Category Archives: KYKY

Rahasia PI Yang Berhasil

Kis. 2:36-42

 Diperlukan orang-orang yang terpanggil untuk mengabarkan Injil. Mereka perlu diperlengkapi dengan pengetahuan tentang budaya lokal, hubungan anatar anggota masyarakat dan adat istiadatnya, bagaimana cara berbicara, apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan dan bagaimana bisa bekerjasama dengan saudara-saudara sepelayanan di tempat itu. Di samping itu, mereka juga perlu pembekalan firman Tuhan, apa yang perlu disampaikan dalam membawa jiwa-jiwa bagi Kristus. Mereka perlu juga pengetahuan tentang strategi pelayanan. Semua itu diperlukan. Tetapi apakah kunci utama keberhasilan PI adalah penyertaan Roh Kudus.

Mari kita renungkan hal ini, dari pengalaman jemaat mula-mula. Pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah dengan berani dan pada hari itu ada 3000 jiwa yang bertobat. Para petobat baru ini bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.

Apakah Petrus seorang pengkhotbah yang berpengalaman, seorang teolog yang handal atau hamba Tuhan yang sudah biasa mengabarkan Injil? Tidak! Pekerjaan Petrus sebelumnya adalah penjala ikan, termasuk lapisan masyarakat kelas bawah. Ia tidak pernah mengikuti pendidikan formal. Dari segi karakter, Petrus adalah seorang yang temperamental, emosional dan suka meledak-ledak. Contohnya, Pada saat penangkapan Yesus di taman Getsemane, Petrus mengayunkan pedangnya menetak daun telinga seorang hamba Imam Besar. Contoh lainnya, pada peristiwa penyaliban Yesus berkata, sebelum ayam berkokok Petrus akan menyangkal Yesus tiga kali, Petrus menjawab itu sama sekali tidak akan terjadi. Dalam kenyataannya, tiap kali orang berkata bahwa Petrus adalah pengikut Yesus, ia menyangkalnya. Dan ketika ia menyangkal untuk ketiga kali, ayam pun berkokok. Tergenapilah perkataan Yesus. Petrus menangis dengan hati yang hancur.

Dapatkah sebuah khotbah yang indah memenangkan 3000 jiwa keluar dari seorang dengan kualifikasi yang amat minim tersebut? Terus terang, tidak mungkin. Petrus bukan orang yang yang memiliki kualifikasi istimewa. Tetapi telah terjadi perubahan besar. Petrus sekarang bukan lagi Petrus yang dulu. Petrus yang memenangkan jiwa-jiwa adalah Petrus yang baru, Petrus yang semakin dewasa, Petrus yang bisa mengendalikan dirinya, Petrus yang sudah diurapi oleh Roh Kudus.

Yang memenangkan jiwa pada hari bersejarah itu adalah Kristus sendiri melalui Rohnya yang kudus. Bukan khotbah yang indah, tetapi campur tangan Kristus sendirilah yang menyelamatkan manusia. Petrus mewakili kita semua yang menganggap diri tidak berharga di hadapan Allah. Petrus mewakili kita yang tidak berpendidikan, Petrus mewakili kita yang emosional yang suka marah yang lemah  dalam pengendalian diri. Petrus mewakili kita semua yang merasa tidak memiliki kekuatan melayani Yesus.

Seperti Petrus mampu mengabarkan Injil, kita juga semua bisa dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan karena Ia mengurapi kita dengan Roh Kudus.

Dalam kesaksian tokoh iman, seorang hamba Tuhan terkenal, Charles Spurgeon dari Inggris dimenangkan oleh seorang tukang sepatu. Begini kisahnya. Hari minggu pertama tahun 1850, tidak seperti hari-hari lainnya, jalan-jalan ditutupi oleh salju yang tebal di kota London. Dalam udara dingin menembus tulang, seorang remaja usia 15 tahun berjalan dan masuk ke sebuah gereja kecil. Remaja itu adalah Charles Spurgeon muda. Ada kira-kira 10 orang di dalam dan beberapa waktu kemudian jumlahnya mencapai 20 orang. Pendeta tidak kunjung tiba, tampaknya terhalang oleh salju.

Para pengerja gereja berbisik-bisik seorang dengan lainnya melakukan konsultasi. Kalau kebaktian dibatalkan akan aneh sekali, apalagi itu minggu pertama di tahun yang baru. Akhirnya, mereka putuskan, seorang pengerja yang ternyata adalah tukang sepatu naik ke mimbar untuk berkhotbah. Khotbahnya diambil dari Yes. 45:22. Karena ia tidak ada persiapan,  ia sering mengulang-ulang ayat itu, dan sesudah 10 menit ia mengahiri khotbahnya. Pada saat-saat terakhir, ia mengarahkan pandangannya kepada Charles Spurgeon. Karena yang hadir tidak banyak ia tentu mengetahui Charles adalah seorang tamu di gerejanya. Ia berkata: ”Anak muda, engkau kelihatan menderita. Aku katakan kepadamu bahwa dalam hidup ini engkau menderita dan sesudah mati juga engkau menderita kecuali apabila engkau mau mendengarkan firman Tuhan tadi”. Charles Spurgeon tersentak. Ia mengakui dalam hati, ia memang menderita membutuhkan sesuatu yang bisa meneduhkan jiwanya. Tetapi, pernyataan keras di depan jemaat itu tidak menyenangkan hatinya.  ”Berpalinglah kepada Yesus anak muda, maka engkau akan diselamatkan, berpalinglah, berpalinglah, berpalinglah!”. Sesudah keluar dari gereja kecil itu, Charles  merasa hatinya diselimuti perasaan sukacita. Saat itulah ia memutuskan ikut Yesus. Remaja ini kelak menjadi seorang hamba Tuhan yang dipakai Allah dengan heran memenangkan ribuan jiwa di Inggris. Khotbahnya didengar dan dibaca oleh jutaan orang  di seluruh dunia sampai dengan sekarang ini. Bukan khotbah yang  indah dari seorang tukang sepatu yang memenangkan  Charles Spurgeon, tetapi oleh karena Yesus hadir dalam kebaktian itu.

Roh Kudus adalah kunci keberhasilan Pekabaran Injil. Dalam  Kis. 13,  sesudah jemaat berdoa dan berpuasa, Roh Kudus memerintahkan Paulus dan Barnabas memulai pelayanan PI. Roh Kudus menuntun dan mengarahkan mereka. Roh Kudus mencegah mereka memasuki daerah tertentu, mengarahkan mereka memasuki daerah lain. Pada suatu ketika Allah berbicara kepada Paulus melalui suatu penglihatan untuk merubah perjalanan perjalanan mereka  ke Makedonia, berbeda dengan tujuan mereka semula.

Roh Kudus tetap berkarya sepanjang zaman dalam PI. Kadang-kadang kita tidak habis pikir kenapa orang-orang yang begitu potensial di negerinya, yang bisa mendapatkan kehidupan baik berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan juga keberadaan keluarganya  memutuskan untuk melakukan kegiatan misi ke negeri asing yang berbahaya dimana nyawa menjadi taruhannya. Kekuatan manusia tidaklah mungkin melakukan hal tersebut kecuali apabila Roh Kudus yang sudah memanggil seseorang untuk ikut dalam pelayanan. Orang-orang seperti William Carey dan Adoniram Judson adalah beberapa orang saja dari begitu banyak penginjil yang sudah melayani di daerah asia ini.

William Carey mengabarkan Injil di India, Adoniram Judson melayani di Birma. Kehidupan mereka bukanlah kehidupan yang gampang, sakit penyakit, kehilangan isteri kesulitan akomodasi mereka hadapi namun mereka tidak mundur dari pelayanan itu. Dan oleh karena jasa mereka, Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lokal. Para penginjil datang ke Indonesia walau nyawa menjadi taruhannya. Nama Nomensen tidak mungkin dilupakan suku Batak, Penginjil ini mampu membawa nilai-nilai kristiani ke dalam suku batak yang sangat keras.

Penginjil-penginjil itu berangkat ke daerah pelayanan karena ada gereja-gereja atau organisasi misi yang mengutusnya. Pengutusan itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Roma 10:14-15, ”Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Injil artinya kabar baik. Pemberitaan Injil adalah sesuatu yang indah. Lewat pemberitaan ini manusia-manusia yang sedang berjalan ke neraka diselamatkan untuk memasuki Kerajaan Allah.

Berapa lamakah seorang penginjil tinggal di daerah yang dilayaninya? Ada beberapa versi. Penginjil-penginjil yang datang ke India, Burma dan juga ke Indonesia,  menghabiskan usia mereka di daerah pelayanan. Versi kedua, seperti pelayanan Rasul Paulus. Dalam tiga kali perjalanan misi yang dilakukannya, ia mendatangi banyak tempat di Asia Kecil bahkan sampai ke Eropah. Walaupun pelayannya tidak lama di suatu tempat, biasanya ia berhasil menetapkan pelayan atau pengerja yang melayani di daerah itu. Lantas bagaimana dengan Tim Pekabaran Injil yang kita kirimkan pada masa kini? Katakanlah, sebuah tim  dibentuk untuk melayani ke suatu daerah selama satu bulan. Tim ini akan berangkat  mengabarkan Injil, mengadakan  Kebaktian Kebangunan Rohani, mengadakan Kebaktian Penyembuhan dan kemudian mereka pulang kembali. Kalau Tim Pekabaran Injil ini bekerjasama dengan saudara-saudara sepelayanan di daerah yang diinjili maka follow-up atau kelanjutan pelayanan ini akan diteruskan oleh tim lokal.

Apakah pengiriman tim untuk waktu singkat itu tadi efektif dalam Pekabaran Injil? Pada masa pelayanan Yesus di bumi ini, ia  mengutus murid-mudrid-Nya ber-PI. Ia membentuk beberapa tim, satu tim terdiri dari dua orang dan mereka berangkat mengabarkan Injil. Ini adalah semacam pendidikan dan latihan yang diberikan Yesus bagi para murid. Manfaat pengiriman tim untuk jangka pendek lebih bersifat pendidikan latihan, untuk memahami lebih baik lagi  kegiatan PI atau untuk mengawali kegiatan PI jangka panjang di suatu daerah tertentu.  Kegiatan PI yang kita harapkan tentulah kegiatan yang mampu mewujudkan sebuah jemaat lokal yang lengkap dengan pelayan-pelayan, tiang-tiang iman yang melayani sehari-hari. Tentu dibutuhkan waktu yang lama. Itu sebabnya, kita cenderung berpendapat, seorang penginjil perlu tinggal untuk waktu yang lama di daerah yang dilayaninya.

Ada sebuah ganjalan mental dalam kegiatan PI, yaitu anggapan dibutuhkan dana yang besar. Betul, untuk mengirimkan parapenginjil dibutuhkan  dana yang cukup. Dalam kondisi yang ideal, artinya seturut dengan firman Tuhan, dana sebenarnya tidak boleh menjadi ganjalan bagi PI. Tuhan Yesus sewaktu mengutus murid-murid untuk ber-PI, mengatakan bahwa mereka tidak perlu membawa uang, perlengkapan tidak lebih dari apa yang mereka pakai di tubuh mereka. Artinya, Tuhan sendiri yang akan mencukupkan kebutuhan mereka dalam daerah pelayanan. Kalau kita memiliki iman seperti ini, ketersediaan dana tidak lagi merupakan ganjalan. Ketika ada sebuah tekad mengadakan PI,  dana  akan Tuhan cukupkan.

Di GIKI kita punya pengalaman yang menarik. Ketika mengutus tim pekabaran Injil, kita pernah  melakukan persiapan-persiapan, latihan dan pembekalan. Tim yang diutus itu melakukan pekerjaan mereka dalam jangka waktu pendek. Namun, misi seperti ini belum pernah berhasil membentuk sebuah jemaat baru. Sebaliknya, ada kegiatan PI tanpa dana, tanpa pembekalan dan tanpa pelatihan yang berhasil mewujudkan jemaat baru. Ada beberapa orang jemaat kita yang meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampungnya masing-masing karena alasan ekonomi atau alasan keluarga. Ini alasan resmi, tetapi alasan yang sebenarnya, Yesus mengutus mereka sebagai pemberita Injil. Setiba di kampung, mereka mulai mengadakan persekutuan kristiani yang kecil. Tuhan memberkati persekutuan ini semakin besar dan semakin besar dan akhirnya berubah menjadi jemaat mandiri. Ada anggota  jemaat kita yang pindah ke kampung, sebelumnya tidak memiliki pengetahuan memadai tentang firman Tuhan. Ia belajar sambil melayani. Siapakah sebenarnya yang mengutus mereka? Bukan gereja kita, bukan organisasi kita, tetapi Yesus Kristus sendiri melalui Roh-Nya yang kudus  yang mengutus mereka, memimpin perjalanan mereka.

Tentang jiwa-jiwa yang dimenangkan, berapa orangkah target jumlah jiwa yang akan dimenangkan oleh tim PI bagi Kristus?  Ada yang berpendapat, perlu diberikan target bagi penginjil. Tentang hal ini, kita cenderung berpendapat, dalam PI tidak perlu ditetapkan target tertentu. Yang penting kita melayani sebaik-baiknya. Sewaktu Petrus berkhotbah, ada 3000 jiwa yang bertobat, sungguh suatu karya Roh Kudus yang luar biasa. Tetapi dalam kasus lain, Roh Kudus berkarya dengan cara yang lain.  Pelayanan William Carey memenangkan satu jiwa orang India sesudah 7 tahun. Beliau tiba di India tahun 1793 dan orang India pertama yang bertobat baru terjadi dalam tahun 1800. Demikian juga dengan Adoniram Judson di Birma. Ia tiba di Birma  tahun 1813 dan orang Burma pertama yang bertobat terjadi pada tahun 1819. Diperlukan waktu 6 tahun untuk memenangkan satu jiwa. Suksesnya PI bukan terletak dalam jumlah orang yang dimenangkan, itu semua urusan Tuhan. Yang penting, kita mengabarkan Injil dengan setia.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Pelayanan yang berhasil

Ibrani 12 : 1-3

 Judul tulisan ini jelas artinya, siapakah yang tidak ingin pelayanannya berhasil, tetapi harus kita akui adakalanya kita jenuh dalam pelayanan. Kadang-kadang kita bertanya, apakah kita harus mencari  pelayanan yang lain?  Barangkali sesudah lama melayani tampaknya pelayanan itu tidak membuahkan hasil, sehingga kita ragu, bimbang, apakah benar ini pelayanan yang diberikan Tuhan Yesus bagi kita?

Bacaan firman Tuhan hari ini kiranya dapat memberi pencerahan dan jawaban.  Banyak orang awam menganggap penulis kitab Ibrani adalah Paulus, tetapi sebagian ahli Alkitab tidak sependapat karena  kitab Ibrani dikirimkan untuk orang-orang Yahudi, sedangkan Paulus mengatakan bahwa ia adalah Rasul untuk bangsa-bangsa di luar Yahudi. Lagipula Rasul Paulus menulis surat-suratnya dengan menyebut namanya sendiri, bukan sebuah surat anonim. Disamping itu,  gaya bahasa tulisan-tulisan Paulus berbeda dengan gaya bahasa penulis kitab Ibrani.

Dari isi kitab Ibrani, kita dapat memperkirakan bahwa penulisnya adalah ahli teologi PL, menguasai hukum taurat, tetapi sudah lahir baru, sudah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat nya. Ia memahami dengan baik arti keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Siapapun penulisnya, yang jelas kitab Ibrani ditulis untuk memilihara iman orang-orang percaya pada masa itu, pada masa kesukaran dimana sedang terjadi diaspora, pengikut-pengikut Kristus dianiaya sehingga mereka menyebar ke berbagai tempat dan berbagai negara.

Kitab Ibrani memberi pertolongan di kala iman kita lemah, bukan hanya untuk orang-orang percaya pada zaman dulu tetapi juga bagi kita pelayan-pelayan Kristus pada masa kini.

Tadi dikatakan,  adakalanya pelayan Tuhan merasa jenuh, merasa lemah di dalam iman. Dalam saat-saat seperti ini lah kitab Ibrani memberikan kita kekuatan, inspirasi suatu kesegaran baru.

Ada empat hal yang dapat kita pelajari dari  dari pembacaan firman Tuhan di atas.

Pertama, dari ayat 1 bagian terakhir penulis Ibrani mengatakan,  “bahwa hidup pelayanan kita ibarat sebuah perlombaan”. Pada masa kitab Ibrani ditulis, perlombaan populer di kekaisaran Romawi adalah lomba lari marathon. Lomba lari marathon adalah lomba lari jarak jauh, bukan lari jarak pendek.

Ada perbedaan lomba lari jarak pendek, katakanlah lari 100 M dengan lari jarak jauh yang barangkali 5 KM atau lebih. Dalam lari jarak pendek yang di pentingkan adalah kecepatan awal, sehingga pelari perlu berlari secepat-cepatnya pada awal perlombaan. Dalam lari jarak jauh, yang jadi masalah utama adalah daya tahan.  Untuk lari jarak jauh ada 2 tahap kritis, berbeda dengan lari jarak pendek seorang pelari jarak jauh tidak bisa lari sekencang- kencangnya pada bagian awal karena nanti. tenaganya habis terkuras pada bagian awal sehingga mengurangi daya tahan menyelesaikan perlombaan itu sampai selesai. Ibaratnya seorang yang ikut Tuhan Yesus begitu bersukacita, begitu bergembira awalnya, tetapi karena tidak bertumbuh diatas tanah yang tebal, maka pada waktu datang pergumulan ia tarik kiri. Tahap kritis yang kedua, terjadi ketika pelari marathon itu sudah menempuh setengah jalan, merasa capek sehingga mudah tergoda untuk berhenti, tidak melanjutkan lagi. Kalau kedua bagian itu sudah di lewati kemungkinan besar pelari itu akan bisa menyelesaikan perlombaan sampai tahap akhir.

Kedua, pelayanan adalah seperti perlombaan, dan dalam sebuah perlombaan tentunya ada penonton. Penulis Ibrani mengatakan: “Ada banyak saksi yang mengelilingi kita”. Siapakah saksi-saksi yang dimaksudkan oleh penulis Ibrani?. Tampaknya  berhubungan dengan pasal 11, pasal yang khusus berbicara tentang saksi-saksi iman. Ada banyak tokoh-tokoh iman yang disebutkan disana.

Sorak-sorai penonton dalam sebuah perlombaan menambah semangat, khususnya dalam lomba lari jarak jauh. Seorang pelari membutuhkan dukungan terutama pada bagian pertengahan, pada saat ia merasa begitu capek dan lelah.

Saksi-saksi iman itu seolah-olah berbicara secara langsung kepada kita. Adakalanya kita merasa sudah terlalu lama pelayanan ini. “Aku sudah melayani 5 tahun, tetapi tidak ada hasil apa-apa, aku bingung Tuhan mengarahkan aku kemana sekarang ini”. Pada waktu kita tidak sabar menunggu hasil pelayanan, mungkin kita mendengar seorang saksi ima, Nabi Nuh,  seolah berkata: “Anakku engkau katakan, engkau sudah menunggu 5 tahun, aku membutuhkan waktu 120 tahun untuk membangun bahtera itu, aku diejek, dipermalukan oleh masyarakat di sekitar ku, mereka tidak percaya bahwa kesudahannya sudah semakin dekat”.

Apabila pada suatu waktu kita merasa kehidupan kita ini galau, segala sesuatu seperti tidak menentu, kita berada di titik yang paling bawah dalam pelayanan,  saksi iman Abraham mungkin berkata: “Jangan ikut apa kata dunia, jangan lihat apa yang ada di depan matamu, tetapi percaya saja pada apa yang di katakan Tuhan”.  Abraham  menunggu lama janji Tuhan untuk menerima berkat anugerah. Kehadiran Ishak anak perjanjian di dalam kehidupan rumah tangganya, anak yang sangat di kasihi nya ini, diminta oleh Tuhan untuk di persembahkan sebagai korban di gunung Moria.  Betapa galau nya bapa Abraham sewaktu menerima perintah Tuhan itu, tetapi ia punya iman, ia berpikir dalam hatinya: “Kalau Tuhan memintanya, tentu Ia juga nanti bisa menghidupkannya”. Ia tetap berjalan dalam iman. Kehidupan kita pada suatu waktu, bisa juga berjalan berlawanan dengan apa yang kita harapkan, ada angin ribut dalam kehidupan, dalam pelayanan, tetapi ikuti Abraham, percaya hanya  pada janji firman Tuhan.

Barangkali kita merasa diperlakukan tidak adil. Saksi iman, Yusuf mungkin berkata: “Aku mau dibunuh oleh saudara-saudara ku, dimasukkan ke dalam lobang sumur yang dalam, aku menjadi budak di tanah Mesir. Pada waktu Tuhan, mengangkat aku menjadi Perdana Menteri yang menguasai peredaran uang, dan bahan makanan, serta gerak-gerik manusia, aku tetap mengampuni saudara-saudara ku”.

Pada waktu Yusuf diangkat Tuhan menjadi Perdana Menteri di Mesir, ia tetap Yusuf yang dulu, Yusuf yang setia, Yusuf yang percaya kepada Allah, Yusuf yang bisa mengampuni saudara-saudaranya.

Ketiga,  penulis Ibrani mengatakan: “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang di wajibkan bagi kita”. Penulis Ibrani menasihati kita untuk menanggalkan semua beban yang sedang kita pikul. Orang yang hidup di negeri yang punya musim dingin, waktu salju lagi tebal,  memakai pakaian musim dingin dengan jaket, mantel, sarung tangan dan topi, sehingga bagian tubuh yang tampak hanya mata, hidung dan bibir saja. Dengan pakaian seperti itu, seorang tidak mungkin bisa berlari. Supaya kita bisa berlari kita perlu menggunakan pakaian seringkas mungkin, celana pendek, baju kaos, dan sepatu karet.

Tanggalkan beban sehingga kita bisa mengikuti perlombaan. Ketika Zakeus bertemu dengan Yesus ia bertobat. Dalam ucapan pertobatannya ia mengatakan: “Kalau ada orang yang sudah kuperas aku akan menggantinya empat kali lipat “. Ini adalah beban Zakeus yang dirasakan nya selama ini. Ia memang punya harta banyak, tetapi bebannya berat. Ketika ia mengutarakannya kepada Yesus,  beban itu jadi  ringan. Apa yang menjadi  beban kita dalam kehidupan ini? Apakah ada dosa?. Mungkin orang lain tidak tahu, tetapi kita tahu dan tentu saja Tuhan mengetahuinya.

Apabila kita ingin mengikuti perlombaan iman ini, tanggalkan dosa itu. Barangkali ada kebiasaan yang bukan dosa, tetapi menyita banyak waktu, sehingga kita tidak punya waktu lagi untuk Tuhan. Tanggalkan beban itu. Kalau internet ria membuat kita tidak bisa ikut kebaktian Minggu, tinggalkan internet itu. Kalau kita kecanduan cari uang sehingga tidak ada waktu ikut persekutuan dan ibadah hari Minggu kurangi usaha cari uang.

Kita tidak membawa suatu apa ke dunia ini, dan kitai tidak akan membawa apa-apa ketika kembali ke rumah Bapa di Sorga.

Keempat atau yang terakhir, ayat terakhir dari firman Tuhan yang kita baca yaitu “mata yang tertuju kepada Yesus”. Penulis Ibrani mengatakan dua kali,  dalam ayat 2 dan  ayat  3, kenapa kita perlu memandang Yesus. Pada bagian terakhir ayat 3 dikatakan,  “supaya kita tidak menjadi lemah dan putus asa”, sekali lagi, “supaya kita tidak lemah dan putus asa pandang Yesus”. Adakalanya pelayanan begitu berat, banyak masalah, mungkin kita berkata:  “Aku berhenti melayani, aku cari pelayanan yang lebih menyenangkan”. Dalam keadaan seperti inilah penulis Ibrani mengatakan  “pandang Yesus, lihat Yesus”.  Dalam perjalanan Umat Israel dari Mesir ke tanah perjanjian, umat Israel sering bersungut-sungut,  oleh karena itu Allah menghukum mereka, mengirimkan ular-ular tedung mematuk mereka sehingga banyak yang mati.

Pada waktu mereka mendatangi Musa minta petunjuk apa yang harus dilakukan, Musa minta petunjuk Allah, dan Allah mengatakan: “Buatlah patung Ular dari tembaga dan pancangkan di tiang”. Setiap orang yang sudah terluka dan melihat ke tiang itu ia akan disembuhkan.

Dalam Yoh. 3:14-15, tertulis ayat-ayat persamaannya:  “Siapa yang memandang Yesus, yang ditinggikan itu memperoleh hidup yang kekal”. Dalam kehidupan orang percaya ,memandang Yesus lebih dari hanya sekedar bertatap muka dengan Yesus, Yesus adalah bagian dari kehidupan kita.

Yesus berdiam dalam diri kita di dalam Roh-Nya yang kudus. Memandang Yesus tidak lagi berarti pandang-memandang dalam jarak yang jauh, tetapi kita memandang Yesus bertemu muka dengan muka, kita berjalan bersama. Inilah makna dari memandang Yesus bagi orang yang sudah percaya. Kita mungkin pernah menyanyikan  lagu “Yesus adalah sobat setia”. Benar sekali ungkapan itu. Ketika penjahat di kayu salib mengatakan: ”Kalau engkau kembali sebagai Raja ingat aku Yesus”, Yesus berkata kepadanya: “sesungguhnya sebentar lagi kita akan bersama, saya dengan engkau berada di Firdaus”. Yesus adalah sobat setia. Di dunia ini kita bersama Yesus, di kerajaan kekal kita bersama Yesus. Adakah persahabatan yang lebih indah dari itu?

Yesus sobat setia, Yesus mengerti masalah yang kita hadapi, bahkan Ia mengerti bahasa tetesan air Mata. Ketika Yesus bertemu dengan Maria dan Marta ia menangis, mereka menangis bersama-sama, karena Lazarus sudah meninggal dunia. Sungguh mengherankan mendengar Yesus menangis. Yesus adalah Tuhan, Ia mengetahui bahwa Lazarus sebentar lagi akan Ia bangkitkan, Lazarus akan hidup kembali, tetapi kenapa Ia menangis? Karena Ia berbagi rasa, Ia mengerti akan arti duka, Ia bersimpati dengan Maria dan Marta. Ia mau berbagi rasa, menangis dengan orang yang menangis,  Yesus mengerti bahasa air mata. Maz 51 : 19 berkata: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”.

Apakah hati kita sedang patah dan remuk, merasa jiwa sedang hancur?. Yesus peduli, Ia mengerti apa artinya penderitaan dan duka, Ia sendiri sudah merasakan penderitaan itu. Kita barangkali mengatakan: “Aku tidak layak untuk ikut Yesus, dosa ku begitu besar, hidup ku begitu berat”, Yesus berkata: “Aku bukan datang untuk orang sehat, tetapi untuk orang yang sakit”.

Kalau kita ingin berhenti meninggalkan pelayanan, pandang Yesus!.

Ada sebuah cerita tradisi tentang Simon Petrus pada akhir masa hidupnya. Ia tinggal di Roma pada masa pemerintahan kaisar Nero yang kejam, orang-orang Kristen dianiaya. Jemaat di Roma meminta agar Rasul Petrus meninggalkan kota itu. Di tengah perjalanan,  Petrus bertemu dengan Yesus dan bertanya: “Hendak kemana engkau Tuhan?”, Yesus berkata: “Aku menuju kota Roma untuk disalibkan kembali”. Penampakan Yesus menyadarkan Petrus bahwa ia telah meninggalkan pelayanan dan segera ia balik arah pulang kembali ke Roma dimana kaisar Nero menyalibkannya. Menurut cerita tradisi Rasul Petrus meminta agar ia tidak disalibkan dengan kepala ke atas karena baginya itu terlalu terhormat disamakan dengan Yesus, Tuhan dan Rajanya. Ia meminta untuk disalibkan dengan kepala ke bawah.

Apabila pada waktu ini kita punya pikiran meninggalkan pelayanan, renungkanlah pertemuan Petrus dengan Yesus. Apakah kita ingin menyalibkan Yesus untuk ke dua kalinya?  Pandang Yesus dan  kembali ke dalam pelayanan. Ia akan menguatkan kita, memberikan kemampuan ekstra untuk mengatasi pergumulan betapapun beratnya.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Orang Setia Orang Berhasil

Mat. 25:14-30

Orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang yang setia.  Dalam perjanjian lama ada ayat-ayat yang secara khusus berbicara tentang keberhasilan, misalnya, Yusuf adalah seorang tokoh yang selalu berhasil di dalam hidupnya. Dalam Kej 39 : 2 dan Kej 39:23 tertulis rahasia keberhasilannya, yaitu penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Ia berhasil di rumah Potifar, ia berhasil walau di tempatkan di penjara dan ia berhasil sebagai Perdana Menteri Mesir.

Orang yang berhasil adalah orang yang di sertai oleh Tuhan dalam hidupnya. Disertai Tuhan berarti orang tersebut mendengarkan firman Dalam Maz. 1:1-3, dapat kita baca, orang yang mendengarkan, membaca firman Tuhan dan melaksanakannya akan berhasil dalam kehidupannya. Merenungkan firman Tuhan siang dan malam, berarti kita aplikasikan firman Tuhan itu dalam hidup keseharian kita. Misalnya  dalam pergaulan, kita kadang-kadang merasa seperti di rendahkan, di cemooh malah di fitnah sehingga membuat kita naik  darah dan ingin melakukan pembalasan. Pada saat itu kita ingat firman Tuhan dari 1 Petrus 3:9 yang berkata: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat”. Ayat ini menenangkan kita kembali. Pada waktu Roh Kudus mengendalikan hati dan pikiran kita untuk tidak membalas, maka sesudah itu akan ada tersedia berkat yang disediakan Tuhan bagi kita.

Di lain waktu sebagai seorang pelayan Tuhan, misalnya, kita mengalami kejenuhan. Kita merasa malas bergerak, pada saat itu pada ayat firman Tuhan yang kita ingat dari 2 Tim. 4 : 2 berbicara ke dalam hati kita: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”. Firman Tuhan ini memberi kita semangat untuk terus melayani.

Kehidupan memiliki banyak ragam dan  banyak dimensi. Di dalam setiap hal ada firman Tuhan yang boleh kita pegang, yang menuntun kita di setiap langkah jalan kita.

Mari kita beralih kepada “setia”. Kepada siapakah seorang setia? Seorang bisa setia pada orang lain, atau setia pada pekerjaan, setia pada pelayanan atau setia pada keyakinan yang dimilikinya. Arti setia dapat kita pahami dari janji pernikahan. Seorang pria atau seorang wanita mengucapkan ikrar janji setia pada pasangannya dalam keadaan berkelimpahan atau berkekurangan, dalam keadaan senang atau susah, dalam keadaan sehat atau sakit seumur hidup.

Kalau seorang setia kepada Kristus maka ia mempertahankan sikap itu seumur hidupnya, tidak tergantung bagaimanapun situasi yang dihadapinya. Seorang yang  setia pada pekerjaan atau pelayanan seumur hidupnya,  tidak tergantung apakah keadaannya sedang baik atau tidak baik, bagaimanapun situasi yang dihadapinya. Seorang yang setia pada keyakinannya akan mempertahankan imannya seumur hidup.

Sebagai pengikut Kristus, kesetiaan kita adalah  pada Yesus Kristus. Kita setia pada pelayanann, artinya, bagaimanapun situasinya apakah sedang musim kemarau apakah sedang musim hujan, kita tetap setia melayani Yesus. Kesetiaan ini memampukan kita  melayani, dalam semua situasi betapapun sulitnya keadaan yang kita hadapi.

Kita bisa mempelajari apa yang dikatakan Tuhan Yesus tentang kesetiaan dalam perumpamaan tentang talenta seperti terdapat dalam Mat. 25:14-30. Dalam perumpamaan ini, Yesus bercerita tentang seorang tuan yang akan berpergian dalam waktu yang lama. Ia mempercayakan hartanya pada hamba-hambanya. Kepada seorang hamba ia memberikan 5 talenta, kepada yang lain 2 talenta dan pada hamba yang ketiga 1 talenta. Masing-masing sesuai dengan kesanggupannya, mereka diminta untuk berusaha dengan harta yang ditinggalkannya itu.

Lama kemudian tuan itu datang kembali dan meminta pertanggungan jawab dari masing-masing hambanya. Hamba yang punya 5 talenta berkata bahwa ia mendapat keuntungan 5 talenta. Tuan itu memujinya dan mengatakan dalam ayat 21: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Hamba yang dipercayakan 2 talenta mendapat keuntungan 2 talenta, tuan itu memuji nya dalam ayat 23: “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”.

Tetapi hamba yang dipercayakan 1 talenta dia tidak mengolah harta itu ia berkata:  “Aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat dimana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat dimana tuan tidak menanam, karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah ini terimalah kepunyaan tuan”. Hamba ini tidak untung, tetapi juga tidak rugi. Ia tidak berani mengambil resiko, ia tidak mengusahakan talenta yang diberikan kepadanya.  Sebaliknya dari mendapat pujian, ia menerima kutukan dari tuan itu dan “campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap disana lah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.

Perumpamaan ini adalah perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus mengemukakan siapa yang masuk sorga dan siapa yang masuk neraka. Yang masuk sorga adalah hamba yang punya 5 talenta dan hamba yang punya 2 talenta. Menarik untuk kita amati, pujian tuan itu  kepada yang punya 5 talenta dan kepada yang punya 2 talenta  persis sama.

Ayat 21 dan ayat 23 persis sama.  Ini berbeda dengan cara dunia, dalam sebuah perusahaan misalnya, apabila seorang pegawai menghasilkan keuntungan 100 juta ia akan di hargai lebih tinggi dari seorang pegawai yang hanya menghasilkan 10 juta.  Tetapi penghargaan yang di berikan Tuhan kepada hamba-hambanya tidak tergantung dari besaran jumlah. Jumlah adalah ukuran manusia, tetapi ukuran bagi Tuhan adalah hati kita, kesetiaan kita. Ketika seorang janda miskin memberi persembahan 2 peser ia mengatakan persembahan itu jauh lebih tinggi nilainya dari persembahan yang diberikan oleh orang kaya, karena janda ini memberikan dari kekurangannya sedangkan orang kaya memberi dari kelebihannya. Tuhan melihat hati.

Oleh karena itu, kita jangan kecewa waktu mengiring Yesus, mungkin kita berkata: “Aku hanya bawa satu jiwa bagi-Mu Yesus”, barangkali itu adalah suami atau isteri kita, barangkali anak kita Bukan jumlah yang penting. Pada waktu Petrus dan para rasul berkhotbah pada hari Pentakosta, ada 3000 orang yang bertobat hari itu. Tetapi, dalam pelayanan penginjil William Carey di India, seorang India baru dimenangkan sesudah 7 tahun. Hal yang sama terjadi dalam pelayanan Adoniram Judson di Birma, satu jiwa dimenangkan sesudah 6 tahun ia melayani. Bukan jumlah, tetapi hati yang diperbaharui.

Hamba yang di percayakan 5 talenta dan hamba yang di percayakan 2 talenta masuk sorga karena mereka setia, mereka taat pada perintah tuannya walaupun adakalanya keadaan tidak baik, adakalanya mereka hidup berkekurangan. Tetapi sungguh malang nasib hamba yang dipercayakan 1 talenta,  walau ia tidak untung, ia juga tidak rugi, tetapi bukan soal untung dan rugi yang penting bagi Tuhan, tetapi ia tidak setia kepada tuan itu, ia tidak menjalankan perintah tuannya.

Jelas dari perumpamaan ini sikap setia sangat penting. Orang setia masuk sorga, orang yang tidak setia masuk neraka. Pertanyaannya, apakah kita bisa menjadi orang yang setia? Tidak bisa dengan kekuatan sendiri.  Dalam masa PB, Tuhan mencurahkan Roh-Nya yang kudus diam di dalam hati kita. Kehadiran Roh kudus memampukan dan membuat kita menjadi orang yang setia. Setia adalah salah satu dari sembilan buah Roh yang tertulis  dalam Galatia 5 : 22-23.

Kembali pada tema, orang setia orang berhasil. Tidak ada kontradiksi antara orang yang berhasil dan orang yang setia. Berhasil dan setia adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Bagi kita yang berkerja sebagai usahawan, pegawai, karyawan atau yang sedang mengikuti pendidikan, penekanan pada keberhasilan mungkin lebih sesuai bagi kita. Dalam hal ini, perlu kita ingat, penyertaan Tuhan lah yang membuat kita berhasil.

Bagi hamba dan pelayan Tuhan, tampaknya penekanan pada setia lebih sesuai dengan keadaan. Dalam pelayanan ada banyak hal yang tidak kita mengerti. Kita tidak mengetahui bagaimana perjalanan pelayanan kita di masa yang akan datang. Yang penting, tetap setia.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Kejujuran

Sering kita mendengar ”orang jujur hidupnya terkubur”, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Hidup penuh tekanan, tampaknya apapun yang kita lakukan secara jujur akan macet ataupun jalan di tempat. Dari urusan seperti surat keterangan, surat izin, tender proyek sampai anak masuk sekolah, semuanya membutuhkan pelicin atau sogokan, atau kadang-kadang dikemas dalam bentuk ”ucapan terima kasih”. Kita merasa hal-hal seperti ini, sudah merupakan hal yang wajar, menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat kita.

Seolah-olah, tidak ada lagi tempat bagi orang-orang jujur, di kota-kota seperti Jakarta, apakah ini benar? Kalau kita menggunakan pertimbangan-pertimbangan akal-pikiran, ya, kita mungkin sepakat, tidak ada lagi tempat bagi orang jujur. Tetapi, ada cara lain untuk melihat masalah ini. Kita bisa memandang permasalahan kehidupan dari kaca mata rohani. Dari pandangan ini, pandangan rohani, kita akan sampai pada perbyataan bahwa orang jujur hidup subur, hidup makmur.

Model, patron atau idola kita untuk seorang yang jujur, tidak lain dari Yesus Kristus sendiri. Bahkan orang-orang yang berusaha mencari kesalahan-kesalahan-Nya mengatakan hal itu. Dalam Mrk. 12:14, tertulis, ”Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Ada tiga kali kata ”jujur” kita temukan di dalam ayat ini. Ketiganya adalah atribut Yesus yang disebut orang-orang yang mendatanginya. Pertama, mereka mengetahui “Yesus adalah seorang yang jujur”. Yang kedua, “Yesus dengan jujur mengajar jalan Allah” dan yang ketiga, “Ia mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran”. Kalau tiga kali kata “jujur” dipergunakan di sini, menunjukkan sikap ”jujur” adalah sesuatu yang amat penting.

Yesus adalah seorang yang jujur. Apa artinya, orang yang  jujur? Orang jujur adalah orang yang tidak korupsi, lawan kata dari koruptor. Dari sisi yang lain, orang jujur adalah orang yang tidak menipu, yang tidak berbohong dan tidak bersifat munafik.

Yesus berkata dalam Mat. 5:37: ”Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”.  Kalau kita sudah memahami apa arti ”orang yang jujur”, tentu kita ingin agar anak-anak kita menjadi orang yang jujur. Bapa dan ibu sependapat dengan saya bahwa sebagai orang tua kita tidak mau anak kita menjadi seorang penjahat. Sekali lagi, kita mau anak-anak kita menjadi orang yang jujur.

Tetapi, apakah kita mengajar anak-anak kita menjadi orang yang jujur? Perkara kecil, misalnya, pada waktu malam, supaya anak kita tidak ke luar rumah, kita katakan: ”Ada hantu di luar”, dan kita berbohong. Apabila kita membawa anak bertamu ke rumah orang lain dan orang itu menawarkan untuk ikut makan bersama maka kita mengatakan: ”Kami sudah makan tadi di rumah”. Padahal sebenarnya kita belum makan dan anak kita melihat kebohongan itu. Apabila anak kecil kita terpeleset di tengah-tengah tamu-tamu kita mengatakan: ”Oh ya, anakku tidak merasa sakit”, padahal ia merasa sakit. Kita berkata kepada anak kita: ”Baik-baik belajar di rumah, nanti Papa dan Mama akan bawa oleh-oleh”, tetapi waktu Papa dan Mama pulang mereka tidak membawa oleh-oleh itu. Anak-anak ini kembali melihat sebuah tontonan tentang kebohongan.

Kejujuran sering disebut sebagai modal penting untuk mendapatkan kepercayaan. Apabila seorang yang meminjam uang mengatakan akan mengembalikannya minggu depan dan ia tidak menepati janjinya, si pemberi utang akan berkurang kepercayaannya. Sering sekali pedagang berbohong dengan mengatakan: “Oh, modalnya pun tidak sampai segitu”, padahal sebenarnya ia sudah mendapatkan untung. Contoh-contoh seperti ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah ada contoh-contoh orang-orang yang jujur dan orang-orang yang tidak jujur dalam Alkitab. Tentu saja ada. Misalnya, Ananias dan Sapira dalam Kisah Para Rasul, ketika mereka menjual harta miliknya dan mempersembahkannya di depan para rasul, tetapi mereka berbohong tentang harganya. Kebohongan ini mereka bayar dengan nyawa. Ini adalah contoh yang sangat tragis tentang orang yang tidak jujur.

Dalam cerita penyembuhan Panglima Aram, namanya Naaman, dari penyakit kusta, Nabi Elisa menolak pemberian Naaman sebagai tanda ucapan terima kasih. Tetapi, Gehazi, pembantu Elisa merasa kesempatan itu tidak boleh disia-siakan begitu saja, ia mendatangi Naaman dan mengatakan bahwa ada orang yang membutuhkan persembahan Naaman itu.  Gehazi memang mendapat harta benda yang diingininya, tetapi penyakit kusta Naaman berpindah kepadanya . Bukan hanya ia yang kena penyakit kusta tetapi juga seluruh keturunannya, contoh yang sangat tragis. Alkitab dengan tegas tidak mentolerir orang yang tidak jujur.

Daud adalah seorang raja yang memahami arti dari sebuah kejujuran. Dalam kesesakan, dalam masa pergumulan, Daud memeriksa hatinya untuk tetap berjalan dalam kejujuran. Dalam Ma. 25:21-22  ia berkata: ”Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau. Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya”. Ada hal istimewa dalam hidup jujur, ada fasilitas istimewa yang diberikan kepada orang yang jujur. Pertama, Ams. 2:7, : ”Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya”. Orang yang jujur hidup subur, hidup makmur, karena Allah memberikan pertolongan kepadanya. Keluarga barangkali tidak memberikan pertolongan, para pejabat barangkali tidak memberikan pertolongan, orang-orang disekitarnya tidak memberi pertolongan, tetapi ada yang memberi pertolongan kepada orang yang jujur, Allah sendiri di dalam Yesus Kristus. Ada amin, Saudara? Oleh karena itu jadilah orang yang jujur.

Kedua, Ams. 2:21, ” Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ”. Saudara tidak perlu khawatir tentang tempat tinggal, dimanapun Saudara berada. Tanah adalah lambang tentang pemilikan atas satu tempat. Allah berjanji memberikan tempat bagi Saudara, rumah untuk tinggal, bagi Saudara dan keluarga. Orang jujur ternyata memiliki fasilitas sorgawi. Orang jujur memiliki apa yang dibutuhkannya di dalam hidup ini.

Selanjutnya, ketiga, firman Tuhan dalam  Ams. 3:32,  berkata:  ”Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat”. Dengan orang jujur Allah bergaul erat. Allah senang dengan orang yang jujur. Saudara, kalau kita  bergaul akrab dengan seorang pejabat, katakanlah seorang camat sekalipun, maka kita akan mendapatkan fasilitas, kemudahan dari Bapak Camat. Kalau kita kenal akrab dari seorang Menteri kita akan mendapatkan fasilitas dan kemudahan dari Bapak Menteri. Apabila kita akrab dengan seorang pejabat di dunia ini saja kita mendapat kemudahan dan keistimewaan, apa lagi kalau kita bergaul akrab dengan Raja di atas segala raja, Tuhan di atas segala tuhan. Orang jujur hidup subur, orang jujur hidup makmur.

Yesus adalah model sempurna tentang orang yang jujur. Ada ayat-ayat kitab Amsal yang berbicara tentang fasilitas yang khusus dimiliki oleh orang-orang yang jujur. Kita semua ingin menjadi orang yang jujur. Pertanyaannya, apakah kita bisa menjadi orang yang jujur? Terus terang, jawabannya tidak bisa! Dengan kekuatan sendiri, walaupun sudah mendengar ayat-ayat firman Tuhan, cerita yang memotivasi, kita akan melupakannya dan tidak akan bisa menjadi orang jujur. Hanya Yesus yang jujur, karena Ia adalah Allah. Tetapi puji Tuhan, dalam masa Perjanjian Baru ini, pada masa pencurahan Roh Kudus, kita memang tidak bisa menjadi orang jujur dengan kekuatan sendiri tetapi Yesus Kristus yang tinggal dalam hati kita, dalam Roh Kudus, memampukan kita menjadi orang jujur.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Apakah Mujizat Masih Terjadi?

Yohanes 2 : 1-8

 Pandangan-pandangan umat Kristiani tentang mujizat ada diantara dua ekstrim. Ekstrim pertama mengatakan: “Tidak ada lagi Mujizat, Mujizat hanya terjadi pada zaman kisah rasul-rasul. Pada waktu itu diperlukan tanda-tanda heran untuk mengabarkan Injil”. Mereka menganggap kekuatan supranatural, kekuatan Sorgawi tidak diperlukan lagi pada masa kini, karena tuntunan hidup bagi orang percaya sudah sempurna dinyatakan di dalam Alkitab. Panndangan ekstrim kedua mengatakan: “Masa kini adalah masa demonstrasi kuasa Allah. Mujizat terjadi dalam jumlah banyak, sekala yang besar; ada kesembuhan massal, ada tanda-tanda heran ketika orang-orang percaya berkumpul, kehidupan masa kini adalah kehidupan Mujizat”.

Dari pembacaan firman Tuhan yang sudah kita baca, ada empat urutan tindakan bagi terjadinya sebuah mujizat:

  1. Yesus diundang ke pesta pernikahan itu.
  2. Pada waktu ada kesulitan, masalah ini dilaporkan kepada Yesus.
  3. Yesus memberitahukan apa yang harus dilakukan.
  4. Ada sarana yang dipakai untuk melakukan mujizat itu, yaitu air, air pembasuhan dalam tempayan.

Mari kita renungkan lebih jauh.

Pertama, mengundang Yesus, mendekati Yesus adalah awal dari terjadinya mujizat. Yesus adalah Tuhan adalah Maha Kudus, Ia hanya bisa kita dekati dalam kekudusan. Tanpa  kekudusan, tidak ada seorangpun yang bisa menghadap Tuhan.

Pada waktu Tuhan bertemu Musa disemak belukar, ada api tetapi rumput tidak terbakar. Tuhan berkata kepada Musa: “Tanggalkanlah sepatumu karena tempat ini Maha Kudus”. Di suatu tempat dimana ada Tuhan adalah tempat yang kudus. Pada waktu Tuhan bertemu dengan Musa di Gunung Sinai, Tuhan berkata: “Orang-orang Israel termasuk hewan-hewannya tidak boleh mendekat ke lereng Gunung Sinai karena mereka bisa mati”.

Pada waktu Nabi Yesaya menerima penglihatan tentang Allah, ia berkata: “Celakalah aku, aku binasa sebab aku ini seorang yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja yakni Tuhan Semesta Allah”. Begitu luar biasanya kemuliaan Tuhan. Bahkan makhluk-makhluk sorgawi yang melayani Allah menutup mata mereka, tidak sanggup melihat kemuliaan Tuhan.

Tidak ada seorangpun yang bisa mengenal Tuhan, Ia hanya bisa kita kenal apabila Ia memperkenalkan diri-Nya kepada kita dan itulah yang terjadi pada waktu Ia memperkenalkan diri kepada umat manusia di dalam Anak-Nya Yesus Kristus.

Menyembah Tuhan harus dengan kekudusan, dinyatakan dalam ayat-ayat firman Tuhan dalam  I Taw. 16, Maz. 29 dan Maz. 96.

Langkah kedua terjadinya mujizat adalah menyampaikan masalah kita, pergumulan berat yang sedang kita hadapi pada saat ini kepada Yesus. Kenapa kita perlu menyampaikannya, bukankah Tuhan itu Maha Tahu, mengerti segala sesuatu? Dia tahu kita punya masalah, Ia tahu kita sakit, Ia tahu kita berkekurangan, Ia tahu tentang diri kita dari ujung kaki sampai ujung rambut, tetapi kita perlu memberitahukannya bukan karena Ia tidak tahu tetapi karena Ia senang mendengarkan suara hati dan permohonan kita yang tulus.

Tuhan tidak senang apabila kita berdoa kepada-Nya seperti ini: “Berilah Tuhan semua yang kami butuhkan karena Engkau lebih cakap memberi dari kami meminta”, atau doa seperti ini: “Tuhan, berikanlah kami makanan dan minuman kami untuk satu tahun ini”. Tuhan tidak senang kita berdoa hanya sekali dalam seminggu, sebulan atau setahun. Ia mengajari kita dalam “Doa Bapa Kami” untuk meminta sehari lepas sehari “berilah kami makanan kami yang secukupnya pada hari ini”, sehingga kita berdoa setiap hari, setiap waktu kepada-Nya.

Ada yang mengatakan doa adalah nafas orang Kristen, tidak berdoa berarti mati, banyak berdoa banyak berkat, sedikit berdoa sedikit berkat, tidak berdoa tidak ada berkat. Doa adalah salah satu kunci terjadinya mujizat dalam kehidupan kita.

Langkah ketiga bagi terjadinya mujizat, mendengarkan apa petunjuk atau perintah Yesus. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan untuk mengisikan air ke dalam enam tempayan yang biasa dipergunakan untuk pembasuhan. Turuti perintah-Nya walau tidak masuk akal. Air menjadi Anggur! Seandainya pelayan-pelayan itu adalah ahli-ahli ilmu kimia, mungkin mereka mengatakan; “Tidak mungkin air bisa dirubah menjadi Anggur”, maka mujizat itu tidak terjadi”.

Maria berkata kepada pelayan-pelayan: “Apapun yang Yesus katakan lakukan itu”. Melakukan firman Tuhan walau tidak masuk akal, adalah kunci kehidupan iman, melakukan sesuatu diluar akal budi dan pikiran kita.

Firman Tuhan sering tidak bisa diterima dengan akal dan pikiran. “Berilah persembahan perpuluhanmu, maka Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mengusir belalang pelahap”, kata Maleakhi. Kalau kita pakai akal pikiran, memberi itu adalah satu kerugian, manusia ingin hanya menerima saja. Itu sebabnya banyak orang-orang Kristen yang tidak menjalankan perpuluhan karena mereka tidak percaya apa yang dikatakan Maleakhi, “tingkap-tingkap langit akan dibuka dan belalang pelahap akan dihilangkan”.

Laksanakan firman Tuhan walau itu tidak masuk akal. Maz. 112 mengatakan: “Orang yang takut akan Tuhan, anak cucunya perkasa dimuka Bumi”. Kalau kita mau anak-anak kita menjadi orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya takutlah akan Tuhan, dengarkan firman-Nya dan laksanakan.

Keempat, dalam mujizat air menjadi anggur, Yesus tidak melakukan mujizat secara simsalabim, misalnya, sewaktu kurang anggur,  tiba-tiba muncul botol-botol anggur dalam jumlah yang banyak, tidak demikian.  Dalam membuta mujizat, Ia meminta apa yang kita miliki walau menurut kita itu tidak berarti. Air yang dipakai untuk pembasuhan di jadikan Tuhan menjadi anggur. Pada waktu Nabi Elia bertemu dengan janda Sarfat yang berada di ambang kematian karena bahan makanan sudah habis ia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli. Tetapi, karena janda Sarafat ini percaya kepada Elia dan melaksanakan apa yang dikatakannya, tepung gandum dan minyak tidak habis-habis selama masa kekeringan yang panjang. Segenggam tepung dan sedikit minyak, bisa dipakai Tuhan menghidupi Nabi Elia, janda Sarfat dan putrinya pada masa kekeringan yang panjang.

Ketika ribuan orang mendengarkan khotbah Yesus dan menjadi lapar, murid-murid mengatakan tidak punya uang membeli makanan dan kalaupun ada uang, kemana bisa belanja untuk memenuhi kebutuhan sebanyak itu? Yesus berbelas kasihan pada jemaat yang kelaparan itu. Di sana ada anak kecil yang dibekali ibunya dengan 5 roti dan 2 ikan, Ia memberkati 5 roti dan 2 ikan iyu dan menjadikannya makanan bagi ribuan orang, dan bahkan masih tersisa.

Dalam masa kekurangan, pada waktu kita mengalami masalah, persembahkanlah apa yang kita punya walau sedikit nanti Tuhan akan menggandakannya. Persembahkanlah apa yang kita miliki bagi Tuhan, waktu kita, tenaga kita, talenta kita, apa saja yang bisa kita berikan kepada Tuhan, persembahkanlah itu dan Tuhan bisa melipat gandakannya, Tuhan bisa memakainya sehingga terjadi mujizat dalam kehidupan kita.

Akhirnya, apa tujuan terjadinya mujizat? Dalam peristiwa perkawinan Kana, Yesus datang bersama murid-murid-Nya yang baru bergabung sehari dua dengan-Nya. Melalui mujizat ini murid-murid diteguhkan imannya. Pada waktu kita melihat mujizat terjadi dalam kehidupan kita, kita semakin takjub, semakin hormat, bahkan semakin takut kepada Tuhan, karena Ia adalah Tuhan yang sungguh-sungguh real, sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Doa Bapa Kami

Matius 6:9-13, Lukas 11:2-4

Masing-masing denominasi Gereja mempunyai tata ibadah, liturgi yang berbeda antara 1 dengan lainnya. Ada tata ibadah yang memasukkan Doa Bapa Kami dalam setiap ibadah atau kebaktian, tetapi ada pula Gereja-Gereja yang tidak secara khusus memasukkan Doa Bapa Kami dalam tata ibadahnya. Dalam satu denominasi seperti kita di GIKI, ada jemaat lokal yang memasukkan dan ada pula yang tidak memasukkannya dalam tata ibadah. Tampaknya, hal ini dibawa oleh Majelis Pengerja dari kebiasaan gereja asal sebelum melayani di GIKI.

Ada jemaat yang merasa diucapkan atau tidak diucapkan Doa Bapa Kami menunjukkan aliran dari sebuah gereja. Kalau ibadah sebuah gereja ada mengucapkan Doa Bapa Kami, mereka akan mengatakan, “Ini sealiran dengan kita”. Sebaliknya, apabila ada Gereja tidak memasukkan Doa Bapa Kami dalam tata ibadahnya mereka mengatakan, “tidak Sealiran dengan kita”. Secara ekstrim, ada jemaat yang merasa ibadah tidak sah, tanpa Doa Bapa Kami. Kalau hal ini terjadi, menunujukkan bahwa kita bersama-sama perlu merenungkan kembali tentang arti dan makna dari Doa Bapa Kami itu.

Bagi kita yang secara rutin mengucapkan Doa Bapa Kami dalam setiap ibadah, dalam perlu dijaga agar Doa Bapa Kami tidak hanya sekedar menjadi satu rutinitas, dimana yang berbicara adalah bibir dan mulut, tetapi hati tidak berbicara. Makna, arti dari Doa Bapa Kami akan hilang apabila kita terbenam dalam rutinitas. Sebaliknya, dalam ibadah-ibadah yang tidak mengucapkan Doa Bapa Kami, kita perlu juga ingat bahwa Doa Bapa Kami adalah satu doa yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, satu model doa yang sempurna. Perlu kita waspadai bersama, mencegah Doa Bapa Kami dijadikan sebagai sebuah mantera.

Doa Bapa Kami diajarkan oleh Yesus atas permintaan murid-murid-Nya. Mereka melihat Yohanes Pembaptis mengajar murid-muridnya berdoa dan mereka juga ingin diajar untuk berdoa. Tuhan Yesus mengajari mereka berdoa itulah Doa Bapa Kami. Yang diajarkan oleh Yesus, adalah bagaimana berdoa, sebuah model doa. Tuhan Yesus tidak meminta agar setiap kali kita mengucapkan doa dengan kalimat dan kata-kata yang sama dan tidak boleh digunakan sebagai mantera. Hal ini berbeda dengan Perjamuan Kudus, yang secara jelas Yesus meminta kita, murid-murid-Nya untuk melakukannya berulang-ulang.

Setiap kata atau kalimat dalam doa Bapa Kami, mengadung pokok-pokok teologis yang penting seperti sebutan Bapa bagi Tuhan, kekudusan, Kerajaan Allah dan pengampunan.

Doa Bapa Kami dimulai dengan ucapan “Bapa Kami yang di Sorga”. Sebutan Bapa bagi Tuhan diajarkan oleh Yesus Kristus. Ia menyebut diri-Nya sendiri sebagai Anak Manusia dan Ia menyebut Allah sebagai Bapa. Ia juga mengajar murid-murid-Nya, pengikut-Nya untuk menyebut Allah sebagai Bapa. Tidak semua orang bisa menyebut Allah sebagai Bapa. Dalam Roma 8:14 disebutkan “Anak-anak Allah adalah mereka yang didiami oleh Roh Allah, oleh Roh Kudus”.Kalau kita pertajam pengertian ini, kita dapat mengatakan: “Kalau seorang belum didiami oleh Roh Kudus, ia bukan Anak Allah”. Kehadiran Roh Kudus dalam diri orang percaya tidak bisa ditawar-tawar, tanpa Roh Kudus seorang tidak bisa masuk Sorga. Dalam Roma 8:9, Paulus menulis: “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”.Artinya, jika seorang tidak memiliki Roh Kudus, Roh Allah, Roh Tuhan maka ia bukan milik Kristus, bukan milik Allah, tetapi ia adalah  milik si iblis.

Kapankah Roh Kudus dianugerahkan kepada kita? Pada waktu kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Hal itu bukan terjadi dengan kekuatan kita tetapi karena Roh Kudus menjamah hati kita. Roh Kudus mengingatkan kita akan kesalahan-kesalahan, dosa-dosa kita, Roh Kudus menuntun kita pada pertobatan, Roh Kudus melahir barukan kita. Ketika kita menerima Roh Kudus kehidupan kita berubah, tetapi perubahan itu bukan perubahan sekali jadi seperti membalik telapak tangan. Perubahan itu adalah proses pengudusan. Pertobatan, menerima Yesus, menerima Roh Kudus dalam hati kita terjadi satu kali, tetapi proses pengudusan berlangsung seumur hidup, kita disempurnakan semakin serupa dengan Yesus. Dapat kita simpulkan, Allah adalah Bapa kita apabila Roh Kudus sudah tinggal di dalam hati kita.

Selanjutnya, “Bapa Kami yang di Sorga”. Doa Bapa Kami mengingatkan kita akan adanya Sorga, ada Sorga berarti ada juga Neraka. Pada suatu waktu semua orang tanpa terkecuali akan dihakimi oleh seorang hakim yang Maha Agung yaitu Yesus Kristus sendiri. Orang masuk sorga atau neraka tidak ditentukan di sorga, tetapi ditentukan di dunia ini, ditentukan oleh respon yang ia berikan terhadap pewartaan Injil. Orang yang menerima berita Injil masuk sorga, tetapi orang yang menolaknya masuk neraka. Dalam Mrk. 16:15-16 tertulis perkataan Yesus: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”.

Selanjutnya, “Dikuduskanlah namaMu”.  Tuhan adalah Maha Kudus. Kita hanya bisa menghadap Tuhan dengan kekudusan. Menyembah Tuhan berhiaskan kekudusan seperti tertulis dalam I Tawarikh 10:29, Mazmur 29:2, Mazmur 96:9. Tanpa kekudusan kita tidak bisa mendekati Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, dalam perjalanan umat Israel dari tanah Mesir ke tanah Kanaan, apabila Tuhan mengadakan pertemuan khusus dengan umat-Nya maka umat Israel harus menguduskan dirinya, misalnya; dengan mecuci pakaian dan menjauhkan diri dari kenajisan. Apabila kita mengucapkan Doa Bapa Kami, periksa relung-relung hati kita yang paling dalam, apakah hati kita sudah dikuduskan sehingga doa kita bisa diterima oleh Tuhan. Apabila kita merasa kehidupan kita jauh dari kehidupan yang kudus, itulah saatnya kita koreksi diri. Petrus berkata dalam Kisah Para Rasul 2:38: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Inilah seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yesus pada Markus 1:15, “Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat dan percayalah kepada Injil”.

Selanjutnya, “Datanglah Kerajaan-Mu”. Kerajaan Allah, apakah Kerajaan Allah itu belum datang dan masih menunggu penggenapan-Nya? Tuhan Yesus mengatakan “Kerajaan Allah sudah dekat” 2000 tahun yang lalu dalam pengertian “sudah sangat dekat”. Berarti, Kerajaan Allah itu sudah datang bersama dengan kehadiran Yesus dimuka Bumi ini. Yesus Kristus adalah raja. Rakyatnya adalah kita semua orang-orang yang percaya kepada-Nya. Secara istilah,  kita tidak disebut sebagai rakyat tetapi anak-anak Allah, keluarga besar Kerajaan Allah. Sebagai raja Ia memberikan keamanan, kesejahteraan dan membela umat-Nya dari perlakuan yang tidak adil.

“Datanglah Kerajaan-Mu”, pada masa kini Kerajaan Allah sudah ada, tetapi orang benar dan orang berdosa masih hidup berdampingan bersama-sama, sampai suatu saat nanti sangkakala berbunyi, akan terjadi pemisahan antara orang benar dan orang berdosa. Pada waktu itulah Kerajaan Allah ada dalam bentuk yang sempurna, hanya didiami oleh orang-orang benar. “Datanglah Kerajaan-Mu”, merujuk pada Kerajaan Allah yang sempurna pada waktu kedatangan Yesus yang kedua kali.

Selanjutnya, “Jadilah kehendakMu di Bumi seperti di Sorga”. Kehendak Tuhan lah yang jadi bukan kehendak kita. Kita tidak bisa memaksa Tuhan menjawab doa menurut keinginan kita. Tidak ada suatu prosedur, tata acara dan aturan berdoa untuk bisa memaksa Tuhan memenuhi keinginan kita. Di Taman Getsemani, Yesus berdoa: “Jadilah kehendakMu Bapa, bukan kehendakKu”.Jadilah kehendak Tuhan, berarti ada penyangkalan diri dari pihak kita, menerima apapun jawaban dari sebuah doa, meyakini  itu adalah yang terbaik buat kita pada suatu waktu, walau barangkali tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau yang kita inginankan. Tuhan menjawab doa atas dasar belas kasih. Untuk mendapat belas kasihan Tuhan, kita perlu merendahkan diri dihadapan-Nya, menyembah-Nya dalam kekudusan, melakukan firman-Nya sekuat tenaga kita. Lakukan apa saja pun, hal-hal kecil, hal-hal besar yang kita rasa bisa menarik perhatian Tuhan dalam memohon belas kasih-Nya.

Selanjutnya “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya”, bukan makanan seminggu, sebulan atau setahun. Tuhan rindu kita berkomunikasi dengan Dia setiap hari, kita minta kebutuhan untuk satu hari. Sering berdoa menyenangkan hati Tuhan.

“Makanan yang secukupnya”. Pada waktu umat Israel berjalan dari Tanah Mesir ke tanah Kanaan mereka mendapatkan manna, mereka boleh ambil dalam jumlah yang cukup untuk hari itu, apabila mereka menyimpannya lebih lama maka manna itu akan menjadi busuk. Kalau kita  lihat foto-foto keluarga tahun 50-an, orang-orang yang hidup pada masa itu, tubuhnya rata-rata ramping atau lebih mengarah pada kurus, karena waktu itu makanan amat terbatas, makan daging ayam saja misalnya hanya pada acara-acara tertentu, pada waktu kita menjamu tamu yang istimewa. Menu makanan di hari-hari biasa terdiri dari sayur dan ikan asin saja. Dengan menu seperti itu, orang-orang jaman dulu kelihatan lebih sehat dari kita sekarang ini. Sekarang ini kita tiap hari bisa memakan daging ayam sehingga tampak lebih gemuk dari orang-orang jaman dulu. Ada orang mengatakan, “makanan adalah pembunuh manusia terbanyak masa kini”, makanan yang berlemak, cepat saji, makanan dalam kaleng dan lain-lain sebagainya menurut dokter tidak baik untuk kesehatan. Doa Bapa Kami mengajarkan kita hidup sehat yaitu makan secukupnya, kata ahli gizi “berhenti makan sebelum kenyang”.

Selanjutnya Matius 6 : 12, “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Mengampuni adalah tema yang indah dalam kehidupan orang Kristen. Setiap kali kita mengucapkan Doa Bapa Kami, kita perlu memeriksa apakah ada saudara-saudara yang belum kita ampuni. Apabila kita menghayati, menjiwai Doa Bapa Kami,  maka akar pahit, luka jiwa tidak akan ada dalam diri kita. Sebaliknya, apabila kita tidak mengampuni Tuhan tidak akan mendengarkan doa kita.  Dalam ayat 14, 15 dikatakan: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Dua  ayat terakhir ini jelas dan tegas berbicara tentang pentingnya arti pengampunan, suara hati Tuhan tentang pengampunan.

Dalam Matius pasal 18, suara hati Tuhan dinyatakan dalam satu perumpamaan tentang seorang yang berhutang kepada raja lebih dari 1 trilyun Rupiah, tidak mampu membayarnya sehingga raja memasukkan orang itu ke dalam penjara. Tetapi oleh karena hamba itu memohon belas kasihan, raja berbelas kasihan menghapuskan hutangnya yang sangat-sangat besar itu. Ketika hamba itu keluar dari penjara, ia bertemu dengan seorang temannya yang berhutang kepadanya sekitar beberapa juta rupiah saja.  Ia mencekik kawannya itu dan mendesak untuk membayar hutangnya. Kawannya memohon belas kasihan tetapi hamba ini tadi menjebloskannya ke dalam penjara. Ketika hal ini di dengar oleh raja, ia murka, menangkapnya kembali dan menyerahkannya kepada algojo-algojo. Betapapun kita sakit hati akan perbuatan saudara-saudara yang lain kepada kita walau kita merasa trauma sekalipun, semua itu adalah sangat-sangat kecil dibandingkan dengan dosa yang sudah kita perbuat kepada Tuhan.

Apabila Tuhan mengampuni dosa kita yang demikian besar, maka kita juga diminta oleh Tuhan mengampuni saudara-saudara kita, apabila hutang kita sebesar 1 trilyun rupiah sudah dihapuskan oleh Tuhan maka kita juga diminta menghapuskan hutang saudara-saudara kita yang beberapa juta rupah tadi. Ada banyak sakit penyakit pada waktu ini yang ditimbulkan oleh akar pahit, luka jiwa, dendam, tidak mengampuni membuat kita lemah secara jasmani dan secara mental. Penyembuhannya bukan melalui obat-obatan tetapi melalui terapi rohani. Apabila kita bisa berdamai, saling mengampuni dengan saudara-saudara yang lain, akar pahit, luka jiwa itu hilang.

Dari renungan ini kita dapat melihat Doa Bapa Kami itu berisi konsep-konsep teeologis yang amat penting dalam hubungan kita dengan Tuhan. Doa Bapa Kami adalah visi Tuhan yang Ia ingin kita mengetahuinya. Kita memandang-Nya sebagai Bapa di dalam Yesus Kristus, kita menyembah-Nya di dalam kekudusan. Ia di dalam anak-Nya Yesus Kristus adalah Raja dalam Kerajaan Allah itu yang sudah ada sekarang dan akan disempurnakan pada waktu kedatangan Yesus yang ke-2 kali. Ia ingin agar kita saling mengampuni seperti Ia sudah mengampuni dosa-dosa kita. Ia ingin kita hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Doa Yang Dikabulkan

Mrk. 10:46-52

 Ada beberapa hal yang menarik dari cerita yang kita baca, pertama, banyak orang menonton dan mengiring Yesus. Disebutkan tadi ”berbondong-bondong”, tetapi dalam peristiwa itu, mujizat hanya terjadi pada diri Bartimeus. Bila kita  berada dalam ruang ibadah, dalam KKR, dalam persekutuan doa, yakinkan bahwa kita tidak hanya sekedar hadir tetapi ikut mendapatkan berkat, baik dari firman Tuhan yang disampaikan, baik dari nyanyian pujian baik maupun dari kesaksian-kesaksian saudara seiman.

Pertemuan dengan Yesus bisa terjadi dimana saja,  tidak harus ditempat ibadah atau ruang pertemuan. Bartimeus bertemu dengan Yesus di jalan raya. Kita mungkin bertemu dengan Yesus di jalan raya, di keramaian, di rumah sakit,  di tempat hiburan, di pinggir pantai, di atas gunung, di atas kereta api atau di atas pesawat terbang.  Apakah kita mendengarkan siaran radio, menonton televisi, membaca buku rohani atau sedang berbicara dengan saudara lain yang punya pergumulan. Ada kalanya, dalam saat-saat seperti itu Yesus berbicara kepada kita. Bukan pengkhotbahnya yang penting dalam suatu acara rohani, yang penting, kehadiran Tuhan Yesus dalam acara tersebut.

Dalam Mrk. 10:47, tertulis    Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” Bartimeus memanggil nama Yesus, ia berteriak dan ketika orang lain menegor agar ia tidak berteriak, ia bukannya diam malah berteriak lebih keras lagi ”Anak Daud kasihanilah aku”. Banyak kesaksian Alkitab, Tuhan menjawab pada waktu umat-Nya  berseru kepada-Nya. Pada waktu kita menghadapi pergumulan dalam hidup kita, jangan minta bantuan kiri-kanan atau pada kerabat, tetapi pertama-tama berserulah kepada Tuhan maka Tuhan akan menjawab.

Tuhan menjawab doa yang disampaikan dengan iman. Dalam Luk. 18:1-14, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang janda dan hakim yang jahat. Walaupun hakim ini adalah seorang yang tidak takut Tuhan tetapi oleh karena janda ini berulang-ulang datang meminta bantuannya maka akhirnya ia mengabulkannya. Yesus berkata: Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk tidak jemu-jemu berdoa. Ada ungkapan ”sedikit berdoa sedikit berkat,  banyak berdoa banyak berkat , tidak berdoa tidak ada berkat”. Ada yang mengatakan bahwa doa adalah nafas orang Kristen.

Berdoa tidak memerlukan suatu cara yang formal. Kita bisa berdoa pada waktu kita berada dalam angkutan umum, dalam bus atau di dalam angkutan kota. Kita berdoa pada waktu kita sedang duduk di kantor. Kita bisa berdoa pada waktu kita sedang berada di kamar mandi. Dimanapun kita bisa berdoa, sehingga hidup kita adalah hidup berdoa. Di kantor, ketika hendak berbicara dengan pimpinan, doakanlah terlebih dahulu sebelum membuka pintu untuk masuk ruang pimpinan. Kita yang berdagang di pasar, pada waktu pembeli lagi tidak ada, tumpangkan tangan kita, doakan barang-barang yang dijual, kita akan terkejut melihat hasilnya. Bagi pelajar dan mahasiswa, sebelum ujian berdoalah lebih dalam hati, Tuhan akan memberikan pencerahan, hikmat dan kepintaran. Berdoa dengan tidak jemu-jemu berarti ada kalanya doa yang kita panjatkan itu tidak dijawab dengan segera. Mungkin jawaban doa akan kita terima sesudah waktu yang agak lama.

Selanjutnya, bagaimanakah cara berdoa yang baik? Bartimeus berdoa, berkomunikasi dengan Tuhan dengan kalimat-kalimat yang sangat jelas. Dalam ayat ke 51, Bartimeus, berkata: ”Rabuni, supaya aku dapat melihat”. Inilah doa Bartimeus, sebuah doa yang singkat dan amat jelas. Ada orang-orang Kristen yang beranggapan, berdoa haruslah dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang indah. Oleh karena itu, mereka kemudian menolak kalau diminta untuk berdoa dan mengatakan,”Saya tidak bisa berdoa Saudara, silahkan saudara-saudara lain yang berdoa, para penetua, para pengerja, hamba-hamba Tuhan saja yang berdoa”. Bartimeus, seorang pengemis buta, mengajar kita untuk berani berdoa. Yang penting dari sebuah doa bukan jalinan kata-kata dan kalimat yang indah, tetapi suara hati yang indah.

Berdoa adalah komunikasi antara hati dengan hati. Hati kita dengan hati Tuhan. Oleh karena itu doa tidak harus ditulis, tidak harus dihapal dan tidak bersifat rutin. Kalau kita membaca doa-doa tertulis, tidak ubahnya seperti kita membaca sebuah mantera. Kalau kita membaca, jelas bahwa itu adalah suara mulut kita, tetapi belum tentu suara dari hati kita. Kalau kita berdoa secara menghafal secara rutin, yang berdoa adalah mulut kita tetapi mungkin hati kita tidak berdoa. Doa adalah suara hati. Marilah kita berdoa dengan suara hati kita kepada Tuhan.

Selanjutnya kita membaca bahwa pengharapan Bartimeus tidak sia-sia. Pada ayat 49, dituliskan bahwa Yesus berhenti dan berkata: ”Panggillah dia”. Yesus memanggil Bartimeus. Dalam Mrk. 10:50 tertulis:  ”Ia menanggalkan jubahnya, ia segera pergi mendapatkan Yesus”. Apa yang dilakukan Bartimeus pada waktu ia diminta datang oleh Yesus? Bartimeus menanggalkan jubahnya! Kita bisa membayangkan, bahwa Bartimeus berpakaian minim. Jubah adalah pakaian yang terpenting untuk menahan hawa dingin dan juga untuk menahan embusan angin. Tetapi pada waktu bertemu Yesus , ia tanggalkan jubahnya dan tampillah bartimeus dengan apa adanya. Pada waktu bertemu dengan Tuhan Yesus, kita juga membuka ”jubah” kita, segala aksesoris yang kita pergunakan untuk memperelok kita. Kita datang dengan apa adanya, tidak perlu ada yang kita tutup-tutupi. Tidak ada yang perlu kita poles karena Dia mengetahui persis siapa kita sebenarnya.

Apakah yang menyebabkan permintaan Bartimeus dijawab oleh Tuhan Yesus? Apakah karena doanya pendek, jelas dan tegas? Banyak juga orang yang bisa berdoa dengan singkat, jelas dan tegas tetapi tidak semua juga dijawab oleh Tuhan. Apakah oleh karena Bartimeus seorang pengemis yang buta? Tidak juga, belum tentu seorang pengemis buta berdoa, Tuhan akan mendengarkannya. Apakah karena sewaktu Yesus memanggilnya, Bartimeus berdiri dan menanggalkan jubahnya. Belum tentu juga. Sekali lagi kenapa Yesus menjawab doa Bartimeus? Jawabnya singkat, Yesus berbelas kasihan. Tuhan berbelas kasihan, inilah kunci jawaban doa. Tidak ada satu tata aturan dalam berdoa, tidak ada satu format tertentu agar doa kita terjamin akan dijawab oleh Tuhan. Walaupun kita bisa berteologi tentang hal ini, tetapi Tuhan tidak bisa kita atur dengan format kita. Ia menjawab kalau ia berbelas kasihan.

Dalam Luk. 18 diceritakan tentang dua orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Yang seorang adalah Farisi dan yang lain adalah pemungut cukai. Orang Farisi itu berdoa dan menganggap dirinya benar oleh karena ia berpuasa menjalankan perpuluhan dan semua hukum-hukum Taurat itu. Ia menganggap dirinya benar dan pemungut cukai itu tidak. Tetapi dikatakan oleh Yesus, pemungut cukai itu pulang tidak sebagai orang yang dibenarkan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, ia bahkan tidak berani menengadah ke langit melainkan ia memukul diri dan berkata: ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Yesus berkata bahwa pemungut cukai pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah. Kenapa pemungut cukai dibenarkan sedangkan orang Farisi itu tidak? Tidak lain, karena Allah melihat hati tidak melihat kata-kata. Hati dari pemungut cukai, doa yang keluar dari hatinya membuat Tuhan berbelas kasihan. Sekali lagi, belas kasihan Allah lah yang menjawab doa.

Kita pernah mendengar tentang Hizkia dalam 2Raj 20. Dia sudah divonis mati oleh Tuhan. Tetapi kemudian dia menangis, dia memohon dengan sangat agar Tuhan bisa memperpanjang umurnya.  Dan akhirnya Allah yang mengerti bahasa tetesan air mata menjawab doa Hizkia dan mengatakan umur Hizkia diperpanjang 15 tahun lagi. Tuhan yang sudah memvonis mati Hizkia merubah keputusan-Nya sendiri tidak lain oleh karena Tuhan berbelas kasihan kepada Hizkia. Pada waktu Ia berbelas kasihan, Ia bisa merubah keputusan-Nya sendiri.

Demikian juga halnya dengan Hana, ibunda dari Nabi Samuel. Ia adalah salah seorang dari dua orang isteri Elkana, namun bertahun-tahun ia belum juga memiliki keturunan. Ia merasa sedih. Pada waktu mereka pergi ke Bait Suci Tuhan di Silo, Hana berdoa kepada Tuhan dengan menangis tersedu-sedu, bibirnya komat-kamit tetapi suaranya tidak terdengar sehingga Imam Eli menyangka ia sedang mabuk. Tetapi Hana menyatakan bahwa ia bukan sedang mabuk dan ia bukan seorang perempuan jahat tetapi ia sedang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan Semesta Alam. Tuhan mendengarkan doanya. Setahun kemudian, lahirlah Samuel.

Sekali lagi, tidak ada satu mekanisme, satu prosedur, satu format, satu tata cara yang menuntun yang memastikan agar doa dijawab oleh Tuhan. Kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk menjawab sebuah doa. Hal yang bisa kita lakukan adalah memohon belas kasihan Tuhan. Hanya apabila Ia berbelas kasihan, Ia mengabulkan doa kita.

Kesimpulan:

Yang pertama, janganlah kita sekedar menjadi penonton dalam setiap ibadah baik itu kebaktian minggu, KKR atau pun Persekutuan Doa tetapi jadilah kita menjadi orang yang diberkati dalam setiap acara tersebut. Firman Tuhan, kesaksian pujian, kesaksian saudara-saudara yang lain menjadi kekuatan bagi kita.

Yang kedua, dalam berdoa, panjatkanlah doa dengan suara hati. Berdoa bukan seperti membaca mantera atau ayat-ayat hafalan. Kemudian, doakanlah pokok doa kita dengan tidak jemu-jemu, barangkali Tuhan akan menjawabnya pada doa berikutnya.

Hal ketiga, sewaktu kita bertemu dengan Yesus tampilkanlah diri kita sebagaimana apa adanya, jangan dipoles jangan ditambah dengan aksesori lainnya.

Hal keempat, tidak ada tata cara atau format agar doa itu dijawab oleh Tuhan. Tuhan menjawab sebuah doa semata-mata berdasarkan belas kasih-Nya kepada kita.

Bagaimana membuat Allah berbelas kasihan kepada kita? Jadikan kita biji mata Tuhan. Kita menjadi biji mata Tuhan apabila kita sudah diangkat menjadi anak-anak-Nya, anak-anak Allah. Kita diangkat sebagai anak Allah pada waktu kita memiliki Roh Kudus dalam hati kita. Roh Kudus itu ada dalam hati kita, manakala kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pada waktu kita bertobat dari jalan kita yang sesat dari dosa-dosa kita.  Dalam Kis. 2:38, Rasul Petrus mengatakan: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Terima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, bertobat, dilahirbarukan, terima Roh Kudus, kita diangkat menjadi anak Allah. Kita menjadi pewaris janji Allah. Janji-janji Tuhan baik  PL maupun dalam PB semuanya berlaku kepada kita sebagai pewaris janji Allah.

Zaman ini semakin jahat, bukannya semakin baik. Kita sedang berada dalam sebuah peperangan rohani. Kalau kita hanya mengandalkan kekuatan kita, kita pasti gagal. Kalau mengandalkan kekuatan, kita akan menjadi bulan-bulanan iblis. Kita tidak mungkin mengalahkan si iblis. Hanya satu Pribadi yang bisa mengalahkannya, yaitu Yesus Kristus, Tuhan, Juru Selamat dan Raja kita.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Langkah Iman Langkah Keberhasilan

Lukas 5:1-8, 1 Raj. 17, 2 Raj 4

Kunci untuk membuka pintu keberhasilan adalah ”iman”. Dalam 1 Yoh. 5:4, dikatakan ”iman mengalahkan dunia”. Kesaksian tokoh-tokoh  Alkitab dapat membakar semangat kita. Yang pertama, bila kita merasa sebagai orang yang gagal, upaya kita selama ini sia-sia, tidak ada hasilnya,  kita bisa belajar dari kesaksian seorang penjala ikan bernama Simon. Semalaman Simon dan teman-temannya pergi menangkap ikan, seekorpun tidak berhasil mereka tangkap. Bagi nelayan, tidak berhasil menangkap seekor ikanpun berarti adalah kegagalan total. Simon gagal total, pada malam itu.

Nelayan-nelayan ini mendayung ke darat, membersihkan perahu dan jala. Matahari sudah terbit, hari mulai siang dan pada waktu itu, seorang Rabi Yahudi bernama Yesus  sedang berada di tengah kerumunan orang. Yesus meminjam perahu Simon dan berbicara dari atas perahu itu. Sesudah selesai, Yesus berpaling kepada Simon dan berkata: ”Tebarkanlah jalamu di tempat yang dalam”.

Sekali lagi, ”tebarkanlah jalamu di tempat yang dalam”. Kita tentu tahu apa artinya ini? Yesus meminta Simon untuk kembali menjala ikan, sedangkan hari sudah mulai siang, dan setiap orang, orang awam sekalipun, tahu bahwa ikan-ikan tidak ditangkap di siang hari. Apabila mereka melihat jala, mereka lari. Ikan-ikan itu seolah-olah tidur di siang hari. Ikan-ikan itu ditangkap biasanya pada malam hari. Perintah Yesus adalah perintah yang bertentangan dengan akal pikiran. Tentu saja, Simon merasakan konflik batin ketika mendengarnya. Apabila dia memakai akal pikirannya, di tengah keletihan, di tengah hati yang gundah, Simon mungkin berkata: ”Wah, terima kasih Guru, terima kasih Guru atas saran ini. Sekedar tahu saja, bahwa semalaman kami tidak berhasil menangkap ikan. Ya, kalau di siang hari saya diminta menjala ikan, pada waktu ikan-ikan sedang tidur, ya, terima kasih”. Dan mungkin ia tidak melakukannya. Tetapi, ada sesuatu yang istimewa pada Rabi Yahudi itu, ada karisma dan wibawa Yesus yang dirasakan Simon sehingga ia mau mendengarkan perintah Yesus. Ia percaya dan mengatakan: ”Walaupun kami sudah semalaman bekerja menangkap ikan dan tidak berhasil, namun karena Engkau mengatakannya, aku akan melakukannya juga”.

Simon mengalahkan akal dan pikirannya dan kemudian melakukan perintah Yesus. Dia pergi menebarkan jalanya ke tempat yang dalam dan apa yang terjadi, kita? Jala itu bergetar, penuh dengan ikan, perahu hampir tenggelam sedangkan ikan-ikan masih ada dalam jala. Simon melambaikan tangannya ke darat, berseru: ”Kirimkan lagi satu perahu, kirimkan lagi satu perahu!” Perahu kedua datang mereka isi dengan ikan dan kedua perahu itu kembali ke darat hampir tenggelam. Apa artinya? Simon dan teman-temannya mengalami keberhasilan total, ia datang dengan satu perahu dan pulang membawa hasil dalam dua perahu. Apabila pada malamnya, Simon adalah seorang yang gagal total, ketika ia melakukan perintah Yesus, ia mengalami keberhasilan total.

Yesus menolong Simon dua ribu tahun yang lalu dan Yesus yang tidak berubah, dulu, sekarang sampai selamanya, bersedia menolong kita pada waktu ini. Ia mampu  merubah kegagalan total kita menjadi keberhasilan total. Apa yang perlu kita lakukan, ikuti perintah-Nya, walaupun barangkali tidak masuk akal. Ia memberi pertolongan bukan saja dalam kegagalan usaha tetapi juga dalam kegagalan hidup secara keseluruhan. Yesus akan membuat usaha kita berhasil dan  Yesus akan membuat hidup kita hidup yang yang berkemenangan.

Tokoh Alkitab selanjutnya menyaksikan bagaimana  Tuhan memberi kecukupan dalam masa kekurangan. Apabila kita pernah mengalami masa kekurangan, masa kekeringan dalam hidup, atau barangkali kita sedang mengalaminya pada saat ini, kesaksian ini akan menguatkan kita. Kisah ini diambil dari 1 Raj. 17 tentang seorang janda dari Sarfat.

Pada waktu itu kekeringan berkepanjangan sedang terjadi di tanah Israel dan negeri-negeri sekitarnya. Bahaya kelaparan mulai muncul. Seorang janda miskin di Sarfat, mengumpulkan beberapa potong kayu bakar. Dia bermaksud mengolah makanan terakhirnya, yaitu segumpal tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Ia akan menikmati makanan terakhir ini bersama puterinya kemudian mereka bersiap untuk mati.

Dalam keadaan seperti inilah, janda ini bertemu dengan Nabi Elia. Nabi Elia berkata: ”Ibu, tolong buatkan bagiku terlebih dahulu, sepotong kecil roti bundar, sesudah itu baru engkau buat untuk dirimu dan puterimu. Tuhan berfirman bahwa tepung dalam tempayan tidak akan habis-habis dan minyak dalam buli-buli juga tidak habis-habis selama masa kekeringan ini”.  Tentu janda Sarfat memiliki konflik batin dalam hal ini. Kalau memakai akal dan pikirannya, janda Sarfat mungkin berkata: ”Oh, tidak! Aku akan menikmati makanan terakhirku bagi diriku dan bagi puteriku”. Apalagi, orang asing yang minta roti ini berpenampilan kumuh. Bayangkan Nabi Elia sudah menempuh perjalanan yang jauh, tentu pakaiannya sudah menjadi kumal, rambutnya dipenuhi debu dan janggutnya panjang tidak tercukur. Penampilannya tidak meyakinkan. Puji Tuhan! Janda Sarfat tidak memakai akal pikirannya, tetapi ia menuruti perintah Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Elia.

Selanjutnya, seperti kita baca dalam 1 Raj. 17,  janda ini dengan puterinya bersama Nabi Elia mendapatkan makanan yang cukup selama masa kekeringan, sampai hujan membasahi bumi kembali. Apabila kita merasa masa ini adalah masa kekurangan, masa kekeringan di dalam kehidupan kita, banyak kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi, mungkin  kita mengatakan: ”Inilah yang terakhir kami miliki, sesudah ini kami akan mati, Aku tidak tahu lagi apa yang akan kuperbuat. Semua sumber dalam kehidupanku ini tampaknya sudah kering”. Jangan takut, jangan khawatir. Seperti Tuhan sudah menolong janda Sarfat pada masa kekeringan, Tuhan yang kita kenal dalam Yesus Kristus mampu mencukupi kebutuhan kita di dalam masa kekeringan, di dalam masa kekurangan.

Bagian ketiga dari kesaksian tokoh-tokoh Alkitab yang kita pelajari dalam kesempatan ini, diambil dari 2 Raj. 4. Cerita ini  tentang seorang janda dalam zaman Nabi Elisa. Para janda memang mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Kita banyak melihat kesaksian-kesaksian Alkitab bagaimana Tuhan mengasihi para janda. Janda dalam 2 Raj. 4 ini  adalah janda seorang hamba Tuhan yang sudah meninggal dunia. Ia punya dua orang anak. Ia sedang berada dalam keadaan sulit, terjerat lilitan hutang. Ia meminjam, namun tidak mampu membayar kembali. Rentenir datang dan berkata: ”Ibu, engkau harus bayar hutangmu. Kalau engkau tidak lunasi, maka aku akan ambil jaminannya, yaitu kedua orang anakmu”. Hati ibu mana yang tidak akan menjerit, anak-anaknya akan diambil paksa untuk dijadikan budak. Inilah yang dihadapi oleh janda ini tadi.

Ia  mendatangi Nabi Elisa menyampaikan masalahnya. Nabi Elisa menyapanya dengan kasih: ”Ibu, apa yang bisa aku lakukan untukmu”. Sesudah ia ceritakan tentang pergumulan  yang dihadapinya, Nabi Elisa berkata: ”Ibu, apa yang engkau miliki?”.  ”Apa yang engkau miliki”.  Kalau kita perhatikan kesaksian Simon dan kesaksian janda Sarfat tadi, mereka masing-masing memiliki sesuatu. Simon memiliki perahu dan jala. Janda Sarfat memiliki sedikit sedikit tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli, dan sekarang Nabi Elisa bertanya kepada janda itu: ”Apa yang engkau miliki?”. Janda itu berkata: ”Aku punya minyak dalam buli-buli”. Kemudian Nabi Elisa berkata: ”Ibu, kumpulkan bejana sebanyak-banyaknya dalam rumahmu dan kemudian tutup pintu. Tuangkan minyak dalam buli-buli itu dan penuhi semua bejana”.

Kembali kita mendengarkan di sini adanya suatu perintah yang tidak sesuai dengan akal pikiran. Kalau memakai akal pikiran,  janda itu bisa mengeluh: ”Wah, yang aku minta pada Nabi sebenarnya supaya ia merujuk aku kepada seorang dermawan yang mampu memberikan uang kepadaku untuk membayar hutangku. Bagi dermawan itu, jumlah ini barangkali jumlah yang kecil tetapi bagiku adalah jumlah yang amat besar”. Puji Tuhan!   Janda ini tidak memakai pikiran tetapi menggunakan iman, ia percaya pada apa yang dikatakan Nabi Elisa. Ia pulang ke rumah. Dia pinjam ember, tong, bejana, wadah apa saja yang bisa dipakai sebagai tempat minyak. Dari kiri kanan, muka belakang, dari tetangga-tetangga dari teman-teman, kemudian ia menutup pintu. Dia tuangkan minyak dalam buli-buli itu, dan apa yang terjadi? Minyak dalam buli-buli itu mengalir dan mengalir mengisi bejana satu dan lainnya, dan berhenti manakala semua bejana sudah terisi penuh. Kemudian ia melaporkan hasilnya kepada Nabi Elisa. Nabi Elisa berkata: ”Jual sebagian menutupi hutangmu dan pakai sisanya untuk menyambung kehidupanmu”. Puji Tuhan, ketika janda ini menuruti perintah Nabi Elisa, walupun perintah ini tidak masuk akal,  mujizat terjadi. Ia terbebas dari lilitan hutang. Ia menyelamatkan kedua anaknya dari ancaman menjadi budak.

Apakah kita mengalami masalah keuangan pada waktu ini? Apakah kita punya masalah kekurangan dana di dalam usaha dalam mencukupkan kebutuhan hidup, dalam melakukan hal-hal yang penting dalam kehidupan kita. Jangan takut, jangan khawatir. Tuhan yang kita kenal dalam Yesus Kristus punya kemampuan untuk mengatasi semua masalah-masalah keuangan kita. Yang penting, turuti firman-Nya walaupun tidak masuk akal. Ia akan menolong kita sama seperti ia menolong janda dalam cerita ini tadi.

Tuhan tidak berubah, Yesus tidak berubah, dulu, sekarang sampai selamanya. Dulu Ia berkarya sama seperti Ia sekarang berkarya untuk melepaskan anak-anak-Nya, orang-orang yang dikasihi-Nya dari permasalahan dan pergumulan mereka. Ketika Yesus memberi pertolongan, bukan hanya masalah jasmani yang diselesaikan-Nya, tetapi masalah kehidupan kita secara keseluruhan akan dipulihkan-Nya.

Kita sudah mendengarkan kesaksian luar biasa dari tiga orang tokoh Alkitab. Ketiga-tiganya mengambil langkah iman. Apakah yang dimaksud dengan langkah iman itu? Langkah iman adalah satu langkah, satu tindakan menuruti firman Tuhan walau pun firman Tuhan itu tidak masuk akal. Ini kuncinya, setiap langkah iman harus ada kaitan firman Tuhan-nya. Landasan untuk mengambil langkah iman bukan perkataan orang lain, bukan perkataan orang pintar, bukan perkataan manusia tetapi semata-mata perintah Tuhan, semata-mata firman Tuhan.

Hal ini perlu kita ingat karena sering terjadi, pada waktu mengatakan kita mengambil langkah iman, sebenarnya itu bukan langkah iman. Itu adalah sebuah langkah menuruti keinginan hati, akal, pikiran, atau keinginan orang lain. Sekali lagi, langkah iman harus berhubungan dengan firman Tuhan. Dalam Rom. 10:17, Paulus mengatakan: ”Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran dari firman Kristus”. Artinya, langkah iman ini tadi harus ada firman Kristus-nya. Langkah iman harus ada firman Tuhan-nya.

Apabila kita berkata: ”Saya imani tahun depan saya punya mobil baru”, sebenarnya itu bukan iman, tetapi keinginan, keinginan untuk punya mobil baru tahun yang akan datang. Kalau langkah iman, sekali lagi, mesti ada kaitannya deangan firman Tuhan. Misalnya Maz. 112 mengatakan:  ”Orang yang takut akan Tuhan, anak-cucunya perkasa di muka bumi”, dan kalau kita laksanakan itu berarti kita mengambil langkah iman. Contoh lainnya, Mal. 3:10, berkata: ”Apabila kita membawa persembahan persepuluhan ke rumah perbendaharaan maka Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita sampai berkelimpahan”. Apabila kita melakukannya, kita sudah mengambil langkah iman.

Ada banyak janji-janji firman Tuhan di dalam PL dan PB. Apabila kita hidup melangkah dengan janji-janji itu, kita sudah melangkah dengan iman.

Dalam Rom. 1:17 dikatakan, ”orang benar akan hidup oleh iman”. Kehidupan orang benar adalah kehidupan iman. Sejarah hidup hidup orang benar adalah sejarah hidup tentang kesaksian iman. Sejarah kehidupan Abraham, adalah kumpulan kesaksian-kesaksian iman.

Sesudah mendengar kesaksian tokoh-tokoh Alkitab, kita mungkin berkata dalam hati: ”Aku akan melangkah dalam iman”.  Dengan kekuatan kita, kita tidak akan mampu mengambil langkah iman. Yang membuat kesaksian tokoh-tokoh Alkitab terpateri dalam hati kita, yaitu  jamahan dan pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus dianugerahkan pada waktu kita bertobat di dalam nama Yesus.  Kita akan memiliki  iman apabila kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, Juru selamat dan Raja kita. Ia akan mengingatkan kita akan dosa-dosa kita. Ketika Roh-Nya yang kudus diam di dalam hati kita, maka kita akan berani berdiri tegak dan berkata : ”Aku adalah umat pemenang!”. 

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Pelihara Kekudusan Gereja

Markus 11: 15-19

Di sebuah desa pelayanan GIKI, pada suatu waktu timbul keinginan hamba Tuhan yang melayani di sana untuk meningkatkan kesejahteraan jemaat dengan membuat suatu usaha bersama. Hamba Tuhan itu bahkan mengorbankan harta yang ada padanya untuk proyek tersebut. Tetapi apa yang terjadi, kesalah pahaman muncul sehingga  banyak anggota jemaat tidak lagi datang ke kebaktian minggu. Kalau kita mengaitkan kegiatan pelayanan dengan suatu hal bersifat komersial atau bisnis, rentan sekali untuk digocoh oleh si iblis. Karena si iblis jauh lebih pintar dari kita dalam hal-hal bersifat kejasmanian.

Syukur, kalau ada dampak negatif sehingga kita bisa segera melakukan perubahan sikap. Gereja nukanlah tempat untuk berbisnis. Tuhan Yesus mengatakan: “Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!”.

Ada fenomena yang menarik dalam rumah ibadah, kehidupan pelayanan beberapa organisasi pelayanan di Amerika Serikat, yang mungkin juga terjadi di Negara-negara lain termasuk di Indonesia. Ada beberapa organisasi pelayanan yang kaya raya. Pemimpinnya hidup dalam rumah mewah, bepergian dengan pesawat jet pribadi, dalam perjalanan pelayanan menginap di hotel-hotel yang sangat mewah. Bahkan ada sebuah organisasi pelayanan yang punya lapangan udara sendiri, punya beberapa pesawat pribadi berlokasi di dekat rumah pimpinan pelayanan tersebut.

Dari mana mereka mendapat uang? Sumber pemasukan utama adalah dari perpuluhan jemaat dan penjualan buku-buku, DVD dan semacamnya. Dari pengajaran yang disampaikan mereka, umumnya menekankan kemakmuran secara jasmani bagi para jemaat dan ada juga yang memberi pelayanan penyembuhan. Jumlah jemaat yang hadir dalam kebaktian-kebaktian mereka mencapai ribuan orang, bahkan ada yang disiarkan melalui televisi hingga menjangkau puluhan ribu orang. Kalau pelayanan seperti ini bisa berkembang, pastilah karena jemaat merasa diberkati.

Bagaimana sikap kita tentang pelayanan seperti ini berdasarkan tuntunan  Firman Tuhan. Kita mau menghakimi pelayanan-pelayanan itu, bahwa itu baik atau tidak baik. Sebaliknya, kita perlu memahami lebih jauh tentang kekudusan pelayanan berdasarkan tuntunan firman Tuhan.

Pertama, adalah keliru kalau kita mengaitkan keberhasilan suatu pelayanan dengan banyaknya jumlah jemaat atau besarnya kekayaan yang dimiliki sebuah organisasi pelayanan.

Keajaiban dan mujizat bisa saja terjadi di debuah gereja kecil, di gereja di tempat terpencil. Sebaliknya, gereja yang besar yang jemaatnya ratusan ribu atau bahkan jutaan orang bukan suatu jaminan bahwa Tuhan ada di gereja tersebut. Sejarah perkembangan gereja menunjukkan hal ini. Gerakan reformasi yang dicetuskan Martin Luther pada abad pertenganhan di Jerman adalah sebuah koreksi total dari kesesatan gereja dalam masa yang lama yang mempengaruhi puluhan juta jemaat. Organisasi yang besar, jemaat yang besar serta dukungan penguasa tidak menjamin sebuah gereja berjalan seturut dengan yang dikehendaki Yesus Kristus.

FT yang kita abaca hari ini menuntun kita untuk memelihara kekudusa Bait Allah, untuk memelihara kekudusan gereja. Pada masa Perjanjian Lama, di dalam kitab Keluaran dijelaskan bahwa kemah suci itu dibangun sesuai dengan perintah Allah ( Kel 26: 1-37) sehingga tempat itu sungguh-sungguh dijaga ke kudusannya, bahkan setiap orang yang datang beribadah kedalam kemah tersebut pun tidak boleh main-main (harus tertib), kalau tidak maka Allah akan murka.

Dalam Perjanjian Baru ,Yesus Kristus kembali menegaskan kepada kita betapa Bait Allah itu suci adanya, hal ini terbukti pada saat Yesus dengan murid-muridnya datang di Yerusalem dan mendapati banyak orang yang berjualan di Bait Allah. Baru saat itulah Alkitab mencatat bahwa Yesus benar-benar marah dan mengusir semua yang berjualan disana dan membalikkan meja-meja dagangan mereka itu (Markus 11:15). Hal ini menunjukkan betapa sucinya Bait Allah itu, yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik.

Apabila kita menginginkan dunia ini dengan kemewahan dan kekayaannya, meminta kepada Yesus bukan alamat yang tepat. Tetapi, alamat yang tepat adalah meminta kepada si iblis. Ketika membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, Iblis berkata kepada Yesus dalam Mat. 4:9, “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku”. Jadi kalau mau sekedar kekayaan berlimpah bersifat pesta pora dan kedagingan, sembahlah Iblis. Tetapi perlu kita ingat, pemberian dari si iblis bukan suatu berkat melainkan kutuk, pemberian itu membawa kekacauan dan bukan sukacita. Kalau si iblis memberi sesuatu kepada seseorang, orang itu harus bayar harga untuk menemani si iblis nanti di neraka.

Bagi seorang yang sudah bertobat dalam hidupnya, yang sudah dipenuhi oleh Roh Kudus, ia tidak akan mau menjual imannya untuk mendapatkan kekayaan betapapun besarnya. Orang itu bahkan sedia mati dalam kekurangan dan kelaparan kalau hal itu harus terjadi. Tetapi puji Tuhan, hal seperti itu tidak mungkin terjadi bagi orang percaya, karena Tuhan selalu memperhatikan kehidupan anak-anak-Nya. Dalam Yo. 10:10b, Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.

Kalau bukan jumlah jemaat atau kekayaan sebuah gereja yang menentukan benar atau tidaknya pengajaran gereja tersebut, bagaimanakah gereja yang berjalan dalam terang firman Tuhan?

Ada tiga ciri sebuah gereja yang setia berjalan mengiring Yesus Kristus.

Pertama, dalam sebuah gereja yang menyebut Yesus sebagai Kepala Gereja, setiap khotbah dan kidung pujian yang dilantunkan secara langsung ataupun tidak langsung berkaitan dengan nama Yesus. Sebuah khotbah yang tidak berkaitan dengan nama Yesus, bukanlah sebuah khotbah injili. Dalam kehidupan pelayanan, saya sering menemui khotbah yang menyebut nama Yesus bahkan pada perayaan Natal. Walau khotbah dan renungan itu menarik dan disampaikan dengan bahasa dan penampilan yang baik tetapi kalau tidak menyinggung nama Yesus akan kehilangan arti rohaninya.

Kedua, sebuah gereja yang mempercayai Alkitab sebagai firman Tuhan tanpa salah, yang punya otoritas, akan tampak dari renungan yang disampaikan dari mimbar. Renungan-renungan yang disampaikan memiliki pijakan firman Tuhan yang kokoh yang bisa dipergunakan oleh jemaat dalam kehidupan mereka.

Gereja perlu memusatkan perhatian utama pada masalah rohani, pada masalah keselamatan jemaat. Gereja yang mengalihkan perhatiannya dari masalah rohani ke masalah duniawi, lebih menekankan kekayaan kebendaan, kesehatan jasmani dibandingkan dengan kekayaan rohani dan kesehatan rohani perlu dijaga agar tidak terjebak ke dalam perangkap si iblis. Si iblis menggoda dan menipu manusia dengan hal-hal yang bersifat kedagingan dan kesombongan hati.

Strategi si iblis licik dan halus mungkin tidak disadari oleh gereja. Si blis tidak keberatan, bahkan mungkin mendukung agar gereja memiliki kekayaan berlimpah dan jemaat yang banyak sehingga orientasi pelayanan beralih pada hal-hal bersifat jasmani.

Pada akhir zaman, Paulus mengatakan dalam 2 Tim. 3:1-2 bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Saya percaya kita sudah berada pada bagian akhir dari peradaban manusia dan kedatangan Tuhan Yesus tidak lama lagi. Paulus sudah memperingatkan kita akan apa yang kita lihat pada hari-hari ini, perhatian pada masalah-masalah jasmani dan pada uang dalam kehidupan orang-orang Kristen dan juga dalam kehidupan gereja.

Ketiga, sebuah gereja yang mengiring Yesus adalah gereja yang  menjalankan Amanat Agung mengabarkan Injil. Keberhasilan PI bukan terletak pada sekit banyaknya jiwa yang dimenangkan, tetapi kesetiaan kita untuk melaksanakannya. Tugas kita adalah menabur benih, tentang pertumbuhanya ada di tangan Tuhan. Seperti dikemukakan Yesus dalam perumpamaan, sebagian benih itu ada yang jatuh di jalan dan dimakan burung, sebagian jatuh di tanah berbatu-batu, sebagian di tanah yang ada ilalangnya dan sebagian jatuh di tanah yang subur. Tugas kita sekali menabur, dan biarlah Tuhan berkarya untuk memberkati menyelamatkan siapa yang Ia ingin selamatkan.

Kita perlu berhati-hati dengan tipu daya si iblis yang berusaha menghambat setiap usaha pekabaran Injil. Barangkali dengan pertumbuhan jemaat yang semakin besar, asset gereja yang bertambah dan pelayanan yang beraneka ragam membuat sibuk semua pelayan dan pengerja gereja sehingga tidak ada waktu lagi bagi pekabaran Injil.

Kalau sebuah gereja memiliki asset dan kekayaan yang semakin besar maka potensinya mengabarkan Injil juga semakin besar. Tetapi sebenarmya, asset dan kekayaan bukan menjadi factor dominan melakukan PI. Ketika mengutus murid-murid-Nya ber-PI, Yesus mengatakan kepada mereka untuk tidak membawa emas atau perak atau tembaga, bekal dalam perjalanan. Yesus mengatakan: “Janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya”. Dapat kita tafsirkan, dalam PI suatu Amanat Agung, Tuhan sendiri bekerja secara aktif memperlengkapi kebutuhan semua anak-anak-Nya yang ber-PI.

Yang diperlukan dalam sebuah pelayanan PI adalah ketergerakan atau keterpanggilan kita melakukannya. Selalu ada jalan untuk melaksanakannya. Sesudah kita melayani PI maka selanjutnya dibutuhkan kesetiaan kita melakukannya sehing pada suatu hari, kita akan melihat nuah-buah yang ranum dari benih-benih yang kita taburkan.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI

Kenapa Kekudusan Itu Penting?

Ada dua hal penting dari kedatangan Yesus sebagai manusia, pertama Ia menjadi korban penebus dosa bagi kita di Golgota, dan kedua sesudah kenaikan-Nya ke Sorga, Ia mengurapi murid-murid- Nya dengan Roh Kudus. Pada waktu Roh Kudus menjamah hati kita sehingga sungguh menyadari dosa dalam lubuk hati yang paling dalam, menyesalinya, kemudian dengan komitmen kuat, serius, kita bertobat, maka Roh Kudus dianugerahkan kepada kita. Tuhan tinggal di dalam hati kita. Kita diselamatkan.

Peristiwa keselamatan, hanya terjadi sekali dalam hidup kita, bukan  terjadi berulang-ulang, Jadi tidak ada,  kelahiran kembali hanya terjadi sekali.

Tetapi, sesudah diselamatkan kita tidak serta merta menjadi kudus sama seperti Tuhan Yesus. Hidup kudus adalah hasil sebuah proses, proses pengudusan yang berlangsung seumur hidup. Semakin lama, kita dibentuk semakin serupa dengan Tuhan Yesus.

Dalam Perjanjian Lama kita belajar dari pertemuan umat Israel dengan Tuhan di padang gurun Sinai, betapa kudusnya Tuhan.

Sebelum bertemu dengan Tuhan, umat Israel harus menguduskan diri. Mereka tidak diperkenankan mendekati gunung Sinai, tempat dimana Tuhan akan menampakkan kemulian-Nya. Apabila mereka melanggarnya, akan dihukum mati. Baru sesudah sangkakala berbunyi tua-tua Israel bisa memasuki lereng Gunung Sinai. Tetapi hanya Musa sendiri yang naik ke puncak gunung untuk menemui Tuhan.

Ketika diizinkan melihat kemuliaan Tuhan di atas tahtanya, Yesaya berkata dalam Yes. 6:5, “Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”  Kekudusan Tuhan menyebabkan Yesaya tidak tahan berdiam di sekitar tahta Tuhan.

Dalam Kel. 33:20, Tuhan berkata kepada Musa: “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Tuhan adalah maha kudus, tidak ada manusia yang tahan memandang wajah-Nya.

Kesimpulannya,  harus menguduskan diri dalam pertemuan dengan Tuhan, karena Tuhan adalah Maha Kudus. Kekudusan adalah hal yang sangat penting dalam berhubungan dengan Tuhan. Pendek kata, kita tidak bisa berhubungan, berkomunikasi dengan Tuhan, tanpa kekudusan. Tanpa kekudusan doa kita tidak didengarkan Tuhan bahkan ibadah kita menjadi tidak berarti.

Kita perlu belajar kembali tentang kekudusan hati kita ketika berhubungan dengan Tuhan. Acara ibadah perlu dipersiapkan dengan pengudusan diri oleh para pelayan, baik yang menjadi anggota tim pujian, pemain musik, penyambut tamu, liturgos,  terutama hamba Tuhan yang akan menyampaikan firman Tuhan. Bukan hanya para pelayan, jemaat yang datang beribadah juga perlu mempersiapkan diri. Dengan sikap seperti ini, ibadah kita punya kuasa karena Roh Kudus bebas berkarya.

Ketika  Raja Daud memindahkan tabut perjanjian  (yang berisi dua loh batu yang diterima Musa dari Tuhan), ia melakukannya dengan penuh rasa takut dan hormat, seperti tertulis dalam 2 Sam. 613-14: “Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan”.  Bayangkan, tidak terhitung banyaknya lembu yang dikorbankan Daud untuk membawa tabut perjanjian itu ke Yerusalem. Ini semua memperlihatkan betapa seriusnya suatu acara, prosesi atau pekerjaan dimana lambang Tuhan ada didalamnya.

Kekudusan sangat penting, sangat serius. Menyampingkan kekudusan, memandang sepele kekudusan, menyebabkan banyak orang Kristen, keluarga Kristen bahkan gereja-gereja Tuhan jatuh ke dalam pencobaan yang mengakibatkan kepahitan,penderitaan, kekecewaan yang berkepanjangan.

Dalam Roma 8:1-9, Paulus ini menulis ada dua jenis kehidupan , dan tidak ada jenis lain diantaranya, yaitu kehidupan kudus dan kehidupan yang tidak kudus (kehidupan berdosa). Kehidupan kudus adalah kehidupan yang dipimpin oleh Roh, kehidupan dalam kebenaran, kehidupan yang damai dan sejahtera. Kehidupan tidak kudus adalah kehidupan yang dipimpin oleh hawa nafsu kedagingan, kehidupan berdosa, kehidupan dalam perseteruan dengan Tuhan. Hidup kudus adalah hidup menurut Roh sedangkan hidup tidak kudus adalah hidup menurut daging.

Dalam Roma 8:9,  dengan tegas Paulus mengatakan bahwa seorang yang tidak didiami oleh Roh Kudus bukan milik Kristus. Kalau bukan milik Kristus berarti kita  milik si iblis. Sebaliknya dengan tegas pula ia mengatakan dalam Roma 8:14, bahwa orang yang memiliki Roh Kudus adalah anak Allah.

Dari  Ibrani 12:5-14,  dapat kita baca, sebagai anak Tuhan, kita mendapatkan pendidikan dan pengajaran secara langsung dari Tuhan yang tujuannya disebutkan dalam ayat 10, yaitu supaya kita mendapat bagian dalam kekudusan-Nya. Dalam ayat 6  dipakai kata “menghajar”  dan “menyesah”, berarti pendidikan dan pengajaran yang kita terima bersifat keras, sama seperti yang diberikan kepada prajurit-prajurit pasukan komando. Proses pengudusan ini bertujuan membuat kita menjadi lebih kudus.

Tuhan, Bapa Sorgawi jauh lebih bijaksana dari pada bapa duniawi. Kalau bapa duniawi saja punya alasan dan tujuan ketika mendidik anak-anaknya, apalagi Bapa Surgawi. Kalau Bapa surgawi menghajar anak-Nya, pasti ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam diri anak-Nya. Tuhan tidak akan menghajar seorang anak-Nya kalau memang tidak  memerlukan perbaikan lagi.

Tentang keras atau lembutnya hajaran Tuhan, disesuaikan-Nya dengan tingkat kesalahan anak-Nya. Ibarat seorang anak kecil iseng bawa abu dari pekarangan dan tebarkan di lantai rumah yang bersih. Mula-mula sang ibu akan berbisik lembut, supaya si anak jangan lakukan lagi. Kalau anaknya, masih mengulangi lagi perbuatannya, sang ibu akan berteriak keras, memperingati anaknya untuk kedua kalinya. Kalau anaknya masih juga tidak mendengarkan, sang ibu akan mengurung anaknya di kamar mandi.

Sesudah kita bertobat dan menerima karunia Roh Kudus, apabila kita melakukan kesalahan, kita akan segera diingatkan Roh Kudus akan perbuatan kita yang salah. Pada waktu itu juga, kita perlu meminta pengampunan Tuhan. Sesuai dengan firman-Nya dalam l Yoh. 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”. Pada saat ditegur Roh Kudus, kita minta ampun, dan status kekudusan kita dipulihkan kembali. Masalahnya, kadang-kadang kita tidak mendengarkan suara lembut Roh Kudus itu. Sama seperti sang ibu tadi, Tuhan kemudian menegor dengan keras. Apabila kita belum juga mendengarkan, Ia akan mencubit, memukul dan akhkirnya boleh jadi Ia memukul dengan keras.

Keselamatan kita  adalah yang terpenting bagi Tuhan. Ia mengatakan dalam Mat. 18:8-9, demikian, “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua”.

Bagi Tuhan, keselamatan lebih penting dari usaha dan pekerjaan kita. Keselamatan lebih penting dari harta benda milik kita, keselamatan lebih penting dari kesehatan kita. Tidak mustahil, apabila kita tidak juga mendengarkan suara Roh Kudus yang menegur kita, kita akan dipukul-Nya. Kalau usaha/bisnis menghalangi kita untuk hidup kudus, Tuhan mengizinkan usaha kita bangkrut. Kalau kegiatan dan perbuatan kita menghalangi kita hidup kudus, tidak mustahil Ia akan mengizinkan kita jatuh sakit.

Kesimpulan

Ketika kita bertobat, diselamatkan, didiami Roh Kudus, proses pengudusan bagi kita mulai terjadi dan berlangsung seumur hidup. Proses itu adalah proses yang menyakitkan tergantung dari betapa cepat kita bisa mendengarkan dan mengikuti tuntunan Roh Kudus dalam hidup kita.

Apabila godaan dunia ini menyebabkan kita tidak bisa mendengarkan teguran yang lembut, Tuhan akan berbicara dengan lebih keras, mencubit, mencambuk, bahkan memukul dengan keras. Semua perbuatan Tuhan ini, menjamin keselamatan yang sudah kita peroleh.  Ketika dipanggil pulang ke rumah Bapa di Sorga, kita semua berada dalam status hidup yang kudus.

Tema kekudusan dalam semester ini kiranya memotivasi kita untuk sungguh-sungguh hidup lebih kudus, melayani Tuhan dengan persiapan yang kudus,  sehingga kita  menikmati harta surgawi yang berlimpah.

Tuhan Yesus memberkati kita semua berlimpah-limpah!

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI