Rm 12:14

Kita sudah pernah mendengar, ada tiga jenis kasih. Yang pertama kasih eros, yang kedua kasih filia dan yang ketiga kasih agape.

Kasih eros adalah kasih dalam tingkat yang paling rendah. Kasih ini didasarkan pada nafsu dan keinginan daging. Kalau pria dan wanita saling mengasihi oleh karena faktor-faktor ”paras wajahmu” dan hal-hal bersifat kedagingan lainnya. Apabila faktor-faktor pendukung tidak ada lagi, maka hilanglah kasih itu. Kalau wajah partner kita tidak lagi menarik maka hilanglah cinta. Kalau penampilan tidak lagi menarik, hilanglah cinta.

Yang kedua, kasih filia, kasih dua arah, kasih timbal-balik. ”Kalau orang baik pada saya, sebaliknya saya baik kepadanya”. Kasih filia adalah kasih balas-membalas.

Yang ketiga, inilah yang paling tinggi tingkatnya, kasih agape. Kalau  kasih filia adalah kasih dua arah, kasih timbal balik, kasih agape adalah kasih satu arah, tidak mengharapkan imbalan dari orang yang dikasihi. Inilah kasih Allah yang sudah mengorbankan diri-Nya di Kayu Salib untuk menebus dosa-dosa kita. Kasih agape adalah sebuah kasih berdasarkan pengorbanan. Allah ada di dalam kasih agape, tetapi Allah tidak ada baik di dalam kasih filia maupun di dalam kasih eros.

Dalam Rm 12:14, ditekankan kita harus memberkati dan bukan mengutuk. Kita adalah anak-anak terang, dapat membedakan mana yang baik, apa yang benar dan yang berkenan kepada Allah. Tuhan rindu hidup kita menjadi surat-surat Kristus yang terbuka yang dapat dilihat dan dibaca orang lain.

Kehidupan kita menjadi berkat karena kita mampu mengasihi dengan kasih agape. Apakah kita dapat melakukannya? Terus terang, tidak bisa! Tidak bisa dengan kekuatan sendiri! Hanya Allah yang dapat mengasihi tanpa mengharapkan balasan, hanya Ia yang bisa memberkati. Tetapi puji Tuhan, haleluya! Kita tidak bisa, tetapi Tuhan memampukan kita dengan cara berdiam di dalam diri kita di dalam Roh-Nya Yang Kudus. Roh Kudus dianugerahkan kepada kita pada waktu kita bertobat di dalam Yesus Kristus.

Dalam pembelajaran hari ini kita telah berbicara tentang berkat dan kehidupan kita menjadi berkat bagi sesama. Marilah kita memakai momentum ini untuk membenahi hidup kita, membenahi sifat, sikap, tindakan dan perkataan kita, suka memberkati dan menjauhkan diri dari sifat suka mengutuk. (Ev. Parly)