Sering kita mendengar ”orang jujur hidupnya terkubur”, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Hidup penuh tekanan, tampaknya apapun yang kita lakukan secara jujur akan macet ataupun jalan di tempat. Dari urusan seperti surat keterangan, surat izin, tender proyek sampai anak masuk sekolah, semuanya membutuhkan pelicin atau sogokan, atau kadang-kadang dikemas dalam bentuk ”ucapan terima kasih”. Kita merasa hal-hal seperti ini, sudah merupakan hal yang wajar, menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat kita.

Seolah-olah, tidak ada lagi tempat bagi orang-orang jujur, di kota-kota seperti Jakarta, apakah ini benar? Kalau kita menggunakan pertimbangan-pertimbangan akal-pikiran, ya, kita mungkin sepakat, tidak ada lagi tempat bagi orang jujur. Tetapi, ada cara lain untuk melihat masalah ini. Kita bisa memandang permasalahan kehidupan dari kaca mata rohani. Dari pandangan ini, pandangan rohani, kita akan sampai pada perbyataan bahwa orang jujur hidup subur, hidup makmur.

Model, patron atau idola kita untuk seorang yang jujur, tidak lain dari Yesus Kristus sendiri. Bahkan orang-orang yang berusaha mencari kesalahan-kesalahan-Nya mengatakan hal itu. Dalam Mrk. 12:14, tertulis, ”Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Ada tiga kali kata ”jujur” kita temukan di dalam ayat ini. Ketiganya adalah atribut Yesus yang disebut orang-orang yang mendatanginya. Pertama, mereka mengetahui “Yesus adalah seorang yang jujur”. Yang kedua, “Yesus dengan jujur mengajar jalan Allah” dan yang ketiga, “Ia mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran”. Kalau tiga kali kata “jujur” dipergunakan di sini, menunjukkan sikap ”jujur” adalah sesuatu yang amat penting.

Yesus adalah seorang yang jujur. Apa artinya, orang yang  jujur? Orang jujur adalah orang yang tidak korupsi, lawan kata dari koruptor. Dari sisi yang lain, orang jujur adalah orang yang tidak menipu, yang tidak berbohong dan tidak bersifat munafik.

Yesus berkata dalam Mat. 5:37: ”Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”.  Kalau kita sudah memahami apa arti ”orang yang jujur”, tentu kita ingin agar anak-anak kita menjadi orang yang jujur. Bapa dan ibu sependapat dengan saya bahwa sebagai orang tua kita tidak mau anak kita menjadi seorang penjahat. Sekali lagi, kita mau anak-anak kita menjadi orang yang jujur.

Tetapi, apakah kita mengajar anak-anak kita menjadi orang yang jujur? Perkara kecil, misalnya, pada waktu malam, supaya anak kita tidak ke luar rumah, kita katakan: ”Ada hantu di luar”, dan kita berbohong. Apabila kita membawa anak bertamu ke rumah orang lain dan orang itu menawarkan untuk ikut makan bersama maka kita mengatakan: ”Kami sudah makan tadi di rumah”. Padahal sebenarnya kita belum makan dan anak kita melihat kebohongan itu. Apabila anak kecil kita terpeleset di tengah-tengah tamu-tamu kita mengatakan: ”Oh ya, anakku tidak merasa sakit”, padahal ia merasa sakit. Kita berkata kepada anak kita: ”Baik-baik belajar di rumah, nanti Papa dan Mama akan bawa oleh-oleh”, tetapi waktu Papa dan Mama pulang mereka tidak membawa oleh-oleh itu. Anak-anak ini kembali melihat sebuah tontonan tentang kebohongan.

Kejujuran sering disebut sebagai modal penting untuk mendapatkan kepercayaan. Apabila seorang yang meminjam uang mengatakan akan mengembalikannya minggu depan dan ia tidak menepati janjinya, si pemberi utang akan berkurang kepercayaannya. Sering sekali pedagang berbohong dengan mengatakan: “Oh, modalnya pun tidak sampai segitu”, padahal sebenarnya ia sudah mendapatkan untung. Contoh-contoh seperti ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah ada contoh-contoh orang-orang yang jujur dan orang-orang yang tidak jujur dalam Alkitab. Tentu saja ada. Misalnya, Ananias dan Sapira dalam Kisah Para Rasul, ketika mereka menjual harta miliknya dan mempersembahkannya di depan para rasul, tetapi mereka berbohong tentang harganya. Kebohongan ini mereka bayar dengan nyawa. Ini adalah contoh yang sangat tragis tentang orang yang tidak jujur.

Dalam cerita penyembuhan Panglima Aram, namanya Naaman, dari penyakit kusta, Nabi Elisa menolak pemberian Naaman sebagai tanda ucapan terima kasih. Tetapi, Gehazi, pembantu Elisa merasa kesempatan itu tidak boleh disia-siakan begitu saja, ia mendatangi Naaman dan mengatakan bahwa ada orang yang membutuhkan persembahan Naaman itu.  Gehazi memang mendapat harta benda yang diingininya, tetapi penyakit kusta Naaman berpindah kepadanya . Bukan hanya ia yang kena penyakit kusta tetapi juga seluruh keturunannya, contoh yang sangat tragis. Alkitab dengan tegas tidak mentolerir orang yang tidak jujur.

Daud adalah seorang raja yang memahami arti dari sebuah kejujuran. Dalam kesesakan, dalam masa pergumulan, Daud memeriksa hatinya untuk tetap berjalan dalam kejujuran. Dalam Ma. 25:21-22  ia berkata: ”Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau. Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya”. Ada hal istimewa dalam hidup jujur, ada fasilitas istimewa yang diberikan kepada orang yang jujur. Pertama, Ams. 2:7, : ”Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya”. Orang yang jujur hidup subur, hidup makmur, karena Allah memberikan pertolongan kepadanya. Keluarga barangkali tidak memberikan pertolongan, para pejabat barangkali tidak memberikan pertolongan, orang-orang disekitarnya tidak memberi pertolongan, tetapi ada yang memberi pertolongan kepada orang yang jujur, Allah sendiri di dalam Yesus Kristus. Ada amin, Saudara? Oleh karena itu jadilah orang yang jujur.

Kedua, Ams. 2:21, ” Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ”. Saudara tidak perlu khawatir tentang tempat tinggal, dimanapun Saudara berada. Tanah adalah lambang tentang pemilikan atas satu tempat. Allah berjanji memberikan tempat bagi Saudara, rumah untuk tinggal, bagi Saudara dan keluarga. Orang jujur ternyata memiliki fasilitas sorgawi. Orang jujur memiliki apa yang dibutuhkannya di dalam hidup ini.

Selanjutnya, ketiga, firman Tuhan dalam  Ams. 3:32,  berkata:  ”Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat”. Dengan orang jujur Allah bergaul erat. Allah senang dengan orang yang jujur. Saudara, kalau kita  bergaul akrab dengan seorang pejabat, katakanlah seorang camat sekalipun, maka kita akan mendapatkan fasilitas, kemudahan dari Bapak Camat. Kalau kita kenal akrab dari seorang Menteri kita akan mendapatkan fasilitas dan kemudahan dari Bapak Menteri. Apabila kita akrab dengan seorang pejabat di dunia ini saja kita mendapat kemudahan dan keistimewaan, apa lagi kalau kita bergaul akrab dengan Raja di atas segala raja, Tuhan di atas segala tuhan. Orang jujur hidup subur, orang jujur hidup makmur.

Yesus adalah model sempurna tentang orang yang jujur. Ada ayat-ayat kitab Amsal yang berbicara tentang fasilitas yang khusus dimiliki oleh orang-orang yang jujur. Kita semua ingin menjadi orang yang jujur. Pertanyaannya, apakah kita bisa menjadi orang yang jujur? Terus terang, jawabannya tidak bisa! Dengan kekuatan sendiri, walaupun sudah mendengar ayat-ayat firman Tuhan, cerita yang memotivasi, kita akan melupakannya dan tidak akan bisa menjadi orang jujur. Hanya Yesus yang jujur, karena Ia adalah Allah. Tetapi puji Tuhan, dalam masa Perjanjian Baru ini, pada masa pencurahan Roh Kudus, kita memang tidak bisa menjadi orang jujur dengan kekuatan sendiri tetapi Yesus Kristus yang tinggal dalam hati kita, dalam Roh Kudus, memampukan kita menjadi orang jujur.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI