Kis. 2:36-42

 Diperlukan orang-orang yang terpanggil untuk mengabarkan Injil. Mereka perlu diperlengkapi dengan pengetahuan tentang budaya lokal, hubungan anatar anggota masyarakat dan adat istiadatnya, bagaimana cara berbicara, apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan dan bagaimana bisa bekerjasama dengan saudara-saudara sepelayanan di tempat itu. Di samping itu, mereka juga perlu pembekalan firman Tuhan, apa yang perlu disampaikan dalam membawa jiwa-jiwa bagi Kristus. Mereka perlu juga pengetahuan tentang strategi pelayanan. Semua itu diperlukan. Tetapi apakah kunci utama keberhasilan PI adalah penyertaan Roh Kudus.

Mari kita renungkan hal ini, dari pengalaman jemaat mula-mula. Pada hari Pentakosta, Petrus berkhotbah dengan berani dan pada hari itu ada 3000 jiwa yang bertobat. Para petobat baru ini bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.

Apakah Petrus seorang pengkhotbah yang berpengalaman, seorang teolog yang handal atau hamba Tuhan yang sudah biasa mengabarkan Injil? Tidak! Pekerjaan Petrus sebelumnya adalah penjala ikan, termasuk lapisan masyarakat kelas bawah. Ia tidak pernah mengikuti pendidikan formal. Dari segi karakter, Petrus adalah seorang yang temperamental, emosional dan suka meledak-ledak. Contohnya, Pada saat penangkapan Yesus di taman Getsemane, Petrus mengayunkan pedangnya menetak daun telinga seorang hamba Imam Besar. Contoh lainnya, pada peristiwa penyaliban Yesus berkata, sebelum ayam berkokok Petrus akan menyangkal Yesus tiga kali, Petrus menjawab itu sama sekali tidak akan terjadi. Dalam kenyataannya, tiap kali orang berkata bahwa Petrus adalah pengikut Yesus, ia menyangkalnya. Dan ketika ia menyangkal untuk ketiga kali, ayam pun berkokok. Tergenapilah perkataan Yesus. Petrus menangis dengan hati yang hancur.

Dapatkah sebuah khotbah yang indah memenangkan 3000 jiwa keluar dari seorang dengan kualifikasi yang amat minim tersebut? Terus terang, tidak mungkin. Petrus bukan orang yang yang memiliki kualifikasi istimewa. Tetapi telah terjadi perubahan besar. Petrus sekarang bukan lagi Petrus yang dulu. Petrus yang memenangkan jiwa-jiwa adalah Petrus yang baru, Petrus yang semakin dewasa, Petrus yang bisa mengendalikan dirinya, Petrus yang sudah diurapi oleh Roh Kudus.

Yang memenangkan jiwa pada hari bersejarah itu adalah Kristus sendiri melalui Rohnya yang kudus. Bukan khotbah yang indah, tetapi campur tangan Kristus sendirilah yang menyelamatkan manusia. Petrus mewakili kita semua yang menganggap diri tidak berharga di hadapan Allah. Petrus mewakili kita yang tidak berpendidikan, Petrus mewakili kita yang emosional yang suka marah yang lemah  dalam pengendalian diri. Petrus mewakili kita semua yang merasa tidak memiliki kekuatan melayani Yesus.

Seperti Petrus mampu mengabarkan Injil, kita juga semua bisa dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan karena Ia mengurapi kita dengan Roh Kudus.

Dalam kesaksian tokoh iman, seorang hamba Tuhan terkenal, Charles Spurgeon dari Inggris dimenangkan oleh seorang tukang sepatu. Begini kisahnya. Hari minggu pertama tahun 1850, tidak seperti hari-hari lainnya, jalan-jalan ditutupi oleh salju yang tebal di kota London. Dalam udara dingin menembus tulang, seorang remaja usia 15 tahun berjalan dan masuk ke sebuah gereja kecil. Remaja itu adalah Charles Spurgeon muda. Ada kira-kira 10 orang di dalam dan beberapa waktu kemudian jumlahnya mencapai 20 orang. Pendeta tidak kunjung tiba, tampaknya terhalang oleh salju.

Para pengerja gereja berbisik-bisik seorang dengan lainnya melakukan konsultasi. Kalau kebaktian dibatalkan akan aneh sekali, apalagi itu minggu pertama di tahun yang baru. Akhirnya, mereka putuskan, seorang pengerja yang ternyata adalah tukang sepatu naik ke mimbar untuk berkhotbah. Khotbahnya diambil dari Yes. 45:22. Karena ia tidak ada persiapan,  ia sering mengulang-ulang ayat itu, dan sesudah 10 menit ia mengahiri khotbahnya. Pada saat-saat terakhir, ia mengarahkan pandangannya kepada Charles Spurgeon. Karena yang hadir tidak banyak ia tentu mengetahui Charles adalah seorang tamu di gerejanya. Ia berkata: ”Anak muda, engkau kelihatan menderita. Aku katakan kepadamu bahwa dalam hidup ini engkau menderita dan sesudah mati juga engkau menderita kecuali apabila engkau mau mendengarkan firman Tuhan tadi”. Charles Spurgeon tersentak. Ia mengakui dalam hati, ia memang menderita membutuhkan sesuatu yang bisa meneduhkan jiwanya. Tetapi, pernyataan keras di depan jemaat itu tidak menyenangkan hatinya.  ”Berpalinglah kepada Yesus anak muda, maka engkau akan diselamatkan, berpalinglah, berpalinglah, berpalinglah!”. Sesudah keluar dari gereja kecil itu, Charles  merasa hatinya diselimuti perasaan sukacita. Saat itulah ia memutuskan ikut Yesus. Remaja ini kelak menjadi seorang hamba Tuhan yang dipakai Allah dengan heran memenangkan ribuan jiwa di Inggris. Khotbahnya didengar dan dibaca oleh jutaan orang  di seluruh dunia sampai dengan sekarang ini. Bukan khotbah yang  indah dari seorang tukang sepatu yang memenangkan  Charles Spurgeon, tetapi oleh karena Yesus hadir dalam kebaktian itu.

Roh Kudus adalah kunci keberhasilan Pekabaran Injil. Dalam  Kis. 13,  sesudah jemaat berdoa dan berpuasa, Roh Kudus memerintahkan Paulus dan Barnabas memulai pelayanan PI. Roh Kudus menuntun dan mengarahkan mereka. Roh Kudus mencegah mereka memasuki daerah tertentu, mengarahkan mereka memasuki daerah lain. Pada suatu ketika Allah berbicara kepada Paulus melalui suatu penglihatan untuk merubah perjalanan perjalanan mereka  ke Makedonia, berbeda dengan tujuan mereka semula.

Roh Kudus tetap berkarya sepanjang zaman dalam PI. Kadang-kadang kita tidak habis pikir kenapa orang-orang yang begitu potensial di negerinya, yang bisa mendapatkan kehidupan baik berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan juga keberadaan keluarganya  memutuskan untuk melakukan kegiatan misi ke negeri asing yang berbahaya dimana nyawa menjadi taruhannya. Kekuatan manusia tidaklah mungkin melakukan hal tersebut kecuali apabila Roh Kudus yang sudah memanggil seseorang untuk ikut dalam pelayanan. Orang-orang seperti William Carey dan Adoniram Judson adalah beberapa orang saja dari begitu banyak penginjil yang sudah melayani di daerah asia ini.

William Carey mengabarkan Injil di India, Adoniram Judson melayani di Birma. Kehidupan mereka bukanlah kehidupan yang gampang, sakit penyakit, kehilangan isteri kesulitan akomodasi mereka hadapi namun mereka tidak mundur dari pelayanan itu. Dan oleh karena jasa mereka, Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lokal. Para penginjil datang ke Indonesia walau nyawa menjadi taruhannya. Nama Nomensen tidak mungkin dilupakan suku Batak, Penginjil ini mampu membawa nilai-nilai kristiani ke dalam suku batak yang sangat keras.

Penginjil-penginjil itu berangkat ke daerah pelayanan karena ada gereja-gereja atau organisasi misi yang mengutusnya. Pengutusan itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam Roma 10:14-15, ”Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Injil artinya kabar baik. Pemberitaan Injil adalah sesuatu yang indah. Lewat pemberitaan ini manusia-manusia yang sedang berjalan ke neraka diselamatkan untuk memasuki Kerajaan Allah.

Berapa lamakah seorang penginjil tinggal di daerah yang dilayaninya? Ada beberapa versi. Penginjil-penginjil yang datang ke India, Burma dan juga ke Indonesia,  menghabiskan usia mereka di daerah pelayanan. Versi kedua, seperti pelayanan Rasul Paulus. Dalam tiga kali perjalanan misi yang dilakukannya, ia mendatangi banyak tempat di Asia Kecil bahkan sampai ke Eropah. Walaupun pelayannya tidak lama di suatu tempat, biasanya ia berhasil menetapkan pelayan atau pengerja yang melayani di daerah itu. Lantas bagaimana dengan Tim Pekabaran Injil yang kita kirimkan pada masa kini? Katakanlah, sebuah tim  dibentuk untuk melayani ke suatu daerah selama satu bulan. Tim ini akan berangkat  mengabarkan Injil, mengadakan  Kebaktian Kebangunan Rohani, mengadakan Kebaktian Penyembuhan dan kemudian mereka pulang kembali. Kalau Tim Pekabaran Injil ini bekerjasama dengan saudara-saudara sepelayanan di daerah yang diinjili maka follow-up atau kelanjutan pelayanan ini akan diteruskan oleh tim lokal.

Apakah pengiriman tim untuk waktu singkat itu tadi efektif dalam Pekabaran Injil? Pada masa pelayanan Yesus di bumi ini, ia  mengutus murid-mudrid-Nya ber-PI. Ia membentuk beberapa tim, satu tim terdiri dari dua orang dan mereka berangkat mengabarkan Injil. Ini adalah semacam pendidikan dan latihan yang diberikan Yesus bagi para murid. Manfaat pengiriman tim untuk jangka pendek lebih bersifat pendidikan latihan, untuk memahami lebih baik lagi  kegiatan PI atau untuk mengawali kegiatan PI jangka panjang di suatu daerah tertentu.  Kegiatan PI yang kita harapkan tentulah kegiatan yang mampu mewujudkan sebuah jemaat lokal yang lengkap dengan pelayan-pelayan, tiang-tiang iman yang melayani sehari-hari. Tentu dibutuhkan waktu yang lama. Itu sebabnya, kita cenderung berpendapat, seorang penginjil perlu tinggal untuk waktu yang lama di daerah yang dilayaninya.

Ada sebuah ganjalan mental dalam kegiatan PI, yaitu anggapan dibutuhkan dana yang besar. Betul, untuk mengirimkan parapenginjil dibutuhkan  dana yang cukup. Dalam kondisi yang ideal, artinya seturut dengan firman Tuhan, dana sebenarnya tidak boleh menjadi ganjalan bagi PI. Tuhan Yesus sewaktu mengutus murid-murid untuk ber-PI, mengatakan bahwa mereka tidak perlu membawa uang, perlengkapan tidak lebih dari apa yang mereka pakai di tubuh mereka. Artinya, Tuhan sendiri yang akan mencukupkan kebutuhan mereka dalam daerah pelayanan. Kalau kita memiliki iman seperti ini, ketersediaan dana tidak lagi merupakan ganjalan. Ketika ada sebuah tekad mengadakan PI,  dana  akan Tuhan cukupkan.

Di GIKI kita punya pengalaman yang menarik. Ketika mengutus tim pekabaran Injil, kita pernah  melakukan persiapan-persiapan, latihan dan pembekalan. Tim yang diutus itu melakukan pekerjaan mereka dalam jangka waktu pendek. Namun, misi seperti ini belum pernah berhasil membentuk sebuah jemaat baru. Sebaliknya, ada kegiatan PI tanpa dana, tanpa pembekalan dan tanpa pelatihan yang berhasil mewujudkan jemaat baru. Ada beberapa orang jemaat kita yang meninggalkan Jakarta dan pulang ke kampungnya masing-masing karena alasan ekonomi atau alasan keluarga. Ini alasan resmi, tetapi alasan yang sebenarnya, Yesus mengutus mereka sebagai pemberita Injil. Setiba di kampung, mereka mulai mengadakan persekutuan kristiani yang kecil. Tuhan memberkati persekutuan ini semakin besar dan semakin besar dan akhirnya berubah menjadi jemaat mandiri. Ada anggota  jemaat kita yang pindah ke kampung, sebelumnya tidak memiliki pengetahuan memadai tentang firman Tuhan. Ia belajar sambil melayani. Siapakah sebenarnya yang mengutus mereka? Bukan gereja kita, bukan organisasi kita, tetapi Yesus Kristus sendiri melalui Roh-Nya yang kudus  yang mengutus mereka, memimpin perjalanan mereka.

Tentang jiwa-jiwa yang dimenangkan, berapa orangkah target jumlah jiwa yang akan dimenangkan oleh tim PI bagi Kristus?  Ada yang berpendapat, perlu diberikan target bagi penginjil. Tentang hal ini, kita cenderung berpendapat, dalam PI tidak perlu ditetapkan target tertentu. Yang penting kita melayani sebaik-baiknya. Sewaktu Petrus berkhotbah, ada 3000 jiwa yang bertobat, sungguh suatu karya Roh Kudus yang luar biasa. Tetapi dalam kasus lain, Roh Kudus berkarya dengan cara yang lain.  Pelayanan William Carey memenangkan satu jiwa orang India sesudah 7 tahun. Beliau tiba di India tahun 1793 dan orang India pertama yang bertobat baru terjadi dalam tahun 1800. Demikian juga dengan Adoniram Judson di Birma. Ia tiba di Birma  tahun 1813 dan orang Burma pertama yang bertobat terjadi pada tahun 1819. Diperlukan waktu 6 tahun untuk memenangkan satu jiwa. Suksesnya PI bukan terletak dalam jumlah orang yang dimenangkan, itu semua urusan Tuhan. Yang penting, kita mengabarkan Injil dengan setia.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI