Mat. 18:21-35

 Pengampunan berhubungan akar pahit, luka jiwa. Kita semua pernah mengalami peristiwa, kejadian yang menimbulkan luka dalam batin kita, menumbuhkan perasaan dendam, perasaan ditipu, direndahkan, dilecehkan, dihina sehingga peristiwa itu tidak bisa kita lupakan. Sewaktu-waktu muncul seperti bayangan di televisi dan ketika kita mengingatnya, kembali kita rasakan luka dalam batin kita. Akar pahit itu bisa terjadi pada waktu kita masih kecil, masih anak-anak, belum sekolah, pada masa muda atau pada masa sesudah kita berkeluarga, sesudah kita berkerja. Obat akar pahit, luka jiwa sangat sederhana yaitu mengampuni. Gampang mengatakannya, tetapi sangat sulit melakukannya.

 Mengampuni adalah suatu perintah yang harus dilaksanakan oleh semua pengikut Kristus. Dalam doa “Bapa Kami”, Yesus mengajar kita memohon kepada Bapa di Sorga, “Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.  Setiap kali kita mengucapkan ayat ini, coba ingat-ingat apakah kita masih ada menyimpan akar pahit, rasa benci, dendam, amarah kepada orang lain. Sering kita melihat  “Doa Bapa Kami” itu adalah sebuah doa rutin dimana yang berbicara adalah mulut kita, bibir kita tetapi hati kita tidak lagi berbicara. Dalam keadaan seperti ini “Doa Bapa Kami” seolah seperti sebuah mantera yang punya kuasa padahal tidaklah seperti itu. Sebaiknya tidak terlalu sering kita mengucapkan  “Doa Bapa Kami”, maksudnya, supaya jangan menjadi rutinitas, doa itu diperlakukan sebagai mantera.

 Yesus Kristus adalah Allah yang mengampuni. Pada waktu penyaliban Ia berkata: “Ampunilah mereka karena mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat”. Ia mengampuni orang-orang yang menganiaya, yang menghina, yang melecehkan, yang menyakiti-Nya. Pengampunan Tuhan sungguh luar biasa. Manusia-manusia yang diciptakan-Nya, diberkati-Nya, justru memberontak kepada-Nya, tidak patuh kepada-Nya, menghina-Nya bahkan berzinah dengan menyembah ilah-ilah lain. Itulah cerita perjalanan umat Israel, umat pilihan Tuhan yang kita baca dalam kitab Perjanjian Lama. Tetapi Tuhan begitu mengasihi manusia, sehingga Ia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus untuk menjadi korban tebusan dosa manusia.

Apa sebenarnya yang mendorong Tuhan untuk mengampuni manusia-manusia yang berdosa? Kasih! Di dalam kasih ada pengampunan. Apabila dalam hati kita tidak ada ruang pengampunan, kasih tidak ada di dalam hati kita, tetapi sebaliknya apabila kita memiliki kasih kita bisa mengampuni.

Pembacaan firman Tuhan  dari Mat. 18:21-35, diawali dengan pertanyaan Petrus, sampai berapa kali kita harus mengampuni saudara yang bersalah kepada kita? Anggapan Petrus 7 kali mengampuni itu sudah cukup, tetapi Yesus mengatakan, jumlahnya tujuh puluh kali tujuh kali, dengan kata lain kita harus selalu mengampuni.

Untuk mengetahui apa isi hati Tuhan dalam pengampunan, Yesus memberikan sebuah perumpamaan tentang seorang yang berhutang kepada seorang raja, jumlah utangnya itu adalah 10 ribu talenta. Berapakah nilai 10 ribu talenta?  Dalam kamus yang terdapat di bagian belakang Alkitab Bahasa Indonesia, disebutkan 1 talenta dalam zaman Perjanjian Baru senilai “6000 Dinar”, 1 Dinar adalah upah seorang pekerja sehari, katakanlah upah pekerja harian itu Rp. 30.000-hari. Jadi 1 Dinar sama dengan Rp. 30.000, berarti hamba itu berhutang 10.000 talenta X 6000 Dinar X Rp 30.000. total-total nya adalah Rp. 1,8 triliun uang kita sekarang ini. Suatu jumlah sangat besar yang tidak mungkin dibayar oleh hamba itu. Sang Raja berbelas kasihan dan menghapuskan hutang hambanya itu yang memang tidak mungkin dilunasinya. Bagaimana perasaan hamba itu mendengar hutangnya dihapuskan? Tidak dapat kita bayangkan, tidak dapat diutarakan dengan kata-kata.

Hamba keluar dari penjara dan bertemu dengan seorang temannya yang berhutang kepadanya 100 Dinar. Berapakah nilai 100 Dinar? Kalau 1 Dinar adalah Rp. 30.000, berarti 100 Dinar adalah Rp. 3 juta. Apa yang dilakukan hamba itu kepada kepada temannya?  Tertulis dalam ayat 28:  “Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!. Kawannya itu memohon pengampunan, tetapi apa yang dilakukannya, ia menjebloskan temannya ini tadi ke dalam penjara, ketika raja mendengar peristiwa itu , ia menyerahkan hamba yang sudah diampuninya tadi kepada algojo-algojo”.

Dalam ayat 35 dikatakan: “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu”. Inilah suara hati Tuhan dalam mengampuni. Kita punya hutang Rp. 1,8 triliun kepada Tuhan dan diampuni, tetapi ketika orang lain berhutang kepada kita Rp. 3 juta kita tidak mau mengampuni.

Betapapun sakitnya hati kita, jiwa kita, oleh karena perbuatan orang lain, perlakuan yang jahat kita terima dari orang lain, tidak bisa dibandingkan dengan pengampunan yang telah kita terima di dalam Yesus Kristus. Apabila kita memahami betapa mahalnya darah Yesus yang tercurah di kayu salib, untuk keselamatan kita, kita juga akan memahami apabila kita tidak mengampuni sesama saudara,Tuhan juga tidak mengampuni kita. Kalau kita tidak mengampuni sesama, Tuhan juga tidak mau mendengarkan doa kita.

Apabila kita masih punya akar pahit, luka jiwa, Roh Kudus memampukan kita untuk mengampuni.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI