Markus 11: 15-19

Di sebuah desa pelayanan GIKI, pada suatu waktu timbul keinginan hamba Tuhan yang melayani di sana untuk meningkatkan kesejahteraan jemaat dengan membuat suatu usaha bersama. Hamba Tuhan itu bahkan mengorbankan harta yang ada padanya untuk proyek tersebut. Tetapi apa yang terjadi, kesalah pahaman muncul sehingga  banyak anggota jemaat tidak lagi datang ke kebaktian minggu. Kalau kita mengaitkan kegiatan pelayanan dengan suatu hal bersifat komersial atau bisnis, rentan sekali untuk digocoh oleh si iblis. Karena si iblis jauh lebih pintar dari kita dalam hal-hal bersifat kejasmanian.

Syukur, kalau ada dampak negatif sehingga kita bisa segera melakukan perubahan sikap. Gereja nukanlah tempat untuk berbisnis. Tuhan Yesus mengatakan: “Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!”.

Ada fenomena yang menarik dalam rumah ibadah, kehidupan pelayanan beberapa organisasi pelayanan di Amerika Serikat, yang mungkin juga terjadi di Negara-negara lain termasuk di Indonesia. Ada beberapa organisasi pelayanan yang kaya raya. Pemimpinnya hidup dalam rumah mewah, bepergian dengan pesawat jet pribadi, dalam perjalanan pelayanan menginap di hotel-hotel yang sangat mewah. Bahkan ada sebuah organisasi pelayanan yang punya lapangan udara sendiri, punya beberapa pesawat pribadi berlokasi di dekat rumah pimpinan pelayanan tersebut.

Dari mana mereka mendapat uang? Sumber pemasukan utama adalah dari perpuluhan jemaat dan penjualan buku-buku, DVD dan semacamnya. Dari pengajaran yang disampaikan mereka, umumnya menekankan kemakmuran secara jasmani bagi para jemaat dan ada juga yang memberi pelayanan penyembuhan. Jumlah jemaat yang hadir dalam kebaktian-kebaktian mereka mencapai ribuan orang, bahkan ada yang disiarkan melalui televisi hingga menjangkau puluhan ribu orang. Kalau pelayanan seperti ini bisa berkembang, pastilah karena jemaat merasa diberkati.

Bagaimana sikap kita tentang pelayanan seperti ini berdasarkan tuntunan  Firman Tuhan. Kita mau menghakimi pelayanan-pelayanan itu, bahwa itu baik atau tidak baik. Sebaliknya, kita perlu memahami lebih jauh tentang kekudusan pelayanan berdasarkan tuntunan firman Tuhan.

Pertama, adalah keliru kalau kita mengaitkan keberhasilan suatu pelayanan dengan banyaknya jumlah jemaat atau besarnya kekayaan yang dimiliki sebuah organisasi pelayanan.

Keajaiban dan mujizat bisa saja terjadi di debuah gereja kecil, di gereja di tempat terpencil. Sebaliknya, gereja yang besar yang jemaatnya ratusan ribu atau bahkan jutaan orang bukan suatu jaminan bahwa Tuhan ada di gereja tersebut. Sejarah perkembangan gereja menunjukkan hal ini. Gerakan reformasi yang dicetuskan Martin Luther pada abad pertenganhan di Jerman adalah sebuah koreksi total dari kesesatan gereja dalam masa yang lama yang mempengaruhi puluhan juta jemaat. Organisasi yang besar, jemaat yang besar serta dukungan penguasa tidak menjamin sebuah gereja berjalan seturut dengan yang dikehendaki Yesus Kristus.

FT yang kita abaca hari ini menuntun kita untuk memelihara kekudusa Bait Allah, untuk memelihara kekudusan gereja. Pada masa Perjanjian Lama, di dalam kitab Keluaran dijelaskan bahwa kemah suci itu dibangun sesuai dengan perintah Allah ( Kel 26: 1-37) sehingga tempat itu sungguh-sungguh dijaga ke kudusannya, bahkan setiap orang yang datang beribadah kedalam kemah tersebut pun tidak boleh main-main (harus tertib), kalau tidak maka Allah akan murka.

Dalam Perjanjian Baru ,Yesus Kristus kembali menegaskan kepada kita betapa Bait Allah itu suci adanya, hal ini terbukti pada saat Yesus dengan murid-muridnya datang di Yerusalem dan mendapati banyak orang yang berjualan di Bait Allah. Baru saat itulah Alkitab mencatat bahwa Yesus benar-benar marah dan mengusir semua yang berjualan disana dan membalikkan meja-meja dagangan mereka itu (Markus 11:15). Hal ini menunjukkan betapa sucinya Bait Allah itu, yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik.

Apabila kita menginginkan dunia ini dengan kemewahan dan kekayaannya, meminta kepada Yesus bukan alamat yang tepat. Tetapi, alamat yang tepat adalah meminta kepada si iblis. Ketika membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, Iblis berkata kepada Yesus dalam Mat. 4:9, “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku”. Jadi kalau mau sekedar kekayaan berlimpah bersifat pesta pora dan kedagingan, sembahlah Iblis. Tetapi perlu kita ingat, pemberian dari si iblis bukan suatu berkat melainkan kutuk, pemberian itu membawa kekacauan dan bukan sukacita. Kalau si iblis memberi sesuatu kepada seseorang, orang itu harus bayar harga untuk menemani si iblis nanti di neraka.

Bagi seorang yang sudah bertobat dalam hidupnya, yang sudah dipenuhi oleh Roh Kudus, ia tidak akan mau menjual imannya untuk mendapatkan kekayaan betapapun besarnya. Orang itu bahkan sedia mati dalam kekurangan dan kelaparan kalau hal itu harus terjadi. Tetapi puji Tuhan, hal seperti itu tidak mungkin terjadi bagi orang percaya, karena Tuhan selalu memperhatikan kehidupan anak-anak-Nya. Dalam Yo. 10:10b, Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”.

Kalau bukan jumlah jemaat atau kekayaan sebuah gereja yang menentukan benar atau tidaknya pengajaran gereja tersebut, bagaimanakah gereja yang berjalan dalam terang firman Tuhan?

Ada tiga ciri sebuah gereja yang setia berjalan mengiring Yesus Kristus.

Pertama, dalam sebuah gereja yang menyebut Yesus sebagai Kepala Gereja, setiap khotbah dan kidung pujian yang dilantunkan secara langsung ataupun tidak langsung berkaitan dengan nama Yesus. Sebuah khotbah yang tidak berkaitan dengan nama Yesus, bukanlah sebuah khotbah injili. Dalam kehidupan pelayanan, saya sering menemui khotbah yang menyebut nama Yesus bahkan pada perayaan Natal. Walau khotbah dan renungan itu menarik dan disampaikan dengan bahasa dan penampilan yang baik tetapi kalau tidak menyinggung nama Yesus akan kehilangan arti rohaninya.

Kedua, sebuah gereja yang mempercayai Alkitab sebagai firman Tuhan tanpa salah, yang punya otoritas, akan tampak dari renungan yang disampaikan dari mimbar. Renungan-renungan yang disampaikan memiliki pijakan firman Tuhan yang kokoh yang bisa dipergunakan oleh jemaat dalam kehidupan mereka.

Gereja perlu memusatkan perhatian utama pada masalah rohani, pada masalah keselamatan jemaat. Gereja yang mengalihkan perhatiannya dari masalah rohani ke masalah duniawi, lebih menekankan kekayaan kebendaan, kesehatan jasmani dibandingkan dengan kekayaan rohani dan kesehatan rohani perlu dijaga agar tidak terjebak ke dalam perangkap si iblis. Si iblis menggoda dan menipu manusia dengan hal-hal yang bersifat kedagingan dan kesombongan hati.

Strategi si iblis licik dan halus mungkin tidak disadari oleh gereja. Si blis tidak keberatan, bahkan mungkin mendukung agar gereja memiliki kekayaan berlimpah dan jemaat yang banyak sehingga orientasi pelayanan beralih pada hal-hal bersifat jasmani.

Pada akhir zaman, Paulus mengatakan dalam 2 Tim. 3:1-2 bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Saya percaya kita sudah berada pada bagian akhir dari peradaban manusia dan kedatangan Tuhan Yesus tidak lama lagi. Paulus sudah memperingatkan kita akan apa yang kita lihat pada hari-hari ini, perhatian pada masalah-masalah jasmani dan pada uang dalam kehidupan orang-orang Kristen dan juga dalam kehidupan gereja.

Ketiga, sebuah gereja yang mengiring Yesus adalah gereja yang  menjalankan Amanat Agung mengabarkan Injil. Keberhasilan PI bukan terletak pada sekit banyaknya jiwa yang dimenangkan, tetapi kesetiaan kita untuk melaksanakannya. Tugas kita adalah menabur benih, tentang pertumbuhanya ada di tangan Tuhan. Seperti dikemukakan Yesus dalam perumpamaan, sebagian benih itu ada yang jatuh di jalan dan dimakan burung, sebagian jatuh di tanah berbatu-batu, sebagian di tanah yang ada ilalangnya dan sebagian jatuh di tanah yang subur. Tugas kita sekali menabur, dan biarlah Tuhan berkarya untuk memberkati menyelamatkan siapa yang Ia ingin selamatkan.

Kita perlu berhati-hati dengan tipu daya si iblis yang berusaha menghambat setiap usaha pekabaran Injil. Barangkali dengan pertumbuhan jemaat yang semakin besar, asset gereja yang bertambah dan pelayanan yang beraneka ragam membuat sibuk semua pelayan dan pengerja gereja sehingga tidak ada waktu lagi bagi pekabaran Injil.

Kalau sebuah gereja memiliki asset dan kekayaan yang semakin besar maka potensinya mengabarkan Injil juga semakin besar. Tetapi sebenarmya, asset dan kekayaan bukan menjadi factor dominan melakukan PI. Ketika mengutus murid-murid-Nya ber-PI, Yesus mengatakan kepada mereka untuk tidak membawa emas atau perak atau tembaga, bekal dalam perjalanan. Yesus mengatakan: “Janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya”. Dapat kita tafsirkan, dalam PI suatu Amanat Agung, Tuhan sendiri bekerja secara aktif memperlengkapi kebutuhan semua anak-anak-Nya yang ber-PI.

Yang diperlukan dalam sebuah pelayanan PI adalah ketergerakan atau keterpanggilan kita melakukannya. Selalu ada jalan untuk melaksanakannya. Sesudah kita melayani PI maka selanjutnya dibutuhkan kesetiaan kita melakukannya sehing pada suatu hari, kita akan melihat nuah-buah yang ranum dari benih-benih yang kita taburkan.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI