Mat. 25:14-30

Orang yang berhasil dalam hidupnya adalah orang yang setia.  Dalam perjanjian lama ada ayat-ayat yang secara khusus berbicara tentang keberhasilan, misalnya, Yusuf adalah seorang tokoh yang selalu berhasil di dalam hidupnya. Dalam Kej 39 : 2 dan Kej 39:23 tertulis rahasia keberhasilannya, yaitu penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Ia berhasil di rumah Potifar, ia berhasil walau di tempatkan di penjara dan ia berhasil sebagai Perdana Menteri Mesir.

Orang yang berhasil adalah orang yang di sertai oleh Tuhan dalam hidupnya. Disertai Tuhan berarti orang tersebut mendengarkan firman Dalam Maz. 1:1-3, dapat kita baca, orang yang mendengarkan, membaca firman Tuhan dan melaksanakannya akan berhasil dalam kehidupannya. Merenungkan firman Tuhan siang dan malam, berarti kita aplikasikan firman Tuhan itu dalam hidup keseharian kita. Misalnya  dalam pergaulan, kita kadang-kadang merasa seperti di rendahkan, di cemooh malah di fitnah sehingga membuat kita naik  darah dan ingin melakukan pembalasan. Pada saat itu kita ingat firman Tuhan dari 1 Petrus 3:9 yang berkata: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat”. Ayat ini menenangkan kita kembali. Pada waktu Roh Kudus mengendalikan hati dan pikiran kita untuk tidak membalas, maka sesudah itu akan ada tersedia berkat yang disediakan Tuhan bagi kita.

Di lain waktu sebagai seorang pelayan Tuhan, misalnya, kita mengalami kejenuhan. Kita merasa malas bergerak, pada saat itu pada ayat firman Tuhan yang kita ingat dari 2 Tim. 4 : 2 berbicara ke dalam hati kita: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”. Firman Tuhan ini memberi kita semangat untuk terus melayani.

Kehidupan memiliki banyak ragam dan  banyak dimensi. Di dalam setiap hal ada firman Tuhan yang boleh kita pegang, yang menuntun kita di setiap langkah jalan kita.

Mari kita beralih kepada “setia”. Kepada siapakah seorang setia? Seorang bisa setia pada orang lain, atau setia pada pekerjaan, setia pada pelayanan atau setia pada keyakinan yang dimilikinya. Arti setia dapat kita pahami dari janji pernikahan. Seorang pria atau seorang wanita mengucapkan ikrar janji setia pada pasangannya dalam keadaan berkelimpahan atau berkekurangan, dalam keadaan senang atau susah, dalam keadaan sehat atau sakit seumur hidup.

Kalau seorang setia kepada Kristus maka ia mempertahankan sikap itu seumur hidupnya, tidak tergantung bagaimanapun situasi yang dihadapinya. Seorang yang  setia pada pekerjaan atau pelayanan seumur hidupnya,  tidak tergantung apakah keadaannya sedang baik atau tidak baik, bagaimanapun situasi yang dihadapinya. Seorang yang setia pada keyakinannya akan mempertahankan imannya seumur hidup.

Sebagai pengikut Kristus, kesetiaan kita adalah  pada Yesus Kristus. Kita setia pada pelayanann, artinya, bagaimanapun situasinya apakah sedang musim kemarau apakah sedang musim hujan, kita tetap setia melayani Yesus. Kesetiaan ini memampukan kita  melayani, dalam semua situasi betapapun sulitnya keadaan yang kita hadapi.

Kita bisa mempelajari apa yang dikatakan Tuhan Yesus tentang kesetiaan dalam perumpamaan tentang talenta seperti terdapat dalam Mat. 25:14-30. Dalam perumpamaan ini, Yesus bercerita tentang seorang tuan yang akan berpergian dalam waktu yang lama. Ia mempercayakan hartanya pada hamba-hambanya. Kepada seorang hamba ia memberikan 5 talenta, kepada yang lain 2 talenta dan pada hamba yang ketiga 1 talenta. Masing-masing sesuai dengan kesanggupannya, mereka diminta untuk berusaha dengan harta yang ditinggalkannya itu.

Lama kemudian tuan itu datang kembali dan meminta pertanggungan jawab dari masing-masing hambanya. Hamba yang punya 5 talenta berkata bahwa ia mendapat keuntungan 5 talenta. Tuan itu memujinya dan mengatakan dalam ayat 21: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”. Hamba yang dipercayakan 2 talenta mendapat keuntungan 2 talenta, tuan itu memuji nya dalam ayat 23: “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”.

Tetapi hamba yang dipercayakan 1 talenta dia tidak mengolah harta itu ia berkata:  “Aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat dimana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat dimana tuan tidak menanam, karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah ini terimalah kepunyaan tuan”. Hamba ini tidak untung, tetapi juga tidak rugi. Ia tidak berani mengambil resiko, ia tidak mengusahakan talenta yang diberikan kepadanya.  Sebaliknya dari mendapat pujian, ia menerima kutukan dari tuan itu dan “campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap disana lah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.

Perumpamaan ini adalah perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Tuhan Yesus mengemukakan siapa yang masuk sorga dan siapa yang masuk neraka. Yang masuk sorga adalah hamba yang punya 5 talenta dan hamba yang punya 2 talenta. Menarik untuk kita amati, pujian tuan itu  kepada yang punya 5 talenta dan kepada yang punya 2 talenta  persis sama.

Ayat 21 dan ayat 23 persis sama.  Ini berbeda dengan cara dunia, dalam sebuah perusahaan misalnya, apabila seorang pegawai menghasilkan keuntungan 100 juta ia akan di hargai lebih tinggi dari seorang pegawai yang hanya menghasilkan 10 juta.  Tetapi penghargaan yang di berikan Tuhan kepada hamba-hambanya tidak tergantung dari besaran jumlah. Jumlah adalah ukuran manusia, tetapi ukuran bagi Tuhan adalah hati kita, kesetiaan kita. Ketika seorang janda miskin memberi persembahan 2 peser ia mengatakan persembahan itu jauh lebih tinggi nilainya dari persembahan yang diberikan oleh orang kaya, karena janda ini memberikan dari kekurangannya sedangkan orang kaya memberi dari kelebihannya. Tuhan melihat hati.

Oleh karena itu, kita jangan kecewa waktu mengiring Yesus, mungkin kita berkata: “Aku hanya bawa satu jiwa bagi-Mu Yesus”, barangkali itu adalah suami atau isteri kita, barangkali anak kita Bukan jumlah yang penting. Pada waktu Petrus dan para rasul berkhotbah pada hari Pentakosta, ada 3000 orang yang bertobat hari itu. Tetapi, dalam pelayanan penginjil William Carey di India, seorang India baru dimenangkan sesudah 7 tahun. Hal yang sama terjadi dalam pelayanan Adoniram Judson di Birma, satu jiwa dimenangkan sesudah 6 tahun ia melayani. Bukan jumlah, tetapi hati yang diperbaharui.

Hamba yang di percayakan 5 talenta dan hamba yang di percayakan 2 talenta masuk sorga karena mereka setia, mereka taat pada perintah tuannya walaupun adakalanya keadaan tidak baik, adakalanya mereka hidup berkekurangan. Tetapi sungguh malang nasib hamba yang dipercayakan 1 talenta,  walau ia tidak untung, ia juga tidak rugi, tetapi bukan soal untung dan rugi yang penting bagi Tuhan, tetapi ia tidak setia kepada tuan itu, ia tidak menjalankan perintah tuannya.

Jelas dari perumpamaan ini sikap setia sangat penting. Orang setia masuk sorga, orang yang tidak setia masuk neraka. Pertanyaannya, apakah kita bisa menjadi orang yang setia? Tidak bisa dengan kekuatan sendiri.  Dalam masa PB, Tuhan mencurahkan Roh-Nya yang kudus diam di dalam hati kita. Kehadiran Roh kudus memampukan dan membuat kita menjadi orang yang setia. Setia adalah salah satu dari sembilan buah Roh yang tertulis  dalam Galatia 5 : 22-23.

Kembali pada tema, orang setia orang berhasil. Tidak ada kontradiksi antara orang yang berhasil dan orang yang setia. Berhasil dan setia adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Bagi kita yang berkerja sebagai usahawan, pegawai, karyawan atau yang sedang mengikuti pendidikan, penekanan pada keberhasilan mungkin lebih sesuai bagi kita. Dalam hal ini, perlu kita ingat, penyertaan Tuhan lah yang membuat kita berhasil.

Bagi hamba dan pelayan Tuhan, tampaknya penekanan pada setia lebih sesuai dengan keadaan. Dalam pelayanan ada banyak hal yang tidak kita mengerti. Kita tidak mengetahui bagaimana perjalanan pelayanan kita di masa yang akan datang. Yang penting, tetap setia.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI