Yohanes 2 : 1-8

 Pandangan-pandangan umat Kristiani tentang mujizat ada diantara dua ekstrim. Ekstrim pertama mengatakan: “Tidak ada lagi Mujizat, Mujizat hanya terjadi pada zaman kisah rasul-rasul. Pada waktu itu diperlukan tanda-tanda heran untuk mengabarkan Injil”. Mereka menganggap kekuatan supranatural, kekuatan Sorgawi tidak diperlukan lagi pada masa kini, karena tuntunan hidup bagi orang percaya sudah sempurna dinyatakan di dalam Alkitab. Panndangan ekstrim kedua mengatakan: “Masa kini adalah masa demonstrasi kuasa Allah. Mujizat terjadi dalam jumlah banyak, sekala yang besar; ada kesembuhan massal, ada tanda-tanda heran ketika orang-orang percaya berkumpul, kehidupan masa kini adalah kehidupan Mujizat”.

Dari pembacaan firman Tuhan yang sudah kita baca, ada empat urutan tindakan bagi terjadinya sebuah mujizat:

  1. Yesus diundang ke pesta pernikahan itu.
  2. Pada waktu ada kesulitan, masalah ini dilaporkan kepada Yesus.
  3. Yesus memberitahukan apa yang harus dilakukan.
  4. Ada sarana yang dipakai untuk melakukan mujizat itu, yaitu air, air pembasuhan dalam tempayan.

Mari kita renungkan lebih jauh.

Pertama, mengundang Yesus, mendekati Yesus adalah awal dari terjadinya mujizat. Yesus adalah Tuhan adalah Maha Kudus, Ia hanya bisa kita dekati dalam kekudusan. Tanpa  kekudusan, tidak ada seorangpun yang bisa menghadap Tuhan.

Pada waktu Tuhan bertemu Musa disemak belukar, ada api tetapi rumput tidak terbakar. Tuhan berkata kepada Musa: “Tanggalkanlah sepatumu karena tempat ini Maha Kudus”. Di suatu tempat dimana ada Tuhan adalah tempat yang kudus. Pada waktu Tuhan bertemu dengan Musa di Gunung Sinai, Tuhan berkata: “Orang-orang Israel termasuk hewan-hewannya tidak boleh mendekat ke lereng Gunung Sinai karena mereka bisa mati”.

Pada waktu Nabi Yesaya menerima penglihatan tentang Allah, ia berkata: “Celakalah aku, aku binasa sebab aku ini seorang yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja yakni Tuhan Semesta Allah”. Begitu luar biasanya kemuliaan Tuhan. Bahkan makhluk-makhluk sorgawi yang melayani Allah menutup mata mereka, tidak sanggup melihat kemuliaan Tuhan.

Tidak ada seorangpun yang bisa mengenal Tuhan, Ia hanya bisa kita kenal apabila Ia memperkenalkan diri-Nya kepada kita dan itulah yang terjadi pada waktu Ia memperkenalkan diri kepada umat manusia di dalam Anak-Nya Yesus Kristus.

Menyembah Tuhan harus dengan kekudusan, dinyatakan dalam ayat-ayat firman Tuhan dalam  I Taw. 16, Maz. 29 dan Maz. 96.

Langkah kedua terjadinya mujizat adalah menyampaikan masalah kita, pergumulan berat yang sedang kita hadapi pada saat ini kepada Yesus. Kenapa kita perlu menyampaikannya, bukankah Tuhan itu Maha Tahu, mengerti segala sesuatu? Dia tahu kita punya masalah, Ia tahu kita sakit, Ia tahu kita berkekurangan, Ia tahu tentang diri kita dari ujung kaki sampai ujung rambut, tetapi kita perlu memberitahukannya bukan karena Ia tidak tahu tetapi karena Ia senang mendengarkan suara hati dan permohonan kita yang tulus.

Tuhan tidak senang apabila kita berdoa kepada-Nya seperti ini: “Berilah Tuhan semua yang kami butuhkan karena Engkau lebih cakap memberi dari kami meminta”, atau doa seperti ini: “Tuhan, berikanlah kami makanan dan minuman kami untuk satu tahun ini”. Tuhan tidak senang kita berdoa hanya sekali dalam seminggu, sebulan atau setahun. Ia mengajari kita dalam “Doa Bapa Kami” untuk meminta sehari lepas sehari “berilah kami makanan kami yang secukupnya pada hari ini”, sehingga kita berdoa setiap hari, setiap waktu kepada-Nya.

Ada yang mengatakan doa adalah nafas orang Kristen, tidak berdoa berarti mati, banyak berdoa banyak berkat, sedikit berdoa sedikit berkat, tidak berdoa tidak ada berkat. Doa adalah salah satu kunci terjadinya mujizat dalam kehidupan kita.

Langkah ketiga bagi terjadinya mujizat, mendengarkan apa petunjuk atau perintah Yesus. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan untuk mengisikan air ke dalam enam tempayan yang biasa dipergunakan untuk pembasuhan. Turuti perintah-Nya walau tidak masuk akal. Air menjadi Anggur! Seandainya pelayan-pelayan itu adalah ahli-ahli ilmu kimia, mungkin mereka mengatakan; “Tidak mungkin air bisa dirubah menjadi Anggur”, maka mujizat itu tidak terjadi”.

Maria berkata kepada pelayan-pelayan: “Apapun yang Yesus katakan lakukan itu”. Melakukan firman Tuhan walau tidak masuk akal, adalah kunci kehidupan iman, melakukan sesuatu diluar akal budi dan pikiran kita.

Firman Tuhan sering tidak bisa diterima dengan akal dan pikiran. “Berilah persembahan perpuluhanmu, maka Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mengusir belalang pelahap”, kata Maleakhi. Kalau kita pakai akal pikiran, memberi itu adalah satu kerugian, manusia ingin hanya menerima saja. Itu sebabnya banyak orang-orang Kristen yang tidak menjalankan perpuluhan karena mereka tidak percaya apa yang dikatakan Maleakhi, “tingkap-tingkap langit akan dibuka dan belalang pelahap akan dihilangkan”.

Laksanakan firman Tuhan walau itu tidak masuk akal. Maz. 112 mengatakan: “Orang yang takut akan Tuhan, anak cucunya perkasa dimuka Bumi”. Kalau kita mau anak-anak kita menjadi orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya takutlah akan Tuhan, dengarkan firman-Nya dan laksanakan.

Keempat, dalam mujizat air menjadi anggur, Yesus tidak melakukan mujizat secara simsalabim, misalnya, sewaktu kurang anggur,  tiba-tiba muncul botol-botol anggur dalam jumlah yang banyak, tidak demikian.  Dalam membuta mujizat, Ia meminta apa yang kita miliki walau menurut kita itu tidak berarti. Air yang dipakai untuk pembasuhan di jadikan Tuhan menjadi anggur. Pada waktu Nabi Elia bertemu dengan janda Sarfat yang berada di ambang kematian karena bahan makanan sudah habis ia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli. Tetapi, karena janda Sarafat ini percaya kepada Elia dan melaksanakan apa yang dikatakannya, tepung gandum dan minyak tidak habis-habis selama masa kekeringan yang panjang. Segenggam tepung dan sedikit minyak, bisa dipakai Tuhan menghidupi Nabi Elia, janda Sarfat dan putrinya pada masa kekeringan yang panjang.

Ketika ribuan orang mendengarkan khotbah Yesus dan menjadi lapar, murid-murid mengatakan tidak punya uang membeli makanan dan kalaupun ada uang, kemana bisa belanja untuk memenuhi kebutuhan sebanyak itu? Yesus berbelas kasihan pada jemaat yang kelaparan itu. Di sana ada anak kecil yang dibekali ibunya dengan 5 roti dan 2 ikan, Ia memberkati 5 roti dan 2 ikan iyu dan menjadikannya makanan bagi ribuan orang, dan bahkan masih tersisa.

Dalam masa kekurangan, pada waktu kita mengalami masalah, persembahkanlah apa yang kita punya walau sedikit nanti Tuhan akan menggandakannya. Persembahkanlah apa yang kita miliki bagi Tuhan, waktu kita, tenaga kita, talenta kita, apa saja yang bisa kita berikan kepada Tuhan, persembahkanlah itu dan Tuhan bisa melipat gandakannya, Tuhan bisa memakainya sehingga terjadi mujizat dalam kehidupan kita.

Akhirnya, apa tujuan terjadinya mujizat? Dalam peristiwa perkawinan Kana, Yesus datang bersama murid-murid-Nya yang baru bergabung sehari dua dengan-Nya. Melalui mujizat ini murid-murid diteguhkan imannya. Pada waktu kita melihat mujizat terjadi dalam kehidupan kita, kita semakin takjub, semakin hormat, bahkan semakin takut kepada Tuhan, karena Ia adalah Tuhan yang sungguh-sungguh real, sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI