Matius 6:9-13, Lukas 11:2-4

Masing-masing denominasi Gereja mempunyai tata ibadah, liturgi yang berbeda antara 1 dengan lainnya. Ada tata ibadah yang memasukkan Doa Bapa Kami dalam setiap ibadah atau kebaktian, tetapi ada pula Gereja-Gereja yang tidak secara khusus memasukkan Doa Bapa Kami dalam tata ibadahnya. Dalam satu denominasi seperti kita di GIKI, ada jemaat lokal yang memasukkan dan ada pula yang tidak memasukkannya dalam tata ibadah. Tampaknya, hal ini dibawa oleh Majelis Pengerja dari kebiasaan gereja asal sebelum melayani di GIKI.

Ada jemaat yang merasa diucapkan atau tidak diucapkan Doa Bapa Kami menunjukkan aliran dari sebuah gereja. Kalau ibadah sebuah gereja ada mengucapkan Doa Bapa Kami, mereka akan mengatakan, “Ini sealiran dengan kita”. Sebaliknya, apabila ada Gereja tidak memasukkan Doa Bapa Kami dalam tata ibadahnya mereka mengatakan, “tidak Sealiran dengan kita”. Secara ekstrim, ada jemaat yang merasa ibadah tidak sah, tanpa Doa Bapa Kami. Kalau hal ini terjadi, menunujukkan bahwa kita bersama-sama perlu merenungkan kembali tentang arti dan makna dari Doa Bapa Kami itu.

Bagi kita yang secara rutin mengucapkan Doa Bapa Kami dalam setiap ibadah, dalam perlu dijaga agar Doa Bapa Kami tidak hanya sekedar menjadi satu rutinitas, dimana yang berbicara adalah bibir dan mulut, tetapi hati tidak berbicara. Makna, arti dari Doa Bapa Kami akan hilang apabila kita terbenam dalam rutinitas. Sebaliknya, dalam ibadah-ibadah yang tidak mengucapkan Doa Bapa Kami, kita perlu juga ingat bahwa Doa Bapa Kami adalah satu doa yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, satu model doa yang sempurna. Perlu kita waspadai bersama, mencegah Doa Bapa Kami dijadikan sebagai sebuah mantera.

Doa Bapa Kami diajarkan oleh Yesus atas permintaan murid-murid-Nya. Mereka melihat Yohanes Pembaptis mengajar murid-muridnya berdoa dan mereka juga ingin diajar untuk berdoa. Tuhan Yesus mengajari mereka berdoa itulah Doa Bapa Kami. Yang diajarkan oleh Yesus, adalah bagaimana berdoa, sebuah model doa. Tuhan Yesus tidak meminta agar setiap kali kita mengucapkan doa dengan kalimat dan kata-kata yang sama dan tidak boleh digunakan sebagai mantera. Hal ini berbeda dengan Perjamuan Kudus, yang secara jelas Yesus meminta kita, murid-murid-Nya untuk melakukannya berulang-ulang.

Setiap kata atau kalimat dalam doa Bapa Kami, mengadung pokok-pokok teologis yang penting seperti sebutan Bapa bagi Tuhan, kekudusan, Kerajaan Allah dan pengampunan.

Doa Bapa Kami dimulai dengan ucapan “Bapa Kami yang di Sorga”. Sebutan Bapa bagi Tuhan diajarkan oleh Yesus Kristus. Ia menyebut diri-Nya sendiri sebagai Anak Manusia dan Ia menyebut Allah sebagai Bapa. Ia juga mengajar murid-murid-Nya, pengikut-Nya untuk menyebut Allah sebagai Bapa. Tidak semua orang bisa menyebut Allah sebagai Bapa. Dalam Roma 8:14 disebutkan “Anak-anak Allah adalah mereka yang didiami oleh Roh Allah, oleh Roh Kudus”.Kalau kita pertajam pengertian ini, kita dapat mengatakan: “Kalau seorang belum didiami oleh Roh Kudus, ia bukan Anak Allah”. Kehadiran Roh Kudus dalam diri orang percaya tidak bisa ditawar-tawar, tanpa Roh Kudus seorang tidak bisa masuk Sorga. Dalam Roma 8:9, Paulus menulis: “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus”.Artinya, jika seorang tidak memiliki Roh Kudus, Roh Allah, Roh Tuhan maka ia bukan milik Kristus, bukan milik Allah, tetapi ia adalah  milik si iblis.

Kapankah Roh Kudus dianugerahkan kepada kita? Pada waktu kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Hal itu bukan terjadi dengan kekuatan kita tetapi karena Roh Kudus menjamah hati kita. Roh Kudus mengingatkan kita akan kesalahan-kesalahan, dosa-dosa kita, Roh Kudus menuntun kita pada pertobatan, Roh Kudus melahir barukan kita. Ketika kita menerima Roh Kudus kehidupan kita berubah, tetapi perubahan itu bukan perubahan sekali jadi seperti membalik telapak tangan. Perubahan itu adalah proses pengudusan. Pertobatan, menerima Yesus, menerima Roh Kudus dalam hati kita terjadi satu kali, tetapi proses pengudusan berlangsung seumur hidup, kita disempurnakan semakin serupa dengan Yesus. Dapat kita simpulkan, Allah adalah Bapa kita apabila Roh Kudus sudah tinggal di dalam hati kita.

Selanjutnya, “Bapa Kami yang di Sorga”. Doa Bapa Kami mengingatkan kita akan adanya Sorga, ada Sorga berarti ada juga Neraka. Pada suatu waktu semua orang tanpa terkecuali akan dihakimi oleh seorang hakim yang Maha Agung yaitu Yesus Kristus sendiri. Orang masuk sorga atau neraka tidak ditentukan di sorga, tetapi ditentukan di dunia ini, ditentukan oleh respon yang ia berikan terhadap pewartaan Injil. Orang yang menerima berita Injil masuk sorga, tetapi orang yang menolaknya masuk neraka. Dalam Mrk. 16:15-16 tertulis perkataan Yesus: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”.

Selanjutnya, “Dikuduskanlah namaMu”.  Tuhan adalah Maha Kudus. Kita hanya bisa menghadap Tuhan dengan kekudusan. Menyembah Tuhan berhiaskan kekudusan seperti tertulis dalam I Tawarikh 10:29, Mazmur 29:2, Mazmur 96:9. Tanpa kekudusan kita tidak bisa mendekati Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, dalam perjalanan umat Israel dari tanah Mesir ke tanah Kanaan, apabila Tuhan mengadakan pertemuan khusus dengan umat-Nya maka umat Israel harus menguduskan dirinya, misalnya; dengan mecuci pakaian dan menjauhkan diri dari kenajisan. Apabila kita mengucapkan Doa Bapa Kami, periksa relung-relung hati kita yang paling dalam, apakah hati kita sudah dikuduskan sehingga doa kita bisa diterima oleh Tuhan. Apabila kita merasa kehidupan kita jauh dari kehidupan yang kudus, itulah saatnya kita koreksi diri. Petrus berkata dalam Kisah Para Rasul 2:38: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”. Inilah seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yesus pada Markus 1:15, “Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat dan percayalah kepada Injil”.

Selanjutnya, “Datanglah Kerajaan-Mu”. Kerajaan Allah, apakah Kerajaan Allah itu belum datang dan masih menunggu penggenapan-Nya? Tuhan Yesus mengatakan “Kerajaan Allah sudah dekat” 2000 tahun yang lalu dalam pengertian “sudah sangat dekat”. Berarti, Kerajaan Allah itu sudah datang bersama dengan kehadiran Yesus dimuka Bumi ini. Yesus Kristus adalah raja. Rakyatnya adalah kita semua orang-orang yang percaya kepada-Nya. Secara istilah,  kita tidak disebut sebagai rakyat tetapi anak-anak Allah, keluarga besar Kerajaan Allah. Sebagai raja Ia memberikan keamanan, kesejahteraan dan membela umat-Nya dari perlakuan yang tidak adil.

“Datanglah Kerajaan-Mu”, pada masa kini Kerajaan Allah sudah ada, tetapi orang benar dan orang berdosa masih hidup berdampingan bersama-sama, sampai suatu saat nanti sangkakala berbunyi, akan terjadi pemisahan antara orang benar dan orang berdosa. Pada waktu itulah Kerajaan Allah ada dalam bentuk yang sempurna, hanya didiami oleh orang-orang benar. “Datanglah Kerajaan-Mu”, merujuk pada Kerajaan Allah yang sempurna pada waktu kedatangan Yesus yang kedua kali.

Selanjutnya, “Jadilah kehendakMu di Bumi seperti di Sorga”. Kehendak Tuhan lah yang jadi bukan kehendak kita. Kita tidak bisa memaksa Tuhan menjawab doa menurut keinginan kita. Tidak ada suatu prosedur, tata acara dan aturan berdoa untuk bisa memaksa Tuhan memenuhi keinginan kita. Di Taman Getsemani, Yesus berdoa: “Jadilah kehendakMu Bapa, bukan kehendakKu”.Jadilah kehendak Tuhan, berarti ada penyangkalan diri dari pihak kita, menerima apapun jawaban dari sebuah doa, meyakini  itu adalah yang terbaik buat kita pada suatu waktu, walau barangkali tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan atau yang kita inginankan. Tuhan menjawab doa atas dasar belas kasih. Untuk mendapat belas kasihan Tuhan, kita perlu merendahkan diri dihadapan-Nya, menyembah-Nya dalam kekudusan, melakukan firman-Nya sekuat tenaga kita. Lakukan apa saja pun, hal-hal kecil, hal-hal besar yang kita rasa bisa menarik perhatian Tuhan dalam memohon belas kasih-Nya.

Selanjutnya “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya”, bukan makanan seminggu, sebulan atau setahun. Tuhan rindu kita berkomunikasi dengan Dia setiap hari, kita minta kebutuhan untuk satu hari. Sering berdoa menyenangkan hati Tuhan.

“Makanan yang secukupnya”. Pada waktu umat Israel berjalan dari Tanah Mesir ke tanah Kanaan mereka mendapatkan manna, mereka boleh ambil dalam jumlah yang cukup untuk hari itu, apabila mereka menyimpannya lebih lama maka manna itu akan menjadi busuk. Kalau kita  lihat foto-foto keluarga tahun 50-an, orang-orang yang hidup pada masa itu, tubuhnya rata-rata ramping atau lebih mengarah pada kurus, karena waktu itu makanan amat terbatas, makan daging ayam saja misalnya hanya pada acara-acara tertentu, pada waktu kita menjamu tamu yang istimewa. Menu makanan di hari-hari biasa terdiri dari sayur dan ikan asin saja. Dengan menu seperti itu, orang-orang jaman dulu kelihatan lebih sehat dari kita sekarang ini. Sekarang ini kita tiap hari bisa memakan daging ayam sehingga tampak lebih gemuk dari orang-orang jaman dulu. Ada orang mengatakan, “makanan adalah pembunuh manusia terbanyak masa kini”, makanan yang berlemak, cepat saji, makanan dalam kaleng dan lain-lain sebagainya menurut dokter tidak baik untuk kesehatan. Doa Bapa Kami mengajarkan kita hidup sehat yaitu makan secukupnya, kata ahli gizi “berhenti makan sebelum kenyang”.

Selanjutnya Matius 6 : 12, “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”. Mengampuni adalah tema yang indah dalam kehidupan orang Kristen. Setiap kali kita mengucapkan Doa Bapa Kami, kita perlu memeriksa apakah ada saudara-saudara yang belum kita ampuni. Apabila kita menghayati, menjiwai Doa Bapa Kami,  maka akar pahit, luka jiwa tidak akan ada dalam diri kita. Sebaliknya, apabila kita tidak mengampuni Tuhan tidak akan mendengarkan doa kita.  Dalam ayat 14, 15 dikatakan: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Dua  ayat terakhir ini jelas dan tegas berbicara tentang pentingnya arti pengampunan, suara hati Tuhan tentang pengampunan.

Dalam Matius pasal 18, suara hati Tuhan dinyatakan dalam satu perumpamaan tentang seorang yang berhutang kepada raja lebih dari 1 trilyun Rupiah, tidak mampu membayarnya sehingga raja memasukkan orang itu ke dalam penjara. Tetapi oleh karena hamba itu memohon belas kasihan, raja berbelas kasihan menghapuskan hutangnya yang sangat-sangat besar itu. Ketika hamba itu keluar dari penjara, ia bertemu dengan seorang temannya yang berhutang kepadanya sekitar beberapa juta rupiah saja.  Ia mencekik kawannya itu dan mendesak untuk membayar hutangnya. Kawannya memohon belas kasihan tetapi hamba ini tadi menjebloskannya ke dalam penjara. Ketika hal ini di dengar oleh raja, ia murka, menangkapnya kembali dan menyerahkannya kepada algojo-algojo. Betapapun kita sakit hati akan perbuatan saudara-saudara yang lain kepada kita walau kita merasa trauma sekalipun, semua itu adalah sangat-sangat kecil dibandingkan dengan dosa yang sudah kita perbuat kepada Tuhan.

Apabila Tuhan mengampuni dosa kita yang demikian besar, maka kita juga diminta oleh Tuhan mengampuni saudara-saudara kita, apabila hutang kita sebesar 1 trilyun rupiah sudah dihapuskan oleh Tuhan maka kita juga diminta menghapuskan hutang saudara-saudara kita yang beberapa juta rupah tadi. Ada banyak sakit penyakit pada waktu ini yang ditimbulkan oleh akar pahit, luka jiwa, dendam, tidak mengampuni membuat kita lemah secara jasmani dan secara mental. Penyembuhannya bukan melalui obat-obatan tetapi melalui terapi rohani. Apabila kita bisa berdamai, saling mengampuni dengan saudara-saudara yang lain, akar pahit, luka jiwa itu hilang.

Dari renungan ini kita dapat melihat Doa Bapa Kami itu berisi konsep-konsep teeologis yang amat penting dalam hubungan kita dengan Tuhan. Doa Bapa Kami adalah visi Tuhan yang Ia ingin kita mengetahuinya. Kita memandang-Nya sebagai Bapa di dalam Yesus Kristus, kita menyembah-Nya di dalam kekudusan. Ia di dalam anak-Nya Yesus Kristus adalah Raja dalam Kerajaan Allah itu yang sudah ada sekarang dan akan disempurnakan pada waktu kedatangan Yesus yang ke-2 kali. Ia ingin agar kita saling mengampuni seperti Ia sudah mengampuni dosa-dosa kita. Ia ingin kita hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI