Kis. 2:1-4, Roma 8:1-17

Peran dan karya Roh Kudus pada awal gerakan reformasi abad ke 15, belum mendapat perhatian yang sewajarnya. Pentingnya peran Roh Kudus tidak tampak dalam pernyataan 5 sola yang menjadi jargon reformasi, yaitu,  Sola Scriptura (hanya oleh karena firman Tuhan), Sola Fide (hanya oleh karena iman), Sola Gratia (hanya oleh karena anugerah), Solus Christus (hanya oleh Kristus) dan Soli Deo Gloria (hanya untuk kemuliaan Tuhan).

Munculnya gerakan Pentakosta pada awal abad ke 19 yang cepat bertumbuh dan berkembang, mengingatkan umat Kristiani akan pentingnya karya Roh kudus di dalam kehidupan orang percaya. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya, banyak umat Kristiani yang memandang gerakan Pentakosta sebagai satu aliran denominasi, tanpa melihat bahwa Tuhan sedang mengingatkan umat Kristiani tentang pentingnya Roh Kudus dalam keselamatan manusia.

Kita boleh berbeda pandang tentang tanda-tanda orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus,  tetapi perbedaan ini tidak bisa mengurangi pengertian, bahwa pada waktu ini, pada masa kini, kita sungguh memerlukan tuntunan Roh Kudus di dalam kehidupan kita.

Yesus Kristus naik ke sorga empat puluh hari sesudah hari minggu kebangkitan-Nya, dan pencurahan Roh kudus kini terjadi 50 hari sesudah hari kebangkitan Yesus. Ketika para murid sedang berkumpul di ruang atas rumah tempat mereka menumpang di Yerusalem, sesudah pencurahan Roh kudus bagi murid-murid pada hari Pentakosta, terjadilah tanda-tanda heran dan mujizat berbahasa asing. Yang sakit disembuhkan, yang terikat dilepaskan, yang berbeban berat mendapat kelegaan, ada kesehatian dan kebersamaan yang kuat.

Kita merindukan kuasa Roh Kudus Pentakosta bisa nyata di dalam kehidupan ibadah dan pelayanan kita. Peristiwa Pentakosta adalah sebuah peristiwa yang sudah dinubuatkan oleh Yohanes pembaptis, dalam Injil Markus pasal 1: 7–8 , “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Yohanes adalah seorang hamba Tuhan yang mendahului pelayanan Yesus. Ia membaptis dengan air dan  mengatakan bahwa “Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus bukan dengan air ”. Selanjutnya dalam kitab Injil Yohanes 1:32 dan 33 tertulis, “Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus”.

Kembali nubuatan yang sama disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus. Tetapi, apabila kita simak pelayanan Yesus selama melayani di bumi ini, tidak pernah ada tercatat sekalipun Yesus membaptis dan tidak pernah tercatat sekalipun Yesus melaksanakan pelayanan baptisan Roh Kudus. Kapankah nubuatan Yohanes tentang baptisan Roh Kudus oleh Yesus, terjadi? Pada hari Pentakosta!

Siapakah Roh Kudus itu sebenarnya? Roh Kudus, Roh Allah sudah banyak dicatat baik di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru. Roh Kudus, Roh Allah diperkenalkan di dalam Kej. 1:2, tertulis, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”. Pada masa PL hanya orang-orang tertentu yang mendapat pengurapan Roh Kudus, tetapi, di dalam Perjanjian Baru ini Roh Kudus berdiam di dalam  semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang mendengarkan seruan pertobatan-Nya.

Pentingnya kehadiran Roh Kudus,  tampak dari perkataan Yesus dalam Yoh. 16:7 demikian.

“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadaMu”. Jelas, peristiwa kenaikan Yesus ke sorga berhubungan dengan karya Roh kudus, yang dinyatakan pada hari Pentakosta. Kalau Yesus tidak naik ke sorga, maka tidak ada pencurahan Roh Kudus, dan kalau tidak ada kebangkitan maka Yesus tidak akan naik ke Sorga. Yesus tidak akan bangkit, kalau Ia tidak disalib di Golgota, Ia tidak disalib di Golgota, apabila Ia tidak dilahirkan di kandang Bethlehem.  Ada tali temali, ada kaitan yang erat dalam peristiwa-peristiwa penting pelayanan Yesus yang merupakan intisari kenapa Yesus datang ke dunia ini. Ia lahir, Ia disalib, Ia mati dan dikuburkan, Ia bangkit, Ia naik ke sorga dan kemudian Ia mencurahkan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Pentingnya Roh kudus di dalam kehidupan seseorang, tertulis dalam Rom. 8 : 9b, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus ia bukan milik Kristus”, berarti orang yang tidak hidup bersama Roh Kudus akan masuk neraka, karena ia bukan milik Kristus. Jika Roh Kudus tidak ada di dalam hati seseorang, orang itu akan masuk neraka. KTP sebagai orang Kristen bukan satu jaminan kita masuk ke dalam sorga.

Perubahan hidup adalah buah nyata kehadiran Roh Kudus di dalam hati seorang. Seorang Kristen bisa dibaptis dengan cara berbeda, baptis percik atau baptis selam, tetapi apabila kelakuannya tidak berubah, tidak ada arti baptisan itu.  Seorang bisa memiliki karunia berbahasa Roh atau tidak memilikinya, tetapi ia harus menunjukkan bahwa hidupnya sudah di lahir barukan, sifat dan karakternya betul-betul berbeda dengan kehidupan lamanya.

Tanpa Roh Kudus kita adalah manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu kedagingan. Dalam Rom. 8:9b tertulis, “Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Tanpa kehadiran Roh Allah, tanpa kehadiran Roh Kristus di dalam dirinya, seorang bukan milik Kristus. Kalau seorang bukan milik Kristus maka ia milik di iblis. Tidak ada kondisi yang netral dalam kehidupan kerohanian kita, bila seorang tidak bersama dengan Tuhan berarti ia bersama dengan si iblis, apabila seorang bukan milik Tuhan ia adalah milik iblis.

Tanpa Roh Kudus tidak ada keselamatan.  Untuk itulah Tuhan lahir sebagai manusia di dalam Yesus Kristus, disalibkan, dikuburkan, bangkit dari kematian, naik ke Sorga dan akhirnya pada hari Pentakosta mengurapi murid-murid-Nya dengan Roh Kudus. Yesus mengatakan Ia menemani murid-murid-Nya sampai akhir zaman. Ia menemani murid-muridnya di dalam Roh-Nya yang Kudus.

Dalam zaman akhir seperti dikatakan oleh Yesus dalam Matius 7:22-23, banyak orang yang merasa telah berjalan bersama Yesus, melayani Yesus, bernubuat demi nama Yesus, mengusir setan demi nama Yesus, mengadakan mujizat-mujizat di dalam nama Yesus, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”. Orang-orang ini tadi pastilah terperanjak, berbeda sekali dengan pemahaman, pengertiannya dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan keseharian di dalam pelayanannya, mereka ini ditolak oleh Yesus padahal mereka merasakan sudah melayani Yesus selama hidup di dunia. Sebabnya sederhana saudara, orang-orang itu tadi tidak punya Roh Kudus di dalam hatinya.

Ayat-ayat yang keras ini memotivasi kita semua untuk mempertanyakan kembali apakah benar-benar Roh Kudus sudah tinggal di dalam diri kita. Tanda-tanda kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita, tampak dari buah-buah Roh seperti ditulis oleh Paulus dalam Galatia 5:22-23, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Ritual atau liturgi gereja, peraturan-peraturan gereja tidak merupakan suatu kepastian seorang bisa diurapi oleh Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus adalah peristiwa pribadi pada waktu orang itu disadarkan oleh Roh Kudus tentang dosa-dosanya, jalan tersesat selama ini, maka seperti dikatakan Raul Paulus dalam Kisah Para Rasul 2:38: “Orang yang bertobat di dalam Yesus Kristus mendapat anugerah Roh Kudus”. Jadi disini ada kata kunci pertobatan, Yesus berkata dalam Markus 1:15b: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Tanpa pertobatan tidak ada pengampunan dan tanpa pengampunan tidak ada keselamatan.

Kehadiran Roh kudus di dalam hidup kita, adalah sebuah meterai bahwa kita warga Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu sudah ada sekarang dan di sini, dimana Yesus adalah Raja, dan kita adalah warga kerajaan Allah.  Roh Kudus berkarya di dalam kehidupan kita, memberikan semangat pada waktu kita lemah, menasihati kita apabila kita jalan melenceng, menegor apabila kita melakukan kesalahan-kesalahan sehingga pada saat itu juga kita bisa memohon ampun. Roh Kudus menghibur kita di kala duka, memampukan kita memahami firman Tuhan, memberikan kita keberanian menghadapi kehidupan ini, memampukan kita mengampuni saudara yang bersalah kepada kita, memberikan kita kemampuan untuk mengendalikan diri dan lain-lain.

Dalam Rom 8:14, tertulis: “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”. Jadi anak Allah adalah orang yang sudah didiami oleh Roh Kudus. Yesus didiami Roh Kudus disebut Anak Allah, huruf “A” pada Anak adalah huruf besar sebab Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia, sedangkan kita disebut anak Allah (“A” dalam anak ditulis dengan huruf kecil). Kita bersama dengan Tuhan menjadi satu keluarga besar, kita boleh memanggil Tuhan sebagai Bapa. Dalam Roma 8:15b tertulis; “Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”. Dalam ayat 16 tertulis: “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”.

Anak Allah adalah sebuah status yang sudah kita miliki sekarang ini disini pada waktu ini pada waktu Roh Kudus tinggal di dalam diri kita. Anak Allah berarti Tuhan diam bersama dengan kita. Kalau ada Tuhan di suatu tempat pastilah ada malaikat-malaikat berpasukan mengiring Dia. Apabila seorang anak Tuhan ada di suatu tempat, maka ada juga pasukan malaikat yang mengelilingi dia, berarti seorang anak Tuhan itu memiliki proteksi supranatural. Sebagai anak Allah kita berhak menerima warisan Allah, janji-janji Allah. Alkitab terdiri dari ribuan janji-janji Allah kepada manusia, Alkitab adalah perjanjian Allah dengan manusia, Alkitab disebut juga sebagai Perjanjian, disebut juga dalam bahasa Inggris sebagai “Testament”, ada Perjanjian Baru (New Tastement) dan ada Perjanjian Lama (Old Testament). Arti lain dari testament adalah “warisan”, jadi status kita sebagai anak Allah menyebabkan kita punya kedudukan sebagai ahli waris yang berhak menerima janji-janji Allah.

Alkitab terdiri dari ribuan janji-janji, Alkitab memiliki dimensi super sempurna mencakup semua kehidupan kita baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang dalam Kerajaan kekal. Janji-janji Firman Tuhan tidak berlaku bagi sembarang orang, apabila kita fotocopy lembaran-lembaran Alkitab dan kita bagikan kepada orang-orang di pasar, maka janji-janji yang ada disana tidak serta merta berlaku bagi orang-orang itu. Janji-janji Firman Tuhan itu hanya berlaku bagi ahli-ahli waris, orang-orang yang berhak menerima janji-janji itu, kalau dalam Mazmur 112 tertulis “Orang yang takut akan Tuhan, anak cucunya perkasa di muka Bumi”, maka hal ini berlaku bagi anak-anak Allah, kita imani itu sebagai sebuah keniscayaan.

Apabila Matius 6:33 berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Kita bisa imani ini adalah suatu keniscayaan. Firman Tuhan dalam Alkitab begitu kaya, lebih dari kita mampu memahami, memiliki dimensi lebih dari yang kita mengerti, mencakup semua aspek kehidupan ini. Bagaimanapun kondisi kita, apapun yang sedang kita alami, dimanapun kita sedang berada, ada janji-janji Allah yang berlaku bagi kita, yang menguatkan kita, memberikan inspirasi, memberikan pengharapan akan masa depan. Semua ini menjadi milik kita pada waktu kita didiami oleh Roh Kudus.

Kehidupan anak Tuhan adalah kehidupan yang kaya akan berkat. Barangkali Tuhan tidak memberikan kepada kita harta yang berlimpah secara materi tetapi yang pasti yang ia berikan kehidupan sukacita, damai dan sejahtera. Kehidupan kita bukan hanya aspek materi jasmani, tetapi ada aspek kesehatan, aspek kedamaian di dalam rumah tangga. Di dalam Tuhan, aspek-aspek kedagingan, aspek-aspek yang bersifat harta benda, materi sudah menjadi nomor 2 bahkan nomor 3 dalam kehidupan kita. Satu hal yang pasti bagaimanapun keadaan kita, ada cukup makanan, minuman, pakaian, pemondokan, kesehatan. Kita dicukupkan Tuhan apapun kebutuhan kita untuk menjalani kehidupan ini.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI