Rm. 12: 17-21

 Kalau kita cermati bahwa “kasih” selalu mengandung arti yang positif. Misalnya seseorang (A) mengasihi orang lain (B), maka bisa di pastikan si A akan melakukan hal-hal yang baik yang dapat menyenangkan hati si B. Dan kasih yang sempurna itu biasanya tidak pernah menuntut balasan, bahkan ia rela berkorban sebagai pertanda bahwa dia benar-benar membuktikan kasihnya itu. Dalam arti kata, kasih itu bukan hanya di ucapkan dengan kata-kata yang manis tetapi harus dapat dibuktikan pula dengan perbuatan-perbuatan (1 Yoh 3 : 18).

Realita dalam kehidupan sehari-hari justru sangat bertolak belakang. Banyak orang mengatakan bahwa “aku mengasihimu, aku mengasihimu”, tetapi perbuatan-perbuatannya justru sangat menyakiti orang lain.

Jujur saja, hal yang paling sulit dilakukan adalah mengampuni dan menerima kekurangan orang lain. Sebab sering kali kita dapat menerima orang lain jika orang tersebut melakukan hal yang baik bagi kita. Tentang hal ini, semua orang, termasuk orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus pun dapat melakukannya. Lalu apa bedanya kita dengan mereka (orang-orang yang tidak mengenal Allah)?

Firman Tuhan hari ini mengajarkan agar kita dapat mengampuni dan menerima kekurangan orang lain. Apakah kita bisa melaksanakannya? Bisa mengampuni? Tidak bisa! Hanya Allah yang bisa mengampuni dengan kasih agape, manusia tidak bisa. Tetapi puji Tuhan, haleluya, Tuhan Yesus memampukan kita mengampuni dengan cara tinggal di dalam diri kita dalam Roh-Nya Yang Kudus.  Roh Kudus memampukan kita mengampuni sesama saudara. Roh Kudus mencabut luka jiwa yang berakar dalam hati kita.

Kristus dapat menerima segala kekurangan kita dan mampu mengampuni segala dosa-dosa kita. Kasih-Nya yang besar itu lah yang mampu menutupi dosa-dosa kita, sehingga Dia dapat menerima kita apa adanya. Jadi kita pun akan dapat mengampuni orang lain jika kasih Kristus ada di dalam diri kita.

Sikap orang percaya menyandarkan diri pada tuntunan Roh Kudus membedakan kita dengan orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Roh Kudus yaitu Roh Yesus yang diam di dalam diri kita, memimpin hidup kita, memampukan kita mengasihi dan mengampuni. Sekali lagi, bukan kekuatan kita, bukan karena kebenaran kita, tetapi semata-mata oleh kekuatan Roh Kudus, kita mampu hidup berkemenangan mengalahkan dosa, hidup dalam sukacita dan damai sejahtera. (Ev. Baskami)