Setiap orang, apapun suku, bangsa dan bahasanya, pasti sudah pernah mendapatkan nasihat-nasihat yang baik. Apakah dari orang tua, dari guru, dari pemuka agama dan sebagainya. Tetapi, kenyataannya, dunia bukan semakin baik. Artinya, nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran itu tidak membuat manusia lebih baik. Bukan hanya nasihat manusia, ajaran dari Tuhan pun tidak didengarkan manusia. Kita dapat merenungkan hal ini dalam sejarah umat manusia seperti ditulis dalam Alkitab.

Allah menciptakan manusia untuk menjadi mitra-Nya mengelola dunia ini. Allah ingin manusia menikmati berkat-berkat yang disediakan Tuhan, hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera. Itu adalah tujuan penciptaan yang kita bisa baca dalam pasal pertama kitab Kejadian. Nenek moyang kita yang pertama, Adam dan Hawa menikmati hidup berkelimpahan di Taman Eden. Tetapi ketika Iblis berhasil menggoda Hawa untuk memakan buah larangan itu, maka manusia itu jatuh ke dalam dosa. Sejak saat itu kehidupan manusia menjadi berbeda sama sekali. Dosa memasuki kehidupan manusia.

Manusia berkembang, bertambah jumlahnya, tetapi dosa semakin merasuki kehidupan manusia. Pada suatu waktu, Allah memusnahkan umat manusia dengan air bah, kecuali empat pasang keluarga Nuh dengan anak-menantunya. Ibarat menulis di atas kertas yang sudah kotor,  yang sudah banyak coreng-morengnya, Allah memutuskan untuk menulis kembali di sebuah kertas putih bersih yang baru.

Tetapi sejak bencana air bah itu, Allah berjanji tidak akanmenghukum manusia dengan cara yang sama. Allah mengirim utusan-utusan-Nya para Nabi untuk menyampaikan nasihat-nasihat dan ajaran yang baik. Apabila manusia menurut nasihat dan ajaran  yang disampaikan oleh Allah maka manusia itu akan hidup dalam sukacita, damai dan sejahtera.

Dalam perjalanan dari tanah perbudakan di tanah Mesir ke Tanah Perjanjian, di Gunung Sinai, Allah memberikan kepada Musa dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah yang merupakan rambu-rambu agar umat pilihan Allah mengetahui apa yang baik, apa yang salah, apa yang benar dan apa yang berdosa.

Dalam perjalanan umat Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian selama 40 tahun, banyak mujizat terjadi dalam perjalanan itu. Umat Israel melihat kemuliaan Alllah dalam berbagai peristiwa. Allah memberi manna dan burung puyuh sebagai makanan mereka. Allah menyediakan tiang awan untuk memelihara mereka dari terik matahari. Allah menyediakan tiang api agar mereka tidak kedinginan di malam hari. Tetapi Umat Israel  tetap bersungut-sungut mendukakan hati Allah. Kebaikan Allah tidak diresponi dengan baik oleh Umat Israel  Namun demikian,  Allah terus berkarya menyampaikan firman Tuhan dengan perantaraan para nabi. Umat Israel yang disebut Allah sebagai bangsa yang tegar tengkuk tidak menuruti nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Allah.

Nasihat dan ajaran betapa  baiknya pun, bahkan yang disampaikan oleh Allah sendiri, tidak dituruti oleh manusia. Inilah penyebab dari segala kekacauan yang terjadi di dunia sampai sekarang ini. Bukan karena hukum tidak ada, bukan karena firman Allah tidak ada tetapi karena manusia tidak menuruti firman Allah.

Betapa sedih hati Allah terhadap umatNya yang tidak menuruti ajaran dan nasihat-Nya dapat kita lihat dari tangisan Yesus.  Hanya dua kali Alkitab mencatat Yesus menangis. Yang pertama, Yesus menangis bersama dengan Maria dan Marta yang berduka oleh  karena saudara mereka Lazarus sudah meninggal dunia. Dan yang kedua, Yesus menangis ketika Ia menatap Yerusalem dari lereng di sekitar Bukit Zaitun. Pada waktu itu Ia berkata, seperti tertulis dalam Luk 19:41-44, “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau”. Yesus menatap Yerusalem dan menangisi jiwa-jiwa yang sedang hilang menuju neraka padahal Allah dalam Yesus Kristus sedang melawat mereka. Kesimpulannya, firman Allah dalam bentuk hukum, ajaran dan nasihat tetap tidak dituruti oleh umat manusia.

Maleakhi adalah kitab terakhir Perjanjian Lama. Sesudah itu untuk masa yang panjang sekitar 400 tahun, Tuhan berdiam diri, tidak ada lagi nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Apakah Allah berhenti berkarya bagi keselamatan umat manusia. Tidak, Allah tetap berkarya. Ada karya agung yang disiapkan-Nya, yaitu, Ia sendiri datang secara pribadi menemui umat-Nya, menemui manusia. Ia menjadi manusia di dalam Yesus Kristus.

Allah mengetahui bahwa manusia dengan kekuatannya sendiri tidak mungkin diselamatkan. Sekali lagi, manusia tidak bisa diselamatkan dengan kekuatannya sendiri walau diberikan ajaran, nasihat dan hukum. Itu sebabnya Allah sendiri datang menemui manusia yang berdosa itu.

Nabi terakhir yang diutus Allah sebelum kedatangan-Nya sebagai manusia adalah Yohanes Pembaptis. Nabi Yohanes perintis jalan bagi kedatangan Yesus. Apa yang disampaikan oleh Yohanes? Ia menyampaikan seruan pertobatan. Dalam Mrk 1:4 ia berkata. ” Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”.  Suara kenabian yang disampaikan Yohanes  juga disampaikan Yesus dalam Mrk 1:15, ”Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”.

Apakah Tuhan Yesus membawa ajaran baru? Tidak! Semua ajaran yang disampaikan oleh Yesus sebenarnya sudah disampaikan Allah dalam Perjanjian Lama melalui para nabi. Yesus menggenapi apa yang sudah disampaikan-Nya sebagai Allah dalam Perjanjian Lama. Ajaran kasih yang disampaikan Yesus adalah intisari dari semua ajaran yang sudah disampaikan oleh Allah. Yesus memberikan pencerahan tentang firman Allah dalam suatu persepsi baru yang benar dan segar.

Yesus tidak meyampaikan suatu ajaran atau hukum yang baru karena Alllah mengetahui ajaran dan hukum tidak menyelamatkan manusia. Kalau demikian, apa sesungguhnya  arti kedatangan Yesus? Perlu kita simak baik-baik. Ada dua hal yang sangat sangat penting dari kedatangan Yesus. Pertama, Ia menjadi anak domba yang dikorbankan di Kayu Salib untuk menebus dosa manusia, sekali dan untuk selamanya. Yang kedua, Allah tahu bahwa manusia tidak mampu dan tidak mungkin menyelamatkan dirinya  walaupun Allah menyediakan petunjuk-petunjuk berupa ajaran, nasihat dan hukum. Sekarang, kita perlu catat baik-baik,  kita perlu ingat baik-baik, Allah memutuskan bahwa Ia bersedia tinggal di dalam diri manusia itu sendiri. Allah  dalam Roh Kudus diam di dalam manusia. Manusia memang tidak mampu untuk menyelamatkan dirinya, tetapi Allah yang berdiam di dalam diri manusia memampukannya. Dua hal ini yang paling penting dan tidak boleh kita lupakan tentang arti kehadiran Allah sebagai manusia di dunia ini.

Karya Alllah di dalam Roh Kudus adalah dimensi baru dalam sejarah keselamatan. Allah bersedia diam dalam hati manusia.

Dalam Perjanjian Lama hanya orang-orang tertentu yang menerima urapan Roh Kudus seperti para nabi dan raja-raja yang diurapi-Nya. Dalam Perjanjian Baru, Allah membuka kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menerima anugerah Roh Kudus itu. Anugerah itu tersedia bagi setiap orang yang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Nya. Dalam Mrk 1:7-8, Yohanes Pembaptis berkata, ” Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.  Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus”.

Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Tetapi apabila kita mempelajari pelayanan Yesus di dunia ini, Ia tidak pernah membaptis, Ia tidak pernah menyelenggarakan apa yang disebut sebagai baptisan Roh Kudus. Kapan baptisan Roh Kudus terjadi? Kapan Yesus membaptis dengan Roh Kudus?  Sebelum naik ke sorga, Ia berkata dalam Kis. 1:4-5, ”Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — “telah kamu dengar dari pada-Ku.  Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”. Yesus mengatakan, nubutan yang disampaikan Yohanes tentang baptisan Roh Kudus yang dilakukan oelh Yesus akan segera tiba waktunya. Peristiwa itu terjadi pada hari Pentakosta, limapuluh hari sesudah hari minggu kebangkitan Yesus.

Kenaikan Yesus ke Sorga berhubungan dengan karya Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Yesus berkata dalam Yoh 16:7, ”Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.

Jelas, peristiwa kenaikan Yesus ke sorga berhubungan dengan karya Roh Kudus yang dinyatakan pada hari Pentakosta. Kalau Yesus tidak naik ke sorga maka tidak ada pencurahan Roh Kudus, dan kalau tidak ada kebangkitan maka Yesus tidak akan naik ke sorga. Yesus tidak akan bangkit kalau Ia tidak disalib di Golgota. Ia tidak disalib di Golgota apabila Ia tidak dilahirkan di kandang Betlehem. Ada tali temali, kaitan yang sangat erat dalam peristiwa-peristiwa, dalam momen-momen penting dari pelayanan Yesus yang merupakan intisari misi Yesus ke dunia ini. Ia lahir, Ia disalib, Ia mati dan dikuburkan, Ia bangkit, Ia naik ke Sorga dan kemudian Ia mencurahkan Roh Kudus pada hari Pentakosta.

Kesimpulan:

  1. Firman Allah yang berisi hukum, ajaran dan nasihat  tidak membawa keselamatan bagi manusia. Godaan Iblis dan sifat kedagingan mencegah manusia mengikuti  ajaran baik yang sudah disediakan Allah. Saudara, apabila seorang berpendapat bahwa ia bisa menguduskan dirinya dengan menyiksa diri, dengan bertapa, dengan melakukan suatu kehidupan yang sangat berdisiplin ia tidak akan bisa mencapai hidup kudus tersebut karena betapa besarpun upaya manusia, ia tidak akan bisa mengalahkan godaan dari si iblis.
  2. Allah mengetahui manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, Allah di dalam Yesus Kristus meninggalkan kemuliaan Sorga dan hidup sebagai manusia yang hina . Ada dua hal utama yang dilakukan-Nya bagi keselamatan manusia. Yang pertama Ia disalibkan sebagai korban penebus dosa bagi manusia. Dan yang kedua, melalui peristiwa kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga Ia mencurahkan Roh Kudus pada hari pentakosta. Roh Kudus adalah Alllah yang  berdiam di dalam hati manusia. Pencurahan Roh Kudus adalah baptisan Roh Kudus oleh Yesus Kristus. Karunia Roh Kudus diberikan bagi setiap orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan.

Dalam kesempatan ini, perlu kita renungkan lebih mendalam tentang hubungan antara pertobatan dengan ”diselamatkan karena percaya bahwa Yesus adalah Tuhan”. Kalau kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka kita akan menuruti seruan pertobatan-Nya yang disampaikan dalam Mrk 1:15, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Bertobat adalah suatu sikap hati. Hal ini bisa kita lihat dari cerita anak yang hilang dalam Lukas 15,  ketika anak bungsu meminta warisannya, meninggalkan rumah Bapa, pergi ke negeri yang jauh, berfoya-foya menghabiskan uangnya dan  kemudian ia hidup melarat. Suatu kali ia harus menyantap ampas makanan babi. Ditengah-tengah keterpurukannya, ia mengingat kehangatan di riumah bapa di mana para pegawai dan pembantu yang bekerja di sana tidak ada yang berkekurangan. Di rumah, ada kehangatan, perhatian dan cinta kasih. Kemudian, ia mengambil putusan mengatasi rasa ego  dan rasa malunya untuk pulang ke rumah bapa dan melamar menjadi pekerja, menjadi seorang pegawai. Ia tidak membayangkan hal yang lebih baik, Ia menyadari akan kesalahan dan dosanya. Ia menyadari bahwa ia berdosa kepada Sorga dan kepada bapa. Harapannya tidak banyak, ia ingin bekerja sekedar bisa makan dan minum.

Dan ketika ia pulang ke rumah, apa reaksi sang bapa? Dari jauh, ketika bapa melihat anaknya yang bungsu pulang, ia berlari mengejar anaknya itu. Bayangkan, bapa yang terhormat, bapa yang mulia berlari mengejar anak bungsu. Berlari, menunjukkan kegirangan yang amat sangat di dalam hati sang bapa. Pada waktu anak bungsu berkata: ”Saya sudah berdosa kepada Sorga dan bapa”. Bapa tidak menanggapi perkataan anak bungsu. Ia menyuruh pegawai-pegawainya mengambil jubah terbaik, memasang cincin pada jari anak bungsu dan memasang sepatu pada kakinya. Ia meminta supaya anak lembu tambun disembelih dan mereka akan berpesta bersukacita.

Pada waktu anak bungsu bertobat, sang bapa tidak berkata: ”Anakku kalau engkau bertobat, tunjukkanlah lebih dahulu melalui perbuatan-perbuatan sehingga bapa yakin akan pertobatanmu”. Tidak, tidak ada perbuatan-perbuatan yang dituntut oleh sang bapa. Yang diperlukannya adalah hati yang bertobat. Jadi kembali kepada pertobatan, pertobatan adalah sebuah sikap hati seseorang dan bukan tindakan atau perbuatan baik. Jadi, ia belum melakukan perbuatan-perbuatan yang mendukung pertobatannya itu. Pada waktu seorang bertobat di dalam hatinya, ia menyesali perbuatan-perbuatannya yang sesat selama ini, maka Tuhan mengampuninya. Kemudian,  Allah berdiam bersama dengan orang itu di dalam Roh-Nya Yang Kudus. Roh Kudus lah yang memampukan orang itu melakukan perbuatan-perbuatan yang baik.

Pertobatan adalah kunci untuk memasuki Kerajaan Allah dan pertobatan adalah konsekuensi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kecenderungan pengajaran agama Kristen yang menekankan diselamatkan oleh iman kepada Yesus Kristus atau diselamatkan oleh karena anugerah Allah tanpa menekankan pentingnya pertobatan dapat menghasilkan suatu keselamatan yang semu.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI