Lukas 5:1-8, 1 Raj. 17, 2 Raj 4

Kunci untuk membuka pintu keberhasilan adalah ”iman”. Dalam 1 Yoh. 5:4, dikatakan ”iman mengalahkan dunia”. Kesaksian tokoh-tokoh  Alkitab dapat membakar semangat kita. Yang pertama, bila kita merasa sebagai orang yang gagal, upaya kita selama ini sia-sia, tidak ada hasilnya,  kita bisa belajar dari kesaksian seorang penjala ikan bernama Simon. Semalaman Simon dan teman-temannya pergi menangkap ikan, seekorpun tidak berhasil mereka tangkap. Bagi nelayan, tidak berhasil menangkap seekor ikanpun berarti adalah kegagalan total. Simon gagal total, pada malam itu.

Nelayan-nelayan ini mendayung ke darat, membersihkan perahu dan jala. Matahari sudah terbit, hari mulai siang dan pada waktu itu, seorang Rabi Yahudi bernama Yesus  sedang berada di tengah kerumunan orang. Yesus meminjam perahu Simon dan berbicara dari atas perahu itu. Sesudah selesai, Yesus berpaling kepada Simon dan berkata: ”Tebarkanlah jalamu di tempat yang dalam”.

Sekali lagi, ”tebarkanlah jalamu di tempat yang dalam”. Kita tentu tahu apa artinya ini? Yesus meminta Simon untuk kembali menjala ikan, sedangkan hari sudah mulai siang, dan setiap orang, orang awam sekalipun, tahu bahwa ikan-ikan tidak ditangkap di siang hari. Apabila mereka melihat jala, mereka lari. Ikan-ikan itu seolah-olah tidur di siang hari. Ikan-ikan itu ditangkap biasanya pada malam hari. Perintah Yesus adalah perintah yang bertentangan dengan akal pikiran. Tentu saja, Simon merasakan konflik batin ketika mendengarnya. Apabila dia memakai akal pikirannya, di tengah keletihan, di tengah hati yang gundah, Simon mungkin berkata: ”Wah, terima kasih Guru, terima kasih Guru atas saran ini. Sekedar tahu saja, bahwa semalaman kami tidak berhasil menangkap ikan. Ya, kalau di siang hari saya diminta menjala ikan, pada waktu ikan-ikan sedang tidur, ya, terima kasih”. Dan mungkin ia tidak melakukannya. Tetapi, ada sesuatu yang istimewa pada Rabi Yahudi itu, ada karisma dan wibawa Yesus yang dirasakan Simon sehingga ia mau mendengarkan perintah Yesus. Ia percaya dan mengatakan: ”Walaupun kami sudah semalaman bekerja menangkap ikan dan tidak berhasil, namun karena Engkau mengatakannya, aku akan melakukannya juga”.

Simon mengalahkan akal dan pikirannya dan kemudian melakukan perintah Yesus. Dia pergi menebarkan jalanya ke tempat yang dalam dan apa yang terjadi, kita? Jala itu bergetar, penuh dengan ikan, perahu hampir tenggelam sedangkan ikan-ikan masih ada dalam jala. Simon melambaikan tangannya ke darat, berseru: ”Kirimkan lagi satu perahu, kirimkan lagi satu perahu!” Perahu kedua datang mereka isi dengan ikan dan kedua perahu itu kembali ke darat hampir tenggelam. Apa artinya? Simon dan teman-temannya mengalami keberhasilan total, ia datang dengan satu perahu dan pulang membawa hasil dalam dua perahu. Apabila pada malamnya, Simon adalah seorang yang gagal total, ketika ia melakukan perintah Yesus, ia mengalami keberhasilan total.

Yesus menolong Simon dua ribu tahun yang lalu dan Yesus yang tidak berubah, dulu, sekarang sampai selamanya, bersedia menolong kita pada waktu ini. Ia mampu  merubah kegagalan total kita menjadi keberhasilan total. Apa yang perlu kita lakukan, ikuti perintah-Nya, walaupun barangkali tidak masuk akal. Ia memberi pertolongan bukan saja dalam kegagalan usaha tetapi juga dalam kegagalan hidup secara keseluruhan. Yesus akan membuat usaha kita berhasil dan  Yesus akan membuat hidup kita hidup yang yang berkemenangan.

Tokoh Alkitab selanjutnya menyaksikan bagaimana  Tuhan memberi kecukupan dalam masa kekurangan. Apabila kita pernah mengalami masa kekurangan, masa kekeringan dalam hidup, atau barangkali kita sedang mengalaminya pada saat ini, kesaksian ini akan menguatkan kita. Kisah ini diambil dari 1 Raj. 17 tentang seorang janda dari Sarfat.

Pada waktu itu kekeringan berkepanjangan sedang terjadi di tanah Israel dan negeri-negeri sekitarnya. Bahaya kelaparan mulai muncul. Seorang janda miskin di Sarfat, mengumpulkan beberapa potong kayu bakar. Dia bermaksud mengolah makanan terakhirnya, yaitu segumpal tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Ia akan menikmati makanan terakhir ini bersama puterinya kemudian mereka bersiap untuk mati.

Dalam keadaan seperti inilah, janda ini bertemu dengan Nabi Elia. Nabi Elia berkata: ”Ibu, tolong buatkan bagiku terlebih dahulu, sepotong kecil roti bundar, sesudah itu baru engkau buat untuk dirimu dan puterimu. Tuhan berfirman bahwa tepung dalam tempayan tidak akan habis-habis dan minyak dalam buli-buli juga tidak habis-habis selama masa kekeringan ini”.  Tentu janda Sarfat memiliki konflik batin dalam hal ini. Kalau memakai akal dan pikirannya, janda Sarfat mungkin berkata: ”Oh, tidak! Aku akan menikmati makanan terakhirku bagi diriku dan bagi puteriku”. Apalagi, orang asing yang minta roti ini berpenampilan kumuh. Bayangkan Nabi Elia sudah menempuh perjalanan yang jauh, tentu pakaiannya sudah menjadi kumal, rambutnya dipenuhi debu dan janggutnya panjang tidak tercukur. Penampilannya tidak meyakinkan. Puji Tuhan! Janda Sarfat tidak memakai akal pikirannya, tetapi ia menuruti perintah Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Elia.

Selanjutnya, seperti kita baca dalam 1 Raj. 17,  janda ini dengan puterinya bersama Nabi Elia mendapatkan makanan yang cukup selama masa kekeringan, sampai hujan membasahi bumi kembali. Apabila kita merasa masa ini adalah masa kekurangan, masa kekeringan di dalam kehidupan kita, banyak kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi, mungkin  kita mengatakan: ”Inilah yang terakhir kami miliki, sesudah ini kami akan mati, Aku tidak tahu lagi apa yang akan kuperbuat. Semua sumber dalam kehidupanku ini tampaknya sudah kering”. Jangan takut, jangan khawatir. Seperti Tuhan sudah menolong janda Sarfat pada masa kekeringan, Tuhan yang kita kenal dalam Yesus Kristus mampu mencukupi kebutuhan kita di dalam masa kekeringan, di dalam masa kekurangan.

Bagian ketiga dari kesaksian tokoh-tokoh Alkitab yang kita pelajari dalam kesempatan ini, diambil dari 2 Raj. 4. Cerita ini  tentang seorang janda dalam zaman Nabi Elisa. Para janda memang mendapat perhatian khusus dari Tuhan. Kita banyak melihat kesaksian-kesaksian Alkitab bagaimana Tuhan mengasihi para janda. Janda dalam 2 Raj. 4 ini  adalah janda seorang hamba Tuhan yang sudah meninggal dunia. Ia punya dua orang anak. Ia sedang berada dalam keadaan sulit, terjerat lilitan hutang. Ia meminjam, namun tidak mampu membayar kembali. Rentenir datang dan berkata: ”Ibu, engkau harus bayar hutangmu. Kalau engkau tidak lunasi, maka aku akan ambil jaminannya, yaitu kedua orang anakmu”. Hati ibu mana yang tidak akan menjerit, anak-anaknya akan diambil paksa untuk dijadikan budak. Inilah yang dihadapi oleh janda ini tadi.

Ia  mendatangi Nabi Elisa menyampaikan masalahnya. Nabi Elisa menyapanya dengan kasih: ”Ibu, apa yang bisa aku lakukan untukmu”. Sesudah ia ceritakan tentang pergumulan  yang dihadapinya, Nabi Elisa berkata: ”Ibu, apa yang engkau miliki?”.  ”Apa yang engkau miliki”.  Kalau kita perhatikan kesaksian Simon dan kesaksian janda Sarfat tadi, mereka masing-masing memiliki sesuatu. Simon memiliki perahu dan jala. Janda Sarfat memiliki sedikit sedikit tepung dan sedikit minyak dalam buli-buli, dan sekarang Nabi Elisa bertanya kepada janda itu: ”Apa yang engkau miliki?”. Janda itu berkata: ”Aku punya minyak dalam buli-buli”. Kemudian Nabi Elisa berkata: ”Ibu, kumpulkan bejana sebanyak-banyaknya dalam rumahmu dan kemudian tutup pintu. Tuangkan minyak dalam buli-buli itu dan penuhi semua bejana”.

Kembali kita mendengarkan di sini adanya suatu perintah yang tidak sesuai dengan akal pikiran. Kalau memakai akal pikiran,  janda itu bisa mengeluh: ”Wah, yang aku minta pada Nabi sebenarnya supaya ia merujuk aku kepada seorang dermawan yang mampu memberikan uang kepadaku untuk membayar hutangku. Bagi dermawan itu, jumlah ini barangkali jumlah yang kecil tetapi bagiku adalah jumlah yang amat besar”. Puji Tuhan!   Janda ini tidak memakai pikiran tetapi menggunakan iman, ia percaya pada apa yang dikatakan Nabi Elisa. Ia pulang ke rumah. Dia pinjam ember, tong, bejana, wadah apa saja yang bisa dipakai sebagai tempat minyak. Dari kiri kanan, muka belakang, dari tetangga-tetangga dari teman-teman, kemudian ia menutup pintu. Dia tuangkan minyak dalam buli-buli itu, dan apa yang terjadi? Minyak dalam buli-buli itu mengalir dan mengalir mengisi bejana satu dan lainnya, dan berhenti manakala semua bejana sudah terisi penuh. Kemudian ia melaporkan hasilnya kepada Nabi Elisa. Nabi Elisa berkata: ”Jual sebagian menutupi hutangmu dan pakai sisanya untuk menyambung kehidupanmu”. Puji Tuhan, ketika janda ini menuruti perintah Nabi Elisa, walupun perintah ini tidak masuk akal,  mujizat terjadi. Ia terbebas dari lilitan hutang. Ia menyelamatkan kedua anaknya dari ancaman menjadi budak.

Apakah kita mengalami masalah keuangan pada waktu ini? Apakah kita punya masalah kekurangan dana di dalam usaha dalam mencukupkan kebutuhan hidup, dalam melakukan hal-hal yang penting dalam kehidupan kita. Jangan takut, jangan khawatir. Tuhan yang kita kenal dalam Yesus Kristus punya kemampuan untuk mengatasi semua masalah-masalah keuangan kita. Yang penting, turuti firman-Nya walaupun tidak masuk akal. Ia akan menolong kita sama seperti ia menolong janda dalam cerita ini tadi.

Tuhan tidak berubah, Yesus tidak berubah, dulu, sekarang sampai selamanya. Dulu Ia berkarya sama seperti Ia sekarang berkarya untuk melepaskan anak-anak-Nya, orang-orang yang dikasihi-Nya dari permasalahan dan pergumulan mereka. Ketika Yesus memberi pertolongan, bukan hanya masalah jasmani yang diselesaikan-Nya, tetapi masalah kehidupan kita secara keseluruhan akan dipulihkan-Nya.

Kita sudah mendengarkan kesaksian luar biasa dari tiga orang tokoh Alkitab. Ketiga-tiganya mengambil langkah iman. Apakah yang dimaksud dengan langkah iman itu? Langkah iman adalah satu langkah, satu tindakan menuruti firman Tuhan walau pun firman Tuhan itu tidak masuk akal. Ini kuncinya, setiap langkah iman harus ada kaitan firman Tuhan-nya. Landasan untuk mengambil langkah iman bukan perkataan orang lain, bukan perkataan orang pintar, bukan perkataan manusia tetapi semata-mata perintah Tuhan, semata-mata firman Tuhan.

Hal ini perlu kita ingat karena sering terjadi, pada waktu mengatakan kita mengambil langkah iman, sebenarnya itu bukan langkah iman. Itu adalah sebuah langkah menuruti keinginan hati, akal, pikiran, atau keinginan orang lain. Sekali lagi, langkah iman harus berhubungan dengan firman Tuhan. Dalam Rom. 10:17, Paulus mengatakan: ”Iman timbul dari pendengaran dan pendengaran dari firman Kristus”. Artinya, langkah iman ini tadi harus ada firman Kristus-nya. Langkah iman harus ada firman Tuhan-nya.

Apabila kita berkata: ”Saya imani tahun depan saya punya mobil baru”, sebenarnya itu bukan iman, tetapi keinginan, keinginan untuk punya mobil baru tahun yang akan datang. Kalau langkah iman, sekali lagi, mesti ada kaitannya deangan firman Tuhan. Misalnya Maz. 112 mengatakan:  ”Orang yang takut akan Tuhan, anak-cucunya perkasa di muka bumi”, dan kalau kita laksanakan itu berarti kita mengambil langkah iman. Contoh lainnya, Mal. 3:10, berkata: ”Apabila kita membawa persembahan persepuluhan ke rumah perbendaharaan maka Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita sampai berkelimpahan”. Apabila kita melakukannya, kita sudah mengambil langkah iman.

Ada banyak janji-janji firman Tuhan di dalam PL dan PB. Apabila kita hidup melangkah dengan janji-janji itu, kita sudah melangkah dengan iman.

Dalam Rom. 1:17 dikatakan, ”orang benar akan hidup oleh iman”. Kehidupan orang benar adalah kehidupan iman. Sejarah hidup hidup orang benar adalah sejarah hidup tentang kesaksian iman. Sejarah kehidupan Abraham, adalah kumpulan kesaksian-kesaksian iman.

Sesudah mendengar kesaksian tokoh-tokoh Alkitab, kita mungkin berkata dalam hati: ”Aku akan melangkah dalam iman”.  Dengan kekuatan kita, kita tidak akan mampu mengambil langkah iman. Yang membuat kesaksian tokoh-tokoh Alkitab terpateri dalam hati kita, yaitu  jamahan dan pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus dianugerahkan pada waktu kita bertobat di dalam nama Yesus.  Kita akan memiliki  iman apabila kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, Juru selamat dan Raja kita. Ia akan mengingatkan kita akan dosa-dosa kita. Ketika Roh-Nya yang kudus diam di dalam hati kita, maka kita akan berani berdiri tegak dan berkata : ”Aku adalah umat pemenang!”. 

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI