Pertobatan adalah berita Injil yang tidak bisa dilepaskan dari hidup kekristenan kita. Kecenderungan pengajaran yang menekankan diselamatkan oleh iman kepada Yesus Kristus atau diselamatkan oleh karena anugerah Allah, tanpa menekankan pentingnya pertobatan dapat menghasilkan suatu keselamatan yang semu.

Tema pertobatan tidak menarik lagi untuk disampaikan karena sering membuat jemaat atau pendengarnya tersinggung. Mimbar-mimbar Kristen sekarang sudah amat jarang menyampaikannya. Hal ini sesuai dengan nubuatan akhir zaman dalam 2 Tim. 4:3, demikian, ” Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya”.

Banyak mimbar-mimbar Kristen dewasa ini, memberitakan hal-hal yang enak didengar telinga, bahwa orang Kristen orang yang diberkati, jadi kepala dan bukan ekor, menjadi orang kaya dan bukan orang miskin, menjadi orang sukses dan bukan orang gagal dan lain-lain sebagainya.

Khotbah pertobatan semakin jarang didengar karena tidak menyenangkan telinga, tetapi bisa jadi menegur keras hidup seseorang. Resiko pengkhotbah pertobatan, mulai dari tidak populer, kehilangan amplop bahkan kehilangan nyawanya. Pengkhotbah besar pertobatan, Nabi Yohanes, kehilangan kepalanya karena ia menelanjangi dosa-dosa Raja Herodes dan isterinya.

Ada seorang pendeta muda Jerman yang dihukum mati karena dianggap memberontak kepada Hitler di Jerman semasa Perang Dunia II, namanya, Dietrich Bonhoeffer. Dalam bukunya yang berjudul ”Cost of Discipleship” (Harga Menjadi Murid), mengatakan bahwa anugerah yang murah adalah seruan tentang pengampunan tanpa pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, perjamuan kudus tanpa iman, dan pengampunan tanpa pengakuan bersalah. Anugerah murahan adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah murahan adalah anugerah tanpa salib, anugerah murahan adalah anugerah tanpa Yesus Kristus dan kelahiran kembali. Sebaliknya, anugerah yang mahal adalah harta yang tersembunyi di padang, sehingga orang rela menjual semua miliknya untuk memilikinya. Ia seperti mutiara yang sedemikian berharga sehingga orang akan menjual semua miliknya untuk memperolehnya. Demi masuk Kerajaan Allah itu, seorang rela mencopot sebelah matanya yang membuatnya tersandung. Anugerah yang mahal itu adalah panggilan dari Yesus Kristus yang menyebabkan seorang rela meninggalkan jalannya yang berdosa dan mengikuti Dia.

Seruan pertobatan, adalah sebuah seruan untuk hidup kudus. Manusia pertama, Adam dan Hawa, jatuh ke dalam dosa oleh karena, diantara tanda kutip,  ”hanya” karena makan satu buah larangan, tetapi melanggar perintah Tuhan adalah dosa. Persyaratan masuk sorga tidak berubah karena Allah tidak berubah. Ada orang beranggapan, apabila kita sudah terima Yesus kita tetap masuk sorga walau berdosa. Tidak, orang berdosa tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, dulu, sekarang dan masa yang akan datang.

Berita Injil, seruan pertobatan yang dikumandangkan oleh Yesus: ”Bertobatlah, karena Kerajaaan Sorga sudah dekat”. Bertobat, sama artinya dengan tidak berbuat dosa lagi, hidup kudus, pikul salib, dilahirkan kembali, menjadi ciptaan baru. Hidup kekristenan kita yang setengah-setengah dan tidak serius, menyebabkan kita tidak dapat menikmati keindahan hidup bersama raja kita, yaitu Yesus Kristus.

Harus  diakui, pertobatan atau hidup kudus adalah suatu hal yang amat sulit. Itu sebabnya, malaikat-malaikat di sorga akan bersukacita walau hanya seorang yang yang bertobat. Yesus berkata dalam Luk. 15:7, ”Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat”. Para malaikat bersukacita pada waktu seorang bertobat. Apabila baptisan hanya sebuah acara liturgis tanpa adanya pertobatan dari orang-orang yang dibaptis, tentu tidak ada sukacita di sorga.

Ada tiga teologi salah kaprah  yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Teologi pertama, ”teologi dosa besar, dosa kecil”. Menurut teologi ini, mencuri seekor ayam, dosa kecil,  masuk sorga, sedang merampok uang bank ratusan milyar, dosa besar, masuk neraka. Hal ini tidak benar, karena Tuhan melihat hati, bukan jumlah. Persembahan janda miskin yang dua peser dipandang oleh Yesus lebih banyak dari persembahan orang kaya.

Teolologi kedua yang salah adalah, ”teologi kita bukan malaikat”. Menurut teologi ini, manusia tidak mungkin hidup kudus, jadi buat dosa sedikit-sedikit tidak apa-apa , apalagi kalau dosa itu untuk kebaikan. Misalnya, ada orang main judi, dengan alasan, kalau menang uangnya akan dipersembahkan untuk dana pembangunan gereja.

Teologi ketiga, adalah ”teologi persentase”. Menurut teologi ini, hidup kudus 100 persen tidak mungkin. Ibarat ujian, nilai 100 tidak dapat dicapai, dapat 80 sudah OK sudah lulus ujian. Kalau kita memakai teologi seperti ini, Adam dan Hawa tidak perlu diusir Tuhan keluar dari taman Eden karena ”hanya”, sekali lagi ”hanya” mengambil satu buah yang dilarang oleh Tuhan. Tetapi dalam kehidupan rohani, tidak ada batas abu-abu dari hidup benar dan hidup berdosa. Kalau orang itu berdosa maka ia bukan orang benar dan sebaliknya orang yang benar bukanlah orang yang berdosa.

Mari kita mempelajari, perkataan-perkataan Yesus tentang pertobatan. Kepada seorang pemimpin agama Yahudi yang bernama Nikodemus, dalam Yoh. 3:3, Yesus mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”. Yesus mengatakan, untuk masuk Kerajaan Allah, tidak cukup sekedar memenuhi Hukum Taurat, tetapi orang harus dilahirkan kembali, bertobat dan menerima Roh Allah dalam hatinya.

Kepada seorang muda yang kaya, Yesus berkata dalam Mat. 19:21, demikian, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku”. Orang kaya ini pulang dengan muka muram, ia tidak bertobat. Tentu bukan sesuatu yang berdosa, tidak salah, apabila seorang Kristen menjadi orang kaya. Tetapi, masalahnya, kekayaan itu jangan menjadi nomer satu dan Tuhan menjadi nomer dua.

Zakheus adalah contoh seorang kaya yang bertobat. Pada waktu Yesus melawatnya, Zakheus menyampaikan kata-kata pertobatannya dalam Luk. 19:8, demikian, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Zakheus bertobat dan tanpa dibaptis terlebih dahulu, Zakheus telah menerima keselamatan itu.

Kepada seorang perempuan yang sedang tertangkap basah sedang berzinah, yang mau dirajam oleh khalayak ramai, Yesus berkata kepadanya dalam Yoh. 8:11 : “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”.

Kepada seorang yang menderita sakit selama 38 tahun di kolam Bethesda, Yesus berkata dalam Yoh 5:14, “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”

Ketika para murid berdebat tentang siapa dari mereka yang terbesar, Yesus memanggil seorang anak kecil dan berkata dalam Mat. 18:3-5, ”Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Bertobat adalah pengendalian hati, pikiran dan perbuatan dari hawa nafsu kedagingan. Yesus berkata dalam Luk. 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”.

Pada waktu kita hendak marah, kita perlu menahan hati untuk tidak marah dan malah kita memberkati. Apabila kita melakukan hal ini, kita telah menyangkal diri. Kalau kita diminta berjalan satu kilo meter namun kita berjalan dua kilo meter, kita sudah menyangkal diri. Kalau muka kita ditempeleng namun kita tidak membalas, kita sudah sangkal diri. Kalau kita sering diejek tanpa membalas karena tidak ikut acara-acara duniawi pada waktu jam kebaktian, kita sudah menyangkal diri dan lain sebagainya.

Penyangkalan diri itu adalah suatu penderitaan terhormat yang dialami pengikut Kristus. Pada umumnya, memikul salib itu lebih merupakan penderitaan mental, bukan penderitaan fisik. Tidak banyak pengikut Kristus yang dilayakkan-Nya untuk menerima penderitaan fisik seperti dialami para rasul dan murid-murid pada masa gereja mula-mula. Yesus mengijinkan diri-Nya mengalami penderitaan secara jasmani hanya selama tiga hari menjelang penyaliban. Selain itu, sebuah batu kecilpun tidak ada yang mengenai tubuhnya.

Kita perlu melihat secara pribadi, menyelidiki relung-relung hati kita, apakah kita sudah bertobat. Apakah kita sudah dilahirkan kembali? Apakah harta benda membuat kita menomer duakan Tuhan? Apakah ada dosa seperti kebohongan dan perjinahan di dalam hidup kita. Apakah masih ada ketinggian hati, menganggap diri kita lebih pintar, lebih mampu, lebih benar dari orang lain. Apakah kita masih memiliki dosa tersembunyi, walau hanya kita dan Tuhan yang mengetahuinya.

Apakah mungkin seorang yang sudah bertobat tidak akan berbuat dosa lagi? Jawabannya, bisa! Bukan oleh karena kita kuat, kita diselamatkan, tetapi karena Tuhan yang menguatkan kita, karena Roh Kudus atau Roh Allah atau Roh Yesus tinggal dalam hati kita. Pada waktu kita berbuat dosa, Roh Kudus mengingatkan kita setiap kali kita jalan melenceng, ketika kita memohon ampun, kita akan mendapat pengampunan berdasarkan  1Yoh. 1:9, ”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

Seruan pertobatan yang disampaikan Yesus Kristus tidaklah menuntut kita terlebih dahulu membuktikan pertobatan lewat perbuatan-perbuatan nyata, seolah Allah berkata: ”Buktikan pertobatanmu dalam perbuatan sehingga engkau menerima karunia Roh Kudus”. Allah tidak meminta hal seperti ini, karena Ia tahu, kita tidak bisa melakukan pekerjaan yang kudus hanya dengan kekuatan kita sendiri. Sebaliknya, Ia menyatakan bahwa Ia bersedia tinggal di dalam hati kita dan memampukan kita untuk hidup kudus. Anugerah Roh Kudus kita terima bukan setelah kita melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, tetapi ketika kita menyadari, mengakui dan menyesali dosa kita sungguh-sungguh, jalan kita yang tersesat selama ini.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI