1Yoh. 4:15-21

 Dalam 1Kor. 13:13, tertulis: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”.  Iman adalah ibarat sebuah pipa penghubung antara dunia rohani dengan dunia jasmani, kalau kita tidak punya Iman maka kekayaan dalam dunia rohani tidak bisa di transformasikan ke dalam dunia jasmani. Pengharapan adalah “saudara kembar” dari iman, kalau orang memiliki Iman ia punya pengharapan, sebalinya tidak punya Iman tidak punya pengharapan. Iman dan pengharapan adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Tentang kasih, tertulis bahwa kasih adalah yang terbesar. Alasannya diberikan dalam 1Kor. 13:8, demikian: “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap”. Pada waktu kita sudah berada di dalam kerajaan kekal bersama dengan Yesus Kristus, tinggal di rumah Bapa, tidak ada lagi nubuat, bahasa Roh dan Iman karena kita sudah bersama dengan Tuhan setiap hari.

Pengetahuan yang paling canggih sekalipun di dunia ini kelak di surga akan kita lihat sebagai sesuatu yang sangat usang, tidak ada artinya dibandingkan dengan kemampuan, pemahaman dan pengetahuan yang kita miliki dalam kerajaan sorga. Tetapi, kasih tidak berkesudahan. Kasih ada dalam dunia kita sekarang ini dan juga ada di dalam sorga. Kasih tetap selama-lamanya, oleh karena Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8).  Kita tidak akan pernah bisa mengukur panjang, lebar, dan tingginya kasih Allah itu.

Kasih menggerakkan peristiwa-peristiwa rohani. Peristiwa rohani yang paling penting bagi manusia ialah keselamatan. Kasih lah yang menjadi penggeraknya sehingga Tuhan datang sendiri menemui manusia di dalam Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal. Ia rela menanggung penghinaan yang begitu besar, penderitaan yang begitu berat, dilahirkan dikandang domba, dihujat, dicaci, bahkan matinya seperti seorang penjahat disalibkan di Golgota. Ia menjadi korban tebusan bagi dosa-dosa kita, Tuhan mengampuni manusia di dalam Yesus Kristus. Setiap orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan, darah Tuhan sendiri yang mengucur disalib sudah membasuh dosa-dosa manusia. Yang menggerakkan itu semua adalah kasih. Dalam Yohanes 3 : 16 tertulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Kasih Allah akan dunia mengerakkan hati Tuhan untuk mengampuni manusia-manusia yang berdosa. Dalam PL dan PB kita menyaksikan bagaimana peristiwa-peristiwa rohani digerakkan oleh kasih.

Pada suatu waktu Yesus berbicara kepada ribuan orang yang mendengarkan khotbahnya dengan sungguh-sungguh, hari mulai malam dan mereka tentu saja merasa lapar yang ada disana hanya 5 roti dan 2 ikan punya seorang anak kecil. Oleh karena hati Yesus tergerak oleh belas kasihan, maka Ia memberkati 5 roti dan 2 ikan bisa mengenyangkan ribuan orang yang ada disana, makanan yang diberikan itu tersisa sebanyak 12 bakul, artinya pada waktu Yesus memberi makanan Ia memberi berlimpah-limpah.

Pada suatu waktu Yesus berada di jalan raya Yerikho seorang pengemis buta namanya Bartimeus berseru-seru memanggil nama Yesus: “Yesus Anak Daud kasihanilah aku”. Orang-orang di sekitarnya menegur Bartimeus supaya diam, tetapi sebaliknya dari diam ia malah berteriak lebih keras lagi: “Anak Daud kasihanilah aku!”. Seruan Bartimeus didengar oleh Yesus. Yesus berhenti dan memulihkan penglihatan Bartimeus. Ia memulihkan penglihatan Bartimeus karena hatinya tergerak oleh belas kasihan, karena hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, Ia membangkitkan anak Zeurus yang sudah mati, Zeurus adalah kepala sebuah rumah ibadah.

Pada waktu Ia berbelas kasihan, yang kusta menjadi tahir, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, yang buta melihat, yang mati dibangkitkan. Kasih menggerakkan hati Tuhan melakukan peristiwa-peristiwa rohani, peristiwa-peristiwa yang sangat penting bagi umat manusia. Di Perjanjian Lama dalam II Raja-Raja dalam pasal 20 tertulis tentang raja Hizkia yang sedang sakit keras, Tuhan mengutus Nabi Yesaya untuk mengatakan bahwa Hizkia akan mati, dipersilahkan menyampaikan pesan-pesan terakhir kepada kaum keluarga. Sesudah Yesaya meninggalkan kamar Hizkia membalikkan mukanya ke arah dinding dan ia menangis dan berdoa memohon agar penyakitnya bisa disembuhkan belum lagi Yesaya meninggalkan istana. Tuhan memerintahkan Yesaya kembali ke kamar Hizkia dan mengatakan: “Bahwa Tuhan sudah mendengarkan doa Hizkia, bahwa Tuhan sudah melihat air mata Hizkia”.Tuhan berkata: “Umur Hizkia diperpanjang 25 tahun lagi”. Sungguh sesuatu yang luar bisa, manakala hatinya tergerak oleh belas kasihan Tuhan bisa membatalkan keputusan-Nya sendiri, manakala kasih mengerakkan hati Tuhan segala sesuatu bisa terjadi.

Kasih adalah ibarat energi, energi dalam kehidupan jasmani, kehidupan kita sehari-hari, bahan bakar minyak, gas, batubara, sinar Matahari, tenaga angin, dan lain-lain. Segala sesuatu yang bergerak alat angkutan, mesin pendingin, listrik memerlukan energi. Bahan bakar itu mengerakkan peristiwa-peristiwa secara jasmani supaya mobil kita bisa jalan, kita perlu bensin, dimana kita membeli bensin? Di galon minyak atau SPBU, apa bahan bakarnya dalam peristiwa-peristiwa rohani?, kasih adalah bahan bakar yang menggerakkan peristiwa-peristiwa rohani, sekarang dimana kita bisa mendapat energi rohani yang disebut kasih.

Dalam 1Yoh. 4:7, tertulis: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah”.  Kita garis bawahi disini perkataan “sebab kasih itu berasal dari Allah”. Jadi sumber dari energi, sumber dari kasih itu adalah Allah sendiri.  Uang, berapa besar sekalipun tidak bisa membeli kasih itu, tetapi kasih diberikan secara cuma-cuma pada waktu kita mengakui Yesus sebagai Tuhan Juruselamat dan Raja kita, pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

Kita sampai pada suatu kesimpulan, kasih adalah energi yang menggerakkan peristiwa-peristiwa rohani, peristiwa-peristiwa rohani memberikan dampak bagi kehidupan jasmani ada hubungan yang sangat erat antara kehidupan rohani dan kehidupan jasmani.

Kasih Allah disebut juga sebagai kasih Agape. Disamping itu, kita mengenal pula dua jenis kasih yang lain, kasih eros dan kasih filia.

Kasih eros adalah kasih dalam tingkat yang paling rendah. Kasih ini didasarkan pada nafsu dan keinginan daging. Kalau pria dan wanita saling mengasihi oleh karena faktor-faktor ”paras wajahmu”, ”pandangan matamu”, ”tutur katamu”, ”merdu suaramu”, ’lengang-lenggok jalanmu”, kasih seperti ini adalah kasih eros, kasih yang dibentuk oleh hal-hal bersifat kedagingan. Apabila faktor-faktor itu tidak ada lagi maka hilanglah kasih itu. Kalau wajah partner kita tidak lagi menarik maka hilanglah cinta. Kalau penampilan tidak lagi menarik, hilanglah cinta. Soal penampilan, siapakah yang bisa mempertahankan penampilan prima sepanjang umurnya? Saya pernah mengenal seorang pria yang gagah dan tampan pada masa mudanya, tetapi memasuki usia 40-an, keadaannya jauh berbeda. Kegagahannya dan ketampanannya seolah hilang. Kalau faktor kedagingan yang menjadi pegangan, tidak lama umur dari kasih itu.

Yang kedua, kasih filia, kasih dua arah, kasih timbal-balik. ”Kalau orang baik pada saya, sebaliknya saya baik kepadanya”. ”Kalau orang mengunjungi saya pada waktu saya sakit, saya akan kunjungi kalau dia sakit”. ”Kalau dia datang ke pesta saya, saya akan datang ke pestanya”. Kasih filia adalah kasih balas-membalas. Kasih filia adalah kasih rasional, karena itu orang berkata tentang bibit, bebet dan bobot. Kasih filia adalah kasih kontrak. Masing-masing pihak berkata: ”Apa yang kudapat kalau aku mengasihinya”. Kasih filia umurnya lebih panjang, tetapi, apabila kondisi kontrak tak terpenuhi, misalnya apabila isteri menganggap suaminya tidak lagi mengasihinya dan sebaliknya, tidak jarang akhirnya mereka pergi ke Kantor Pengadilan mengurus perceraian.

Yang paling tinggi tingkatnya, kasih agape. Kalau tadi kasih filia, kasih dua arah, kasih timbal balik, kasih agape adalah kasih satu arah, tidak mengharapkan imbalan dari orang yang dikasihi. Inilah kasih Allah yang sudah mengorbankan diri-Nya di Kayu Salib untuk menebus dosa-dosa kita. Kasih agape adalah sebuah kasih berdasarkan pengorbanan. Ia tidak menuntut orang yang dikasihinya membalas apa yang diperbuatnya. Allah ada dalam kasih agape, tetapi Allah tidak ada baik dalam kasih filia maupun dalam kasih eros.

Apakah manusia bisa mengasihi dengan kasih agape? Apakah kita bisa mengasihi seperti Allah mengasihi kita? Tidak bisa dengan kekuatan sendiri. Dalam ayat 1Yoh. 4:18, dikatakan di dalam kasih tidak ada ketakutan. Siapakah manusia yang tidak memiliki rasa takut. Dalam keadaan masyarakat yang semakin penuh dengan tekanan-tekanan, siapakah yang dapat mengatasi rasa takut. Kemudian, dalam ayat 23 tertulis: ”Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya”. Siapakah manusia yang dapat mengasih saudaranya, siapakah manusia yang dapat mengampuni saudaranya, sama seperti Allah mengampuni manusia. Tidak ada, Saudara. Mungkin Saudara terkejut mendengar pernyataan saya, bahwa manusia tidak bisa memiliki kasih agape, dengan kekuatannya sendiri. Dengan kekuatan sendiri, kita tidak bisa mengasihi. Kasih agape adalah kasih Allah, hanya Allah yang bisa mengasihi satu arah. Hanya Allah yang bisa mengasihi tanpa mengharapkan balasan.

Tetapi puji Tuhan, haleluya! Manusia tidak sanggup mengasihi, kita semua tidak sanggup mengasihi, tetapi Allah sanggup. Kita yang tidak mampu mengasihi menjadi mampu mengasihi karena Allah  diam di dalam hati kita, di dalam Roh-Nya yang kudus. Yesus Kristus sendiri tinggal diam di dalam hati kita sehingga kita mampu mengasihi. Inilah yang dikatakan di dalam ayat 1Yoh 4:15: ”Barangsiapa mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah”. Apabila kita hidup bersama dengan Yesus dan Yesus tinggal bersama kita, kita mampu mengasihi.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI