Ringkasan Isi Alkitab

Kalau kita diminta menuliskan ringkasan Alkitab yang berisi 39 kitab PL dan 27 kitab PB dalam dua atau tiga halaman, apa yang akan kita tuliskan?

Kita dapat  memulainya dengan ayat pembuka Alkitab, Kej. 1:1, Allah menciptakan manusia untuk menjadi mitra-Nya mengelola dunia ini. Allah ingin manusia menikmati berkat-berkat yang disediakan Tuhan, hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera. Itu adalah tujuan penciptaan. Nenek moyang kita yang pertama, Adam dan Hawa menikmati hidup berkelimpahan di Taman Eden. Inilah bagian pertama yang penuh sukacita dalam awal sejarah manusia.

Bagian kedua terjadi ketika Iblis berhasil menggoda Hawa untuk memakan buah larangan di Taman Eden  dan nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa. Hubungan Allah dengan manusia menjadi renggang, Allah Maha Kudus tidak dapat bersatu dengan manusia berdosa. Adam dan Hawa harus meninggalkan Taman Eden, tempat yang penuh berkat, menjalani hidup keseharian dengan berpeluh, dengan bersusah payah.

Bagian ketiga dimulai, Allah segera melakukan karya penyelamatan, Ia menubuatkan keturunan Adam dan Hawa akan meremukkan kepala si iblis. Nubuat ini tergenapi dengan kehadiran Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, disalib di golgota sebagai korban penebus dosa manusia.

Manusia berkembang, bertambah jumlahnya, tetapi dosa semakin merasuki kehidupan manusia. Pada suatu waktu, Allah memusnahkan umat manusia dengan air bah, kecuali empat pasang keluarga Nuh dengan anak-menantunya. Ibarat menulis di atas kertas yang sudah kotor,  sudah banyak coreng-morengnya, Allah memutuskan untuk menulis kembali di sebuah kertas putih yang baru. Tetapi sejak bencana air bah itu, Allah berjanji tidak akan menghukum manusia dengan cara yang sama. Allah mengirim utusan-utusan-Nya para Nabi untuk menyampaikan nasihat-nasihat dan ajaran yang baik. Apabila manusia menurut nasihat dan ajaran  yang disampaikan oleh Allah maka manusia itu akan hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera.

Allah bermaksud membentuk suatu umat yang akan dipimpin dan diberkatinya dalam kehidupan, dengan memanggil seorang manusia bernama Abraham keluar dari sanak saudaranya di Tanah Haran, berangkat ke negeri yang ditunjukkan oleh Allah. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan dua anak kembar, Esau dan Yakub. Yakub memperanakkan 12 anak laki-laki yang merupakan bapa dari 12 suku bangsa Israel.

Yakub dan keluarganya ternyata tidak pernah terbebas dari dosa. Saudara-saudaranya menjual Yusuf, anak yang dikasihi Yakub, menjadi budak di tanah Mesir. Yusuf diangkat Tuhan menjadi Perdana Menteri di tanah Mesir, menyelamatkan bangsa Mesir dan penduduk yang tinggal disekitarnya dari kelaparan ketika terjadi masa kekeringan yang sangat panjang. Yusuf menyelamatkan Yakub dan saudara-saudaranya, dan membawa mereka pindah ke tanah Mesir.

Dalam beberapa generasi, umat Israel beranak pinak dan bertambah jumlahnya di tanah Mesir.  Firaun yang berkuasa tidak mengingat lagi tentang Yusuf dan umat Israel bekerja sebagai budak di tanah Mesir. Allah berbelas kasihan, mendengarkan tangisan dan teriakan umat-Nya, membebaskan mereka dari perbudakan. Ia memilih dan menetapkan Musa sebagai pemimpin mereka.

Dalam perjalanan dari tanah perbudakan di tanah Mesir ke Tanah Perjanjian, di Gunung Sinai, Allah memberikan kepada Musa dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah yang merupakan rambu-rambu agar umat pilihan Allah mengetahui apa yang baik, apa yang salah, apa yang benar dan apa yang berdosa.

Dalam perjalanan umat Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian selama 40 tahun, banyak mujizat terjadi dalam perjalanan itu. Umat Israel melihat kemuliaan Alllah dalam berbagai peristiwa. Allah memberi manna dan burung puyuh sebagai makanan mereka. Allah menyediakan tiang awan untuk memelihara mereka dari terik matahari. Allah menyediakan tiang api agar mereka tidak kedinginan di malam hari. Tetapi Umat Israel  tetap bersungut-sungut mendukakan hati Allah.

Kebaikan Allah tidak diresponi dengan baik oleh Umat Israel  Namun demikian,  Allah terus berkarya menyampaikan firman Tuhan dengan perantaraan para nabi. Umat Israel yang disebut Allah sebagai bangsa yang tegar tengkuk tidak menuruti nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Allah.

Nasihat dan ajaran betapa  baiknya pun bahkan yang disampaikan oleh Allah sendiri tidak dituruti oleh manusia. Inilah penyebab dari segala kekacauan yang terjadi di dunia sampai sekarang ini.

Bukan karena hukum, bukan karena firman Allah tidak ada tetapi karena manusia tidak mampu menuruti nasihat, ajaran atau firman Allah.

Maleakhi adalah kitab terakhir Perjanjian Lama. Sesudah itu untuk masa yang panjang sekitar 400 tahun, Tuhan berdiam diri, tidak ada lagi nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Apakah Allah berhenti berkarya bagi keselamatan umat manusia. Tidak, Allah tetap berkarya. Ada karya agung yang disiapkan-Nya, yaitu, Ia sendiri datang secara pribadi menemui umat-Nya, menemui manusia. Ia menjadi manusia di dalam Yesus Kristus.

Allah mengetahui manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Allah di dalam Yesus Kristus meninggalkan kemuliaan Sorga dan hidup sebagai manusia yang hina . Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan akan diselamatkan. Kita akan berbicara lebih jauh tentang keselamatan ini dalam renungan yang akan datang.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Mengenal Alkitab

Manusia tidak dapat mengenal Allah kalau bukan Ia sendiri yang memperkenalkan dirinya. Ia memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, pertama, melalui ciptaan-Nya di alam semesta ini, kedua, melalui Alkitab yang berisi tulisan-tulisan yang diinspirasikan Allah. Ketiga, pada zaman akhir Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai manusia di dalam anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Keempat,  dalam zaman anugerah ini, Tuhan bergaul akrab dengan  orang percaya karena Ia tinggal di dalam diri orang tersebut, di dalam Roh-Nya Yang Kudus.

Alkitab adalah sumber tulisan yang kaya untuk mengenal Tuhan. Alkitab berisi suara hati, perasaan, pandangan dan pikiran Tuhan tentang segala sesuatu di alam semesta ini, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, khususnya tentang hubungan-Nya dengan manusia ciptaan-Nya. Dengan demikian, kita dapat mengenal Tuhan lebih baik, mengenal Yesus lebih baik, apabila kita mau mempelajari sehingga memahami Alkitab lebih baik.

Bagaimana proses penulisan Alkitab? Pada masa kini, kita dapat menulis di atas kertas dengan pensil. Bila ada salah tulis, kita bisa menghilangkannya dengan karet penghapus dan menulis perbaikannya. Atau, kita bisa mencoret-coret di sana sini. Sesudah dianggap cukup baik, kita salin kembali pada lembaran kertas baru. Revisi tulisan lima sampai sepuluh kali, sampai penulis puas, tidak menjadi masalah karena harga kertas, pensil dan penghapus cukup murah. Apalagi sekarang ini, semakin banyak orang menulis program pengolah kata di komputer. Penulisan, penghapusan, penambahan dan pergeseran kata, kalimat dan paragrap sangat mudah dilakukan.

Sangat berbeda keadaan sekarang dengan keadaan zaman dulu, pada waktu Alkitab ditulis. Belum ada kertas tulis dan komputer pengolah kata. Pada umumnya, naskah Alkitab  ditulis di atas papirus atau kulit binatang yang diolah sehingga bisa ditulis.  Papirus ialah “kertas” yang dibuat dari pohon mirip pohon bengkuang, bahan pembuat tikar di negeri kita, tumbuh di delta sungai Nil di Mesir. Bahan kertas papirus diambil dari bagian dalam pohonnya dan dipotong-potong dalam bentuk pita, diproses menjadi lembaran yang bisa ditulis. Nama Yunaninya adalah  papuros (kata kedua Yunani yang sama artinya adalah bublos, akar kata dari bible dalam bahasa Inggris sedangkan papuros adalah akar kata dari “paper” dalam bahasa Inggris). “Kertas” dari kulit binatang  disebut perkamen (parchment) atau “kertas kulit”, lebih tahan lama, namun lebih mahal harganya. Perkamen dibuat dari kulit domba, anak domba, kambing dan anak lembu.

Coba kita bayangkan bagaimana naskah asli Alkitab ditulis. Hamba Tuhan (seperti nabi dan rasul) yang memperoleh wahyu atau inspirasi dari Roh Kudus menulis firman Tuhan dengan tangannya sendiri atau dituliskan oleh pengikutnya. Tidak ada ruang untuk perbaikan redaksional seperti kita miliki bila menulis dengan komputer. Kesalahan-kesalahan menulis atau mengucapkan kalimat akan berakibat pada penggantian kertas papirus atau perkamen yang mahal. Tetapi, sungguh mengagumkan, merupakan suatu mujizat melihat keindahan tulisan-tulisan dalam Alkitab. Tulisan itu bersinambung secara utuh dan mengungkapkan makna sesuai dengan yang diinginkan Tuhan. Keindahan dan ketelitian seperti itu barangkali memerlukan editing 10 sampai dengan 20 kali pada masa kita sekarang, tetapi dalam penulisan naskah asli Alkitab tampaknya tanpa editing sama sekali. Pengucapan dan penulisannya seperti air yang mengalir. Hal ini hanya bisa terjadi karena Roh Kudus lah yang sebenarnya berkarya pada penulisan naskah asli Alkitab itu.

Hal lain yang perlu kita pahami, penulisan naskah asli Alkitab itu, adalah ibarat seorang pemuda menulis surat cinta berpuluh halaman pada kekasihnya. Surat itu tidak memakai pasal, sub-pasal dan nomer ayat. Seperti dikatakan tadi, tulisan itu seperti air yang mengalir. Alkitab tanpa pembagian pasal atau sub-pasal (perikop) atau nomer ayat menimbulkan kesulitan dalam mengkomunikasikannya. Bagaimana kita meminta jemaat membaca bagian firman tertentu tanpa pasal dan nomer ayat? Oleh karena itu, beberapa orang bapa gereja dan akhli Alkitab membagi-bagi kitab dalam Alkitab atas pasal dan nomer ayat, bahkan memberi judul pada sebagian besar pasal atau sub-pasal (perikop). Tetapi perlu kita ingat, pembagian dan pemberian judul dan penomeran ayat bukan termasuk yang diwahyukan Allah kepada penulisnya.

Kitab-kitab yang paling pendek terdiri dari 1 pasal saja, yaitu ada lima: Kitab Obaja, Surat Filemon, Surat 2 Yohanes, Surat 3 Yohanes, dan Surat Yudas; sedangkan yang paling panjang 150 pasal: Kitab Mazmur. Masing-masing pasal dibagi menjadi sejumlah ayat. Yang paling sedikit 2 ayat: Mazmur 117; dan yang paling banyak 176 ayat: Mazmur 119.  Selain itu setiap terjemahan Alkitab memiliki bagian sub-pasal yang disebut dengan perikop, yaitu yang membahas suatu topik tertentu. Pembagian-pembagian ini bukan merupakan bagian isi Alkitab yang sebenarnya, melainkan hanya sebagai alat bantu untuk memudahkan pembacaan atau pencarian kembali suatu pembacaan bagian tertentu.

Mungkin, dengan maksud tidak mempengaruhi apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulisnya, Alkitab Bahasa Inggris versi King James (KJV), tidak menulis judul pasal kecuali dalam kitab Mazmur. Dalam kitab Mazmur, sebagian besar pasalnya dalam KJV diberi judul yang sama dengan ayat pertama pasal tersebut. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia, judul pasal tersebut menjadi ayat pertama, judul diberikan tersendiri. Jadi jumlah ayat Mazmur bahasa Indonesia lebih banyak dari jumlah ayat Mazmur Bahasa Inggris. Pasal-pasal Kitab mazmur adalah kumpulan nyanyian atau puisi yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan lainnya.

Kitab-kitab zaman dahulu kala memiliki dua macam bentuk, bentuk gulungan dan bentuk “kodeks” (Codex). Yang berbentuk “gulungan”  dijahit atau dilekatkan satu sama lain pada ujungnya, sehingga terbentuk helai “kertas” yang panjang, kadang-kadang mencapai beberapa meter. Kodeks adalah buku mirip bentuk buku zaman sekarang, halaman demi halaman ditumpuk satu dengan lainnya, mulai digunakan sejak abad ke-2 sesudah masehi. Naskah-naskah PL maupun PB yang ada sekarang ini adalah salinan dari naskah-naskah asli, atau mungkin salinan dari salinan. Hal ini dapat dipahami karena bahan yang dipakai ialah papirus yang rapuh dan menjadi lapuk dalam waktu yang panjang.  Berabad-abad lamanya Kitab Suci disalin dengan tangan. Buku lama diganti dengan yang baru.

Bagaimanakah proses penulisan Akitab? Umumnya nabi-nabi tidak menuliskannya, mereka menyampaikan langsung kepada umst atau jemaat. Murid-murid nabi-nabi menghimpun nubuat-nubuat dan menuliskannya. Ini berarti, terdapat banyak penulis Alkitab. Kebanyakan dari mereka itu tidak dapat kita ketahui. Semula naskah-naskah itu tersebar luas sesuai dengan alamat pengiriman masing-masing. Surat Paulus kepada jemaat Galatia, Korintus, dan kepada Timotius misalnya, disimpan oleh jemaat di tempat-tempat itu. Lalu naskah yang tersebar itu berangsur-angsur dihimpun dan akhirnya PL dan PB mencapai bentuknya yang sekarang.

Terbentuknya Alkitab dalam bentuknya sekarang ini memakan waktu sekitar sebelas abad (1100 tahun). Dalam rentang waktu yang panjang itu terjadilah proses pembentukan kanon, kitab-kitab yang diakui sebagai Firman Allah, diilhamkan oleh Roh Kudus, berwibawa sebagai ukuran atau patokan iman dan kehidupan.  Gereja Protestan mengakui Alkitab yang terdiri dari 66 kitab itu sebagai firman Tuhan. Kitab-kitab PL yang tertua berbahasa Ibrani (Yahudi) terdiri dari 39 kitab, dan PB berbahasa Yunani sebanyak 27 kitab.  Disamping 66 kitab itu, Gereja Katolik Roma menetapkan tambahan 10 kitab apokrif ([deuterokanonika).

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Allah Adalah Sumber Kasih Dan Damai Sejahtera

2 Kor. 13:11

 Air sungai bisa mengalir ke hilir karena di hulu ada sumber air. Di bumi ini ada panas, karena ada sumbernya di matahari. Dalam 2 Kor. 3:11, Paulus menyebut Allah adalah sumber kasih dan dami sejahtera. Sama seperti air atau panas tidak bisa kita hasilkan sendiri, kasih dan damai sejahtera juga tidak bisa kita hasilkan sendiri, masing-masing mempunyai sumber. Kita bisa menikmati air karena ada sumbernya di hulu. Kita bisa menikmati panas karena ada matahari. Kita bisa menikmati kasih dan damai sejahtera karena ada sumbernya yaitu Allah sendiri.

Semua orang mencari kehidupan sukacita, damai dan sejahtera yang bahasa populernya kehidupan bahagia. Sungguh menyedihkan, manusia pada umumnya mencari kehidupan damai sejahtera itu pada sumber yang salah. Ada yang menganggap kekayaan sebagai sumber, yang lain menganggap pendidikan atau jabatan tinggi sebagai sumber. Kalau ada orang mencari air tawar ke laut atau mencari panas ke kutub utara, kita akan menyebut mereka sebagai orang yang sangat dan sangat bodoh. Demikian juga Allah menyebut orang yang mencari damai sejahtera di luar diri-Nya sebagai orang yang sangat dan sangat bodoh. Sumber kasih dan  damai sejahtera hanya Allah sendiri.

Sumber kasih adalah Allah. Bagaimana kita bisa memperolehnya, bagaimana caranya? Uang, berapa besar sekalipun tidak bisa membeli kasih itu. Sebaliknya, kasih diberikan secara cuma-cuma. Kasih Tuhan kita peroleh dengan cuma-cuma pada waktu kita mengakui Yesus sebagai Tuhan, Juru Selamat dan Raja kita, pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

 Dalam 1 Yoh. 4:7 tertulis,  “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah”. Mari kita garis bawahi perkataan “sebab kasih itu berasal dari Allah”. Kasih hanya ada di dalam Allah. Kasih ada di dalam diri kita, apabila Allah tinggal di dalam diri kita di dalam Roh-Nya Yang Kudus. Roh Kudus tinggal di dalam diri kita pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

Kalau dalam kehidupan keluarga, kasih mesra yang begitu indah pada awal-awalnya antara suami dan isteri, sekarang terasa semakin pudar dan tampaknya datar-datar saja, mari kita periksa apakah Roh Sudah hadir di dalam diri kita. Dengarkanlah seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yesus. Roh Kudus akan menyalakan kehidupan iman kita, kasih-Nya menghangatkan rumah tangga kita. (Pdt. Sukawati)

KKR dan BAKSOS di GIKI Rumah Gerat

Berkat kasih setia Tuhan, akhirnya acara KKR Gereja Injili Kasih Indonesia di Rumah Gerat berjalan dengan lancar. KKR yang dilaksanakan pada Jumat, 28 Februari 2013 yang juga diikuti acara BAKSOS (Bakti Sosial).

Setibannya di Rumah Gerat, setiap Hamba Tuhan disugguhi segarnya air kelapa yang khusus disediakan jemaat GIKI Rumah Gerat. Setelah dijamuan makan siang, seluruh Hamba Tuhan dan jemaat bersama-sama bergotong-royong membersihkan jambur Rumah Gerat yang juga tempat dilaksanakannya KKR pada malam harinnya.

Pada malam harinya dilakukan pemutaran film singkat begitu juga dinaikkan puji-pujian bagi Yesus. Firman Tuhan dibawakan oleh hamba Tuhan dari GIKI Raya, Pdt. Barasa yang diambil dari 1 Tawarikh 28:9. Selesai firman Tuhan, dilakukan altar call, sejumlah jemaat baik dari GIKI maupun luar GIKI maju kedepan untuk didoakan olah para hamba Tuhan. Sungguh luar biasa, banyak jiwa-jiwa yang dipulihkan dan dimenangkan.

gerat7

gerat6

getar5

gerat4   gerat2

gerat 3

 

Roh Zaman

Disepanjang sejarah sejak abad Masehi sampai akhir abad ke 19, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak bisa dibandingkan dengan puluhan tahun terakhir ini. Kalau mata kita hanya tertuju kepada fenomena ini, kita akan tertipu dan tidak dapat melihat kepada esensi yang lebih dalam. Orang yang bijak mau menembus ke dalam esensi yang sesungguhnya, roh apa yang ditawarkan oleh zaman ini.

Didalam perspektif penulis membagi zaman dalam beberapa bagian diantaranya: Abad Iman (Abad 1-3), Abad kepercayaan (Abad 3-seterusnya), Abad Rasio (abad 15-17), Abad Pencerahan (17-19), Abad Ideologi (Abad 19), Abad Ananlisis (Abad 20). Dr. Sthepen Tong berkata “Abad 20 adalah abad yang bodoh”. Pada permulaan abad ke 20 manusia begitu nyakin yang ditemukan ideologi dan sistem pikiran abad ke 19, lalu mereka menggangap itu kebenaran. Abad ke 20 dianggap adalah era menuju kehidupan yang lebih baik (teori evolusi zaman), sebaliknya kita melihat tahun 1914-1918 Perang Dunia I meletus ini membuktikan pengharapan kepada zaman yang lebih baik sirna. Abad 20 hanya menghasilkan orang-orang yang mengosongkan otak lalu menciptakan Tokoh yang besar yang tidak mengenal Tuhan seperti Karl Max (tokoh Komunisme), Soren Abie Kierkegaard (Filsafat Eksistensialisme), Fredrik Nistzche (Ateis).

Sekarang kita hidup di abad ke 21, seperti abad ke 20 dimulai dengan optimisme yang naif, menunggu hari depan yang cerah. Sebagai hamba Tuhan dilahirkan di abad ini, kita harus berjuang menantang zaman ini. Apa yang ditawarkan oleh roh zaman sekarang ini. Namun sayang terlalu sedikit hamba Tuhan yang peka akan hal ini yang muncul diri mimbar gereja. Itu sebabnya gereja tidak memimpin dunia. Kita dipanggil untuk menjadi terang. Namun masalahnya, menerangi siapa? Dengan cara apa? Dan mendapat cahaya dari mana?

Hai umat manusia, kemanakah engkau? Optimisme, hari depan cerah karena evolusi. Tuhan berkata, “Kembalilah kepada-Ku, disinilah tempat pangkalan pengharapanmu. Di sini sasaran imanmu dan disini ada cinta kasih yang memberi kepuasan pada jiwamu”. “zaman ini harus kembali kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah kepala Gereja!”. SOLA DEO GLORIA!

Penulis: Posman Alexander Aritonang S.Th

Bukti Kasih

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. – Yohanes 3:18

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 41 ; Kisah Para Rasul 13; Keluaran 31-32

Waktu adalah hal berharga bagi kita karena kita memilikinya secara terbatas. Kita bisa saja memiliki banyak uang, namun hal tersebut tidak bisa membeli waktu lebih banyak. Waktu kita adalah kehidupan kita, karena itulah pemberian terbesar yang dapat kita berikan kepada seseorang adalah waktu.

Jika kita menganggap penting seseorang maka kita harus buktikan dengan menginvestasikan waktu untuknya. Kata-kata saja tidak ada artinya, karena sebuah hubungan perlu dibangun dengan waktu dan curahan perhatian. Jadi kita bisa katakan bahwa wujud dari cinta adalah waktu yang diberikan.

Kebanyakan pria yang telah menikah melupakan hal ini, mereka sering berkata, “Saya tidak mengerti mengapa istri dan anak-anak merasa kecewa dengan saya padahal saya telah menyediakan semua yang mereka butuhkan.” Mereka kecewa karena yang mereka butuhkan bukanlah pemberiannya, namun kehadirannya.

Pemberian kasih yang paling diinginkan bukanlah berlian atau bunga mawar dan coklat. Yang diinginkan adalah perhatian yang terfokus. Mereka menginginkan kehadiran, perhatian, telinga untuk mendengarkan, dan waktu untuk bersama-sama. Tidak ada yang dapat menggantikan semua itu.

Kasih berkata, “Aku begitu menghargaimu sehingga aku memberikan aset yang paling berharga yang kumiliki, yaitu waktuku.”

Sumber : jawaban.com

Selamat Menempuh Hidup Baru Pdt. Lesmon Berutu dan Netty Panjaitan

Jumat, 31 Januari 2014 merupakan hari yang bersejarah bagi kehidupan hamba Tuhan kita Pdt. Lesmon Berutu. Pada hari tersebut  Pdt. Lesmon Berutu S.Th dengan Netty Yulvianty Panjaitan S.S melangsungkan acara sakramen pernikahan kudus yang dilaksanakan di gedung GIKI Medan (Gideon Center). Pdt. Lesmon Berutu merupakan hamba Tuhan untuk majelis GIKI Namokelungen. Sungguh berkat Tuhan yang besar bagi kedua keluarga baru ini.

Dihadapan Tuhan dan jemaatnya, kedua mempelai tampak penuh sukacita ketika mereka menerima sakramen pernikahan kudus yang diberkati oleh Pdt. Emmy Tobing S.Th. Dalam acara tersebut turut dihadiri oleh hamba-hamba Tuhan dari GIKI dan diluar GIKI.

pemberkatan

Selesai acara sakramen pernikahan kudus dilaksanakan maka dilanjutkan dengan acara resepsi dan jamuan makan siang yang telah disediakan kedua mempelai. Turut hadir juga teman satu kuliah (STT Paulus), keluarga dari kedua mempelai  – Berutu dan Panjaitan.

Seluruh hamba Tuhan dan jemaat Gereja Injili Kasih Indonesia mengucapkan, Selamat Menempuh Hidup Baru  untuk Pdt. Lesmon Berutu S.Th dengan Netty Yulvianty PanjaitanS.S. Damai Sejahtera Tuhan selalu menyertai keluarga  baru ini. Tetap layani Tuhan.

 

 

 

 

 

Kasih Tidak Menyimpan Dan Membalas Dendam

Rm. 12: 17-21

 Kalau kita cermati bahwa “kasih” selalu mengandung arti yang positif. Misalnya seseorang (A) mengasihi orang lain (B), maka bisa di pastikan si A akan melakukan hal-hal yang baik yang dapat menyenangkan hati si B. Dan kasih yang sempurna itu biasanya tidak pernah menuntut balasan, bahkan ia rela berkorban sebagai pertanda bahwa dia benar-benar membuktikan kasihnya itu. Dalam arti kata, kasih itu bukan hanya di ucapkan dengan kata-kata yang manis tetapi harus dapat dibuktikan pula dengan perbuatan-perbuatan (1 Yoh 3 : 18).

Realita dalam kehidupan sehari-hari justru sangat bertolak belakang. Banyak orang mengatakan bahwa “aku mengasihimu, aku mengasihimu”, tetapi perbuatan-perbuatannya justru sangat menyakiti orang lain.

Jujur saja, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengampuni dan menerima kekurangan orang lain. Sebab sering kali kita dapat menerima orang lain jika orang tersebut melakukan hal yang baik bagi kita. Tentang hal ini, semua orang, termasuk orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus pun dapat melakukannya. Lalu apa bedanya kita dengan mereka (orang-orang yang tidak mengenal Allah)?

Firman Tuhan hari ini mengajarkan agar kita dapat mengampuni dan menerima kekurangan orang lain. Apakah kita bisa melaksanakannya? Bisa mengampuni? Tidak bisa! Hanya Allah yang bisa mengampuni dengan kasih agape, manusia tidak bisa. Tetapi puji Tuhan, haleluya, Tuhan Yesus memampukan kita mengampuni dengan cara tinggal di dalam diri kita dalam Roh-Nya Yang Kudus.  Roh Kudus memampukan kita mengampuni sesama saudara. Roh Kudus mencabut luka jiwa yang berakar dalam hati kita.

Kristus dapat menerima segala kekurangan kita dan mampu mengampuni segala dosa-dosa kita. Kasih-Nya yang besar itu lah yang mampu menutupi dosa-dosa kita, sehingga Dia dapat menerima kita apa adanya. Jadi kita pun akan dapat mengampuni orang lain jika kasih Kristus ada di dalam diri kita.

Sikap orang percaya menyandarkan diri pada tuntunan Roh Kudus membedakan kita dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Roh Kudus yaitu Roh Yesus yang diam di dalam diri kita, memimpin hidup kita, memampukan kita mengasihi dan mengampuni. Sekali lagi, bukan kekuatan kita, bukan karena kebenaran kita, tetapi semata-mata oleh kekuatan Roh Kudus, kita mampu hidup berkemenangan mengalahkan dosa, hidup dalam sukacita dan damai sejahtera. (Ev. Baskami)

 

Kasih Adalah Bersimpati Dan Berempati Dengan Sesama Saudara

Rm. 12 : 15

Sebagai orang percaya kepada Kristus, tentu kata “kasih” bukanlah suatu kata yang baru kita dengar atau sesuatu yang aneh, karena dalam khotbah di gereja maupun persekutuan doa, kata kasih ini selalu di sampaikan. Tentu ada alasannya mengapa kata ini selalu di ucapkan atau disampaikan bagi kita.

Perintah atau hukum yang tertinggi yang dikatakan Allah bagi kita adalah “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”. Tentu melalui firman ini kita dapat mengerti bahwa, wajib hukumnya kita melakukan kasih bagi sesama. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah, bagaimana agar kita dapat bersimpati dan berempati dengan sesama saudara?

Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di suatu perguruan tinggi swasta dengan jurusan yang bersangkutan dengan keselamatan manusia, yang mungkin lebih dikenal dengan sebutan Team SAR (Search and Resque). Secara alkitabiah, saya melihat pekerjaan ini sebagai suatu bentuk kasih. Ketika ada bencana alam, seperti tanah longsor, banjir atau ada orang yang tersesat di hutan atau di gunung, maka mereka ini biasanya turun tangan. Menurut mereka dalam kesaksiannya, seringkali dalam pencarian korban-korban bencana alam, mereka harus makan buah-buahan dari pohonnya langsung untuk mengisi perut, karena terbatasnya bahan makanan yang dibawa.

Apa yang mereka lakukan, menurut pendapat saya, adalah pengorbanan luar biasa untuk tugas kemanusiaan. Tuhan kita Yesus Kristus lebih dari pada itu! Dalam kepedulian-Nya bagi kita, sebagai bukti kasih-Nya, darah-Nya Ia curahkan di salib sebagai penebus dosa kita.

Marilah kita kembali merenungkan bersama-sama, apa perbuatan kasih yang telah kita lakukan bagi sesama kita. Sedangkan orang-orang yang tidak mengenal firman Allah saja mau bersimpati dan berempati terhadap sesama, bagaimana dengan kita.

Salah satu judul perikop dalam 1 Petrus 2 adalah “Penderitaan Kristus sebagai teladan”. Untuk itu marilah kita meneladani apa yang telah dilakukan Yesus bagi kita, mempersembahkan tubuh kita, talenta, bahkan segala kemampuan kita untuk sesama, karena itu jugalah yang dikehendaki Allah bagi kita. Dengan demikian maka kita akan dapat bersuka cita dengan orang yang bersuka cita dan menangis dengan orang yang menangis (Rm 12:15). (Ev. Baskami)

Kasih Memberkati bukan Mengutuk

Rm 12:14

Kita sudah pernah mendengar, ada tiga jenis kasih. Yang pertama kasih eros, yang kedua kasih filia dan yang ketiga kasih agape.

Kasih eros adalah kasih dalam tingkat yang paling rendah. Kasih ini didasarkan pada nafsu dan keinginan daging. Kalau pria dan wanita saling mengasihi oleh karena faktor-faktor ”paras wajahmu” dan hal-hal bersifat kedagingan lainnya. Apabila faktor-faktor pendukung tidak ada lagi, maka hilanglah kasih itu. Kalau wajah partner kita tidak lagi menarik maka hilanglah cinta. Kalau penampilan tidak lagi menarik, hilanglah cinta.

Yang kedua, kasih filia, kasih dua arah, kasih timbal-balik. ”Kalau orang baik pada saya, sebaliknya saya baik kepadanya”. Kasih filia adalah kasih balas-membalas.

Yang ketiga, inilah yang paling tinggi tingkatnya, kasih agape. Kalau  kasih filia adalah kasih dua arah, kasih timbal balik, kasih agape adalah kasih satu arah, tidak mengharapkan imbalan dari orang yang dikasihi. Inilah kasih Allah yang sudah mengorbankan diri-Nya di Kayu Salib untuk menebus dosa-dosa kita. Kasih agape adalah sebuah kasih berdasarkan pengorbanan. Allah ada di dalam kasih agape, tetapi Allah tidak ada baik di dalam kasih filia maupun di dalam kasih eros.

Dalam Rm 12:14, ditekankan kita harus memberkati dan bukan mengutuk. Kita adalah anak-anak terang, dapat membedakan mana yang baik, apa yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Tuhan rindu hidup kita menjadi surat-surat Kristus yang terbuka yang dapat dilihat dan dibaca orang lain.

Kehidupan kita menjadi berkat karena kita mampu mengasihi dengan kasih agape. Apakah kita dapat melakukannya? Terus terang, tidak bisa! Tidak bisa dengan kekuatan sendiri! Hanya Allah yang dapat mengasihi tanpa mengharapkan balasan, hanya Ia yang bisa memberkati. Tetapi puji Tuhan, haleluya! Kita tidak bisa, tetapi Tuhan memampukan kita dengan cara berdiam di dalam diri kita di dalam Roh-Nya Yang Kudus. Roh Kudus dianugerahkan kepada kita pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

Dalam pembelajaran hari ini kita telah berbicara tentang berkat dan kehidupan kita menjadi berkat bagi sesama. Marilah kita memakai momentum ini untuk membenahi hidup kita, membenahi sifat, sikap, tindakan dan perkataan kita, suka memberkati dan menjauhkan diri dari sifat suka mengutuk. (Ev. Parly)