Pemahaman keselamatan didalam Yesus Kristus dapat kita pahami dengan peristiwa-peristiwa rohani yang terjadi di Betlehem, Golgota, kubur kosong, Betania dan Ruang Atas di Yerusalem.

Betlehem

Kenapa Yesus perlu datang sebagai manusia?

Ketika Allah memberikan hukum Taurat kepada umat pilihan-Nya, umat Israel keadaan mereka bukan bertambah baik. Dalam perjalanannya umat pilihan Allah justru sering mendukakan hati Allah, manakala mereka dalam kesulitan, dalam pergumulan hidup yang besar mereka berseru memanggil nama Tuhan, tetapi ketika Tuhan telah menolong mereka, mereka terbebas dari pergumulan dan permasalahan, mereka lupa akan Tuhan. Ketika mereka sudah menikmati susu dan madu di tanah Perjanjian, mereka lupa Tuhan, mereka berbakti kepada allah-allah lain mendukakan hati Tuhan.

Hal ini menunjukkan manusia dengan kekuatan sendiri tidak bisa lagi memperbaiki dirinya, walau ada hukum, ada tuntunan hidup yang diberikan oleh Tuhan, manusia tidak mampu menaatinya. Itulah sebabnya Allah yang mengasihi umat manusia tetap berkarya melakukan penyelamatan. Dalam Perjanjian Lama, Allah mengutus Nabi-Nabi menyampaikan Firman-Nya, namun tetap umat pilihan-Nya tidak menuruti-Nya, dan sebagai upaya terakhir Allah sendiri datang menemui manusia sebagai manusia di dalam Yesus Kristus, sejarah baru penyelamatan manusia sudah dimulai. Allah pencipta langit, Bumi dan segenap isinya merendahkan diri serendah-rendahnya, dilahirkan sebagai manusia dikandang hewan di Betlehem.

Golgota

Untuk apa Ia dilahirkan sebagai manusia? Supaya Ia disalibkan! Ia adalah Anak Domba yang dikorbankan di kayu Salib sebagai korban penghapusan dosa manusia. Kita bukan ditebus dengan uang, emas atau perak melaikan dengan harga yang sangat mahal, dengan darah yang tidak bercela yaitu darah Allah itu sendiri yang mengalir dalam tubuh Yesus Kristus. Anak Domba yang dikorbankan berarti dosa manusia yang percaya kepada-Nya dihapus melalui kematian Yesus, hal ini sama dengan apa yang disebut sebagai korban penebus salah dalam Perjanjian Lama khususnya dalam Kitab Imamat 5:17-19.

Seperti kita ketahui dalam Paskah pertama di Mesir, ketika bangsa Israel dilepaskan dari perbudakan, darah Anak Domba dilaburkan pada kiri-kanan bagian atas kusen pintu rumah keluarga-keluarga umat Israel, sehingga tulah kematian melewati mereka. Darah Yesus yang tumpah di Golgota sama seperti itu, menyelamatkan orang yang percaya kepada-Nya dari kematian kekal. Kematian-Nya di Salib adalah tebusan dosa kita.

Petrus berkata dalam I Petrus 1:18-19, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”.

Kitalah yang harusnya tergantung di salib itu, tetapi oleh karena kemurahannya Ia ambil alih apa yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Oleh karena itu kita menyebut Yesus sebagai Juruselamat.

Sebutan Juruselamat dikumandangkan oleh Malaikat dalam Lukas 2:11, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”.

Kubur kosong

Selanjutnya, pada hari ke-3 Ia bangkit dari antara orang mati. Seandainya Yesus tidak bangkit dari kematian, apa yang terjadi? Kalau Ia tidak bangkit, maka Yesus adalah sama saja dengan para Nabi dan para Rasul, mereka semua adalah manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging, mereka mati, tubuhnya menjadi tanah, dari debu kembali menjadi debu. Apabila Yesus seperti ini, Ia bukanlah Tuhan, maka iman percaya kita sia-sia semuanya, maka apapun yang dikatakan oleh Yesus hanyalah sebatas ajaran-ajaran, sama dengan ajaran-ajaran yang lain, ajaran-ajaran yang barangkali baik namun tidak menyelamatkan.

Kalau Yesus hanya memberikan sebatas hanya ajaran-ajaran yang baik, maka “itu semua tidak ada artinya”, manusia tidak bisa diselamatkan dengan ajaran yang baik, nasihat yang baik, karena dosa yang sudah merasuki manusia ini tadi. Tetapi Puji Tuhan, Yesus yang bangkit dari antara orang mati menunjukkan bahwa Ia bukan manusia biasa, Ia adalah Tuhan.

Betania

Kita sudah berbicara tentang Betlehem, kita sudah berbicara tentang Golgota, kita sudah berbicara tentang kubur yang kosong (kebangkitan Yesus Kristus), dan sekarang kita berbicara tentang Betania (kenaikan Yesus Kristus), tertulis dalam Markus 16

“Ia naik dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa”. Duduk di atas tahta, berarti Ia adalah seorang Raja. Dalam Lukas 1:33, Malaikat Gabriel mengatakan kepada Maria: “Ia (Yesus) akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Inilah yang dinubuatkan di dalam Yesaya 9:6, “Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya”.

Yesus bukan saja Tuhan dan Juruselamat, tetapi Ia adalah juga seorang Raja. Apakah beda antara Tuhan dan Raja? Tuhan dan Raja sama-sama di tinggikan, dimuliakan, dihormati dan disembah, tetapi seorang Raja memiliki hubungan keseharian dengan rakyatnya. Dalam Yesaya 9:5 tertulis ada lambang pemerintahan yang diletakkan dalam bahu Yesus. Apakah fungsi seorang Raja? Ada 3 fungsi yang melekat dalam diri seorang Raja

  1. Seorang Raja bertanggung jawab terhadap keamanan kerajaan dan rakyatnya. Kalau ada musuh menyerang Raja akan menggerakkan pasukannya menumpas musuh yang menyerang ini.
  2. Seorang Raja bertanggung jawab mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dan
  3. Raja adalah seorang hakim. Pada waktu rakyatnya diperlakukan tidak adil, rakyat bisa mengadukan perkaranya kepada Raja yang akan menghakimi dengan adil.

Kenaikan-Nya ke Sorga, duduk di atas tahta disebelah kanan Allah menunjukkan bahwa Ia sekarang ini sudah berfungsi sebagai seorang Raja. Dalam kaitan ini akhli-akhli  Alkitab berbeda pendapat, ada sebagian yang menganggap bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada sekarang dan disini, tetapi ada lagi sebagian yang menganggap kerajaan Allah akan hadir pada waktu kedatangan Yesus ke dua kali. Kita di GIKI menyakini, Kerajaan Allah sudah ada di dunia ini sekarang dan disini dan kerajaan itu sudah diproklamasikan oleh Yesus pada waktu Ia melayani di bumi ini.

Kerajaan Allah itu ibarat biji sesawi yang kian lama kian bertumbuh menjadi pohon yang besar, Kerajaan Allah itu sebagai Ragi yang menghamiri seluruh adon, Kerajaan Allah itu ada diantara orang-orang percaya.

Kalau kita meyakini Kerajaan Allah sudah ada, maka kita tentu dapat menerima Yesus adalah Raja dalam Kerajaan Allah ini. Karena itu, kita meyakini pula ada proteksi (perlindungan khusus) bagi setiap orang percaya, bagi anak-anak Allah yang adalah biji mata-Nya. Yesus Raja kita, bertanggung jawab akan keamanan umat-Nya.  Ia akan meluputkan kita pada masa kesesakan dan kita meyakini pula, Yesus memberikan kesejahteraan bagi setiap orang percaya tentang makanan, minuman, pakaian, rumah dan kebutuhan hidup lainnya. Inilah yang dijanjikan Yesus dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Kita juga meyakini walau kita hidup dalam dunia yang tidak adil, tetapi Yesus adalah Raja yang adil, Ia melindungi kita, mempertahankan hak-hak kita dalam kehidupan di dunia ini.

Kerajaan Allah yang dimaksudkan oleh Yesus, bukanlah pemerintahan politik tetapi sebuah pemerintahan rohani. Kepada Pilatus menjelang penyaliban Ia berkata “KerajaanKu bukan dari dunia ini”, namun Ia tidak menolak ketika Ia disebut sebagai seorang Raja. Ketika Pilatus bertanya, apakah ia seorang raja, Yesus menjawab:  “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah Raja, utnuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarakan suara Ku”.

Ruang Atas Yerusalem

Yesus Kristus naik ke sorga empat puluh hari sesudah hari minggu kebangkitan-Nya, dan pencurahan Roh Kudus terjadi sepuluh hari sesudah kenaikan-Nya  atau  50 hari sesudah Hari Kebangkitan. Ketika para murid sedang berkumpul di ruang atas rumah tempat mereka menumpang di Yerusalem, terjadilah pencurahan Roh Kudus bagi murid-murid pada hari Pentakosta. Terjadilah tanda-tanda heran dan mujizat berbahasa asing. Yang sakit disembuhkan, yang terikat dilepaskan, yang berbeban berat mendapat kelegaan, ada kesehatian dan kebersamaan yang kuat. Kehadiran Roh Kudus adalah dimensi baru dalam sejarah keselamatan umat manusia. Sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging, kita tidak mampu untuk melawan dosa, tetapi Tuhan memampukan kita dengan jalan berdiam dalam diri kita

Kesimpulan:

  1. Firman Allah yang berisi hukum, ajaran dan nasihat tidak membawa keselamatan bagi manusia. Godaan iblis dan sifat kedangian mencegah manusia mengikuti ajaran baik yang sudah disediakan Allah.
  2. Betlehem.  Allah mengetahui manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, oleh karena itu Allah di dalam Yesus Kristus meninggalkan hunian Sorga, lahir di kandang hewan di Betlehem.
  3. Golgota. Untuk menebus manusia Ia disalibkan di Golgota sebagai korban penebus dosa manusia, Ia adalah Mesias, Ia adalah Juruselamat.
  4. Kubur kosong. Ia dikuburkan dan pada hari ke tiga bangkit dari antara orang mati.  Kubur kosong membutikan bahwa Ia telah bangkit, Ia bangkit karena Ia adalah Tuhan.
  5. Betania.  Ia naik ke Sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ia adalah Raja dalam Kerajaan sudah ada pada waktu ini, kita semua orang percaya adalah rakyatnya.
  6. Ruang atas di Yerusalem. Sepuluh hari sesudah kenaikan-Nya ke Sorga, Ia mengurapi murid-murid-Nya dengan Roh Kudus. Kehadiran Roh Kudus adalah dimensi baru keselamatan. Kita sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging, tidak mampu untuk melawan dosa, tetapi Tuhan memampukan kita dengan jalan berdiam dalam diri kita.

Sumber: KYKY (Kebenaran Yang Kami Yakini) GIKI