang lain jika orang tersebut melakukan hal yang baik bagi kita. Tentang hal ini, semua orang, termasuk orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus pun dapat melakukannya. Lalu apa bedanya kita dengan mereka (orang-orang yang tidak mengenal Allah)?

Firman Tuhan hari ini mengajarkan agar kita dapat mengampuni dan menerima kekurangan orang lain. Apakah kita bisa melaksanakannya? Bisa mengampuni? Tidak bisa! Hanya Allah yang bisa mengampuni dengan kasih agape, manusia tidak bisa. Tetapi puji Tuhan, haleluya, Tuhan Yesus memampukan kita mengampuni dengan cara tinggal di dalam diri kita dalam Roh-Nya Yang Kudus.  Roh Kudus memampukan kita mengampuni sesama saudara. Roh Kudus mencabut luka jiwa yang berakar dalam hati kita.

Kristus dapat menerima segala kekurangan kita dan mampu mengampuni segala dosa-dosa kita. Kasih-Nya yang besar itu lah yang mampu menutupi dosa-dosa kita, sehingga Dia dapat menerima kita apa adanya. Jadi kita pun akan dapat mengampuni orang lain jika kasih Kristus ada di dalam diri kita.

Sikap orang percaya menyandarkan diri pada tuntunan Roh Kudus membedakan kita dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Roh Kudus yaitu Roh Yesus yang diam di dalam diri kita, memimpin hidup kita, memampukan kita mengasihi dan mengampuni. Sekali lagi, bukan kekuatan kita, bukan karena kebenaran kita, tetapi semata-mata oleh kekuatan Roh Kudus, kita mampu hidup berkemenangan mengalahkan dosa, hidup dalam sukacita dan damai sejahtera. (Ev. Baskami)

 

Kasih Adalah Bersimpati Dan Berempati Dengan Sesama Saudara

Rm. 12 : 15

Sebagai orang percaya kepada Kristus, tentu kata “kasih” bukanlah suatu kata yang baru kita dengar atau sesuatu yang aneh, karena dalam khotbah di gereja maupun persekutuan doa, kata kasih ini selalu di sampaikan. Tentu ada alasannya mengapa kata ini selalu di ucapkan atau disampaikan bagi kita.

Perintah atau hukum yang tertinggi yang dikatakan Allah bagi kita adalah “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”. Tentu melalui firman ini kita dapat mengerti bahwa, wajib hukumnya kita melakukan kasih bagi sesama. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah, bagaimana agar kita dapat bersimpati dan berempati dengan sesama saudara?

Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di suatu perguruan tinggi swasta dengan jurusan yang bersangkutan dengan keselamatan manusia, yang mungkin lebih dikenal dengan sebutan Team SAR (Search and Resque). Secara alkitabiah, saya melihat pekerjaan ini sebagai suatu bentuk kasih. Ketika ada bencana alam, seperti tanah longsor, banjir atau ada orang yang tersesat di hutan atau di gunung, maka mereka ini biasanya turun tangan. Menurut mereka dalam kesaksiannya, seringkali dalam pencarian korban-korban bencana alam, mereka harus makan buah-buahan dari pohonnya langsung untuk mengisi perut, karena terbatasnya bahan makanan yang dibawa.

Apa yang mereka lakukan, menurut pendapat saya, adalah pengorbanan luar biasa untuk tugas kemanusiaan. Tuhan kita Yesus Kristus lebih dari pada itu! Dalam kepedulian-Nya bagi kita, sebagai bukti kasih-Nya, darah-Nya Ia curahkan di salib sebagai penebus dosa kita.

Marilah kita kembali merenungkan bersama-sama, apa perbuatan kasih yang telah kita lakukan bagi sesama kita. Sedangkan orang-orang yang tidak mengenal firman Allah saja mau bersimpati dan berempati terhadap sesama, bagaimana dengan kita.

Salah satu judul perikop dalam 1 Petrus 2 adalah “Penderitaan Kristus sebagai teladan”. Untuk itu marilah kita meneladani apa yang telah dilakukan Yesus bagi kita, mempersembahkan tubuh kita, talenta, bahkan segala kemampuan kita untuk sesama, karena itu jugalah yang dikehendaki Allah bagi kita. Dengan demikian maka kita akan dapat bersuka cita dengan orang yang bersuka cita dan menangis dengan orang yang menangis (Rm 12:15). (Ev. Baskami)

Kasih Memberkati bukan Mengutuk

Rm 12:14

Kita sudah pernah mendengar, ada tiga jenis kasih. Yang pertama kasih eros, yang kedua kasih filia dan yang ketiga kasih agape.

Kasih eros adalah kasih dalam tingkat yang paling rendah. Kasih ini didasarkan pada nafsu dan keinginan daging. Kalau pria dan wanita saling mengasihi oleh karena faktor-faktor ”paras wajahmu” dan hal-hal bersifat kedagingan lainnya. Apabila faktor-faktor pendukung tidak ada lagi, maka hilanglah kasih itu. Kalau wajah partner kita tidak lagi menarik maka hilanglah cinta. Kalau penampilan tidak lagi menarik, hilanglah cinta.

Yang kedua, kasih filia, kasih dua arah, kasih timbal-balik. ”Kalau orang baik pada saya, sebaliknya saya baik kepadanya”. Kasih filia adalah kasih balas-membalas.

Yang ketiga, inilah yang paling tinggi tingkatnya, kasih agape. Kalau  kasih filia adalah kasih dua arah, kasih timbal balik, kasih agape adalah kasih satu arah, tidak mengharapkan imbalan dari orang yang dikasihi. Inilah kasih Allah yang sudah mengorbankan diri-Nya di Kayu Salib untuk menebus dosa-dosa kita. Kasih agape adalah sebuah kasih berdasarkan pengorbanan. Allah ada di dalam kasih agape, tetapi Allah tidak ada baik di dalam kasih filia maupun di dalam kasih eros.

Dalam Rm 12:14, ditekankan kita harus memberkati dan bukan mengutuk. Kita adalah anak-anak terang, dapat membedakan mana yang baik, apa yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Tuhan rindu hidup kita menjadi surat-surat Kristus yang terbuka yang dapat dilihat dan dibaca orang lain.

Kehidupan kita menjadi berkat karena kita mampu mengasihi dengan kasih agape. Apakah kita dapat melakukannya? Terus terang, tidak bisa! Tidak bisa dengan kekuatan sendiri! Hanya Allah yang dapat mengasihi tanpa mengharapkan balasan, hanya Ia yang bisa memberkati. Tetapi puji Tuhan, haleluya! Kita tidak bisa, tetapi Tuhan memampukan kita dengan cara berdiam di dalam diri kita di dalam Roh-Nya Yang Kudus. Roh Kudus dianugerahkan kepada kita pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

Dalam pembelajaran hari ini kita telah berbicara tentang berkat dan kehidupan kita menjadi berkat bagi sesama. Marilah kita memakai momentum ini untuk membenahi hidup kita, membenahi sifat, sikap, tindakan dan perkataan kita, suka memberkati dan menjauhkan diri dari sifat suka mengutuk. (Ev. Parly)

Kasih Menopang Hamba Tuhan dan Pelayanan

Rm 12:13, 1 Tes 5:12-13

 Dalam Perjanjian Lama, suku Lewi dikhususkan oleh Tuhan untuk tugas pelayanan termasuk pemeliharaan rumah ibadah. Kesebelas suku Israel yang lain, menopang kehidupan dan pelayanan mereka, dengan memberikan persembahan persepuluhan atau persembahan lainnya. Di zaman kita ini, “suku Lewi” adalah hamba-hamba Tuhan yang melayani secara sepenuh waktu.

Apakah tugas seorang hamba Tuhan masa sekarang? Berikut ini adalah beberapa daftar tugasnya:

  • Memberitakan Injil kepada semua orang (1 Kor 1:17)
  • Mendoakan umat-Nya (Kol 1:9)
  • Mengajar, menasehati, menegur dengan kasih (2 Tim 2:2, Titus 1:9, Kis 20:31)
  • Menghibur (2 Kor 1:4-6)
  • Berjaga-jaga atas jiwa-jiwa (Ibr 13:17)

Sebagai orang percaya, seharusnya kita dapat berbagi satu dengan yang lain dalam menopang hamba Tuhan dan pelayanannya. Menopang mereka dengan memberi berkat materi untuk kehidupan mereka, dan mendoakan pelayanan dan kehidupan mereka. Pemberian perpuluhan dalam masa Perjanjian Baru ini, tidaklah dilarang malah jemaat GIKI semakin banyak kita yang melakukannya. Ada juga jemaat atau hamba Tuhan yang punya iman memberi lebih dari sepersepuluh penghasilannya. Kebiasaan memberikan ucapan syukur dan persembahan khusus adalah kebiasaan yang baik dan menyenangkan hati Tuhan, yang menopang pelayanan hamba Tuhan dan pelayanan gereja.

Jemaat yang telah dewasa secara rohani, pasti mengerti akan apa yang harus ia lakukan terhadap kebutuhan seorang hamba Tuhan. Tetapi bagi mereka yang masih belum dijamah oleh Roh Allah masih sulit untuk mengerti bagaimana mereka harus menopang pekerjaan seorang hamba Tuhan.

Pembelajaran hari ini kembali mengajak kita untuk kita dapat memiliki kasih yang menopang hamba Tuhan dan pelayanan. Di desa-desa kecil, biasanya seorang hamba Tuhan banyak ditopang oleh jemaat dengan memberikan hasil bumi untuk mencukupkan kebutuhan hamba Tuhannya, bergotong royong membuatkan rumah ibadah dan rumah hamba Tuhan. Di kota-kota, hamba Tuhan biasanya ditopang oleh jemaat dengan memberikan berkat materi atau tumpangan bagi mereka.

Lalu bagaimanakah dengan kita, sudahkah kita memiliki keterbebanan untuk memberi kasih dan perhatian untuk menopang pelayanan hamba Tuhan? Kiranya, setiap kita dapat  menjadi berkat dalam kehidupan seorang hamba Tuhan dan pelayanan gereja. (Ev. Parly)

Kasih Sejati Bukan Basa Basi

Dalam Rm 12:9 dikatakan: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik”. Menjauhi yang jahat, artinya tidak terikat pada yang jahat yang memisahkan kita dari kasih Allah. Untuk mengasihi sesama saudara, kita harus memurnikan segala sesuatu di dalam diri kita, karena kasih itu bukan pura-pura. Kasih itu bukan hanya kalimat panjang yang menyentuh, kasih juga bukan suatu bahasa kebohongan yang memiliki motivasi kepentingan sendiri (Fil 2:3-4).

Kasih sejati adalah kasih yang melakukan perbuatan atau tindakan nyata tanpa mengharapkan balasan, sama seperti kasih Tuhan Yesus kepada  manusia. Ia tidak memandang siapakah pribadi yang dikasihi oleh-Nya. Kasih sejati dinyatakan oleh Tuhan Yesus secara nyata kepada orang miskin, orang lumpuh, orang yang sakit kusta, orang yang sakit ayan, yang menderita kelaparan dan secara khusus kepada orang berdosa yaitu Saudara dan saya, kita semua. Kasih sejati adalah kasih yang kekal, kasih yang menyelamatkan dan kasih itu tidak berkesudahan.

Ada istilah “aspal” (asli tetapi palsu) dikenakan pada manusia yang mengasihi “basa-basi” yaitu kasih yang pura-pura. Hal ini bisa dilihat dari perilaku orang yang hidup di kota-kota besar. Mudah bagi kita mengeluarkan uang duapuluh ribu rupiah untuk makan siang, tetapi kita ngotot menawar sayur dari abang tukang gerobak, seribu atau dua ribu rupiah. Alangkah indahnya jika manusia memiliki kasih yang tulus dalam memberi.

 Banyak sikap dan perbuatan orang Kristen yang awalnya mengasihi tetapi di kemudian hari, kasih itu berubah menjadi kasih yang basa-basi. Kasih yang pura-pura atau basa-basi tidak akan membawa berkat sukacita. Kasih yang basa-basi tidak memiliki tujuan yang mulia, hanya ingin dikenal, dihormati, dihargai. Kasih sejati, tidak mengharapkan balasan apapun, mengasihi dengan tulus, akan membawa berkat bagi yang melakukannya.  Kasih yang basa-basi atau pura-pura akan hambar dan tawar.

Barang siapa mengasihi dengan tulus disebut anak-anak Allah. Kita mengasihi karena Tuhan telah mengasihi kita terlebih dahulu. Kita memberi perhatian kepada sesama karena Tuhan telah memperhatikan kita terlebih dahulu.

Mengasihi, tidak berarti hanya melalui pemberian yang bersifat materi. Menepuk pundak seorang sahabat yang sedang bingung, membantu seorang nenek tua menyeberang jalan adalah tindakan kasih. Mengunjungi saudara yang dirawat di rumah sakit atau hadir di rumah duka, adalah tindakan kasih. Mendoakan saudara yang sakit,  yang sedang menghadapi masalah adalah juga tindakan mengasihi. (Pdt. Ani)

Tidak Terpisahkan Dari Kasih Yesus Kristus

Roma 8:35-39

 Selama manusia hidup tidak akan pernah terlepas dari persoalan, kesulitan, bahaya, kelaparan, penindasan dan penganiayaan. Hal-hal seperti ini dialami oleh Paulus dalam perjalanan hidupnya mengiring Yesus. Ia adalah seorang penginjil sejati yang takut akan Tuhan dan kehadiran Tuhan begitu nyata bagi hidupnya. Sekalipun dalam bahaya dan penderitaan, ia percaya, kasih Allah tetap menyertai, menolong dan memampukannya untuk tetap kuat melayani Tuhan.

Penderitaan oleh sakit penyakit dan keterpurukan hidup karena kehilangan anak-anak serta harta benda, dialami oleh seorang tokoh Alkitab yang bernama Ayub. Dalam kesesakan yang amat sangat itu, ia tetap menjaga hatinya dan tidak pernah sekalipun menyalahkan Tuhan. Tuhan sebenarnya tidak pernah meninggalkan Ayub, Ia selalu memperhatikan kehidupan Ayub. Penderitaan Ayub terjadi atas seizin Tuhan.

Yesus tidak pernah meninggalkan kita pengikut-Nya. Kalimat terakhir Injil Matius menuliskan perkataan Yesus: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Yesus ada di pesta pernikahan Kana yang kekurangan anggur. Yesus ada di kolam Betesda dimana ada seorang yang kena penyakit menahun. Yesus ada di tengah ribuan jemaat yang kelaparan karena belum makan. Ia ada di Firdaus bersama dengan seorang penjahat yang disalibkan disebelah Yesus.

Yesus ada bersama kita ketika kita dalam kesesakan, ketika sakit, ketika sedang berada dalam pergumulan. Yesus ada beserta kita di dunia ini,  Ia ada beserta kita di dalam Firdaus dan di dalam kerajaan kekal. Apakah ada persahabatan yang lebih indah dari itu? Tidak ada!

Yesus sobat setia! Yesus mengerti masalah yang kita hadapi, bahkan Dia mengerti bahasa tetesan air mata. Ketika Yesus bertemu dengan Maria dan Marta, Ia menangis, mereka menangis bersama-sama, karena Lazarus sudah meninggal dunia. Sungguh mengherankan mendengar Yesus menangis. Yesus adalah Tuhan, Ia mengetahui bahwa Lazarus sebentar lagi akan Ia bangkitkan, Lazarus akan hidup kembali, tetapi kenapa Ia menangis? Saya pikir, karena Ia berbagi rasa, Ia mengerti akan arti duka. Ia bersimpati dengan Maria dan Marta.

Sekali lagi Yesus adalah sobat setia. Paulus mengatakan, persekutuan orang percaya dengan Kristus tidak terpisahkan. Kuasa apapun tidak dapat memisahkannya, si iblis tidak dapat memisahkannya. Sekali Ia berdiam dalam diri kita di dalam Roh-Nya Yang Kudus, Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Oleh karena itu, Paulus mengatakan, kita lebih dari pada pemenang. Menjadi pemenang saja sudah  menyenangkan, lebih dari pemenang berarti lebih menyenangkan lagi. (Pdt. Ani)

Roh Kudus Sumber Kekuatan Untuk Mengasihi

Roma 5:1-5

Dalam nats renungan kita, Paulus menggambarkan kasih sebagai puncak sebuah proses, berawal dari iman, selanjutnya diikuti dengan kesengsaraan, ketekunan, tahan uji, pengharapan dan berakhir pada kasih.

Kita bisa menikmati air karena ada sumbernya di hulu. Kita bisa menikmati panas karena ada matahari. Kita bisa menikmati kasih dan damai sejahtera karena ada sumbernya yaitu Allah sendiri. Pengertian seperti inilah yang disampaikan Paulus dalam Rm 5:5,  “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”. Sumber kasih yaitu Allah, yang tinggal di dalam hati kita di dalam Roh-Nya Yang Kudus, memampukan kita untuk mengasihi.

Masyarakat zaman sekarang banyak dipengaruhi konsumerisme yang menjurus pada hedonisme (pemuasan nafsu kedagingan secara berlebihan). Dalam keadaan seperti ini, tampak berbagai gejala moral yang memburuk dan etika yang merosot. Manusia cenderung hidup egois, mementingkan diri sendiri, dan kasih yang tulus memudar.

Tujuan hidup ini bukan hanya untuk mencari nafkah, memelihara keluarga atau menjalankannya dari hari ke hari. Kita diciptakan oleh Allah untuk hidup mengasihi.  Setiap orang yang dijamah oleh kuasa Roh Kudus akan diberi kepekaan untuk bermurah hati, peka terhadap apa yang harus kita lakukan untuk menolong sesama kita.

Apa yang terpenting dalam hidup ini? Jawaban Tuhan sangat sederhana, yakni, mengasihi Allah dan sesama manusia (Mat 22:36-40). Dunia yang dipenuhi dengan kekerasan, sakit hati dan kebencian hanya dapat diobati dengan kasih.

Roh Kudus yang dicurahkan dalam hati setiap orang percaya menjadikan kita adalah anak-anak Tuhan yang mampu mengasihi. Tindakan kasih pada seseorang, memungkinkan orang itu mengenal keselamatan dalam kasih Yesus Kristus. Perbuatan kita adalah surat Kristus yang terbuka, bisa dibaca orang lain. Surat itu tidak ditulis pada loh batu, tetapi ditulis dalam hati kita oleh Roh Kudus (2 Kor 3:3).

Tanpa kehadiran Roh Kudus, seorang pun tidak mampu mengasihi dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Kasih Allah tidak pernah berakhir, tetap dan tidak akan berkurang, tidak berubah-ubah dan kekal selama-lamanya. Kiranya renungan firman Tuhan hari ini, mendorong setiap kita untuk berdoa memohon pimpinan Roh Kudus sehingga kita mampu mengasihi. (Pdt. Ani)