1Kor. 13:13

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Kesimpulan pemahaman kita tentang perkara rohani ada tertulis dalam 1 Kor. 13:13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”. Intisarinya adalah iman, pengharapan dan kasih.

Dalam semester lalu, persekutuan kita mengambil tema tentang iman dan pengharapan. Iman dan pengharapan berhubungan erat dengan diri kita. Apabila kita punya iman sebesar biji sesawi saja, kita bisa memindahkan gunung. Dengan iman, kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, sehingga hidup kita berkecukupan secara jasmani dan secara rohani. Dengan iman kita mengalahkan gunung-gunung permasalahan. Singkatnya, dengan iman kita menjadi kuat, berkecukupan dan mampu mengalahkan kesukaran-kesukaran dan tantangan-tantangan hidup

Pada waktu iman lahir dan bertumbuh, pengharapan muncul. Pengharapan menimbulkan semangat dan kekuatan bagi orang percaya menghadapi masa depan. Pengharapan memampukan kita dengan sabar menapaki jalan kehidupan menyongsong masa depan yang penuh sukacita, damai dan sejahtera. Iman dan pengharapan berhubungan erat dengan diri kita sendiri, memperlengkapi, memperkaya, menambah kekuatan dan semangat kita.

Kalau iman dan pengharapan berhubungan erat dengan apa yang kita lakukan bagi diri kita sendiri, maka kasih berhubungan erat dengan apa yang kita lakukan bagi orang lain. Apabila iman dan pengharapan fokus ke dalam diri kita, maka kasih fokus ke luar diri kita. Kasih adalah pengorbanan kita bagi orang lain. Pengorbanan itu bisa berupa waktu, tenaga, harta benda, harga diri, bahkan boleh jadi korban itu adalah nyawa kita seperti dilakukan Yesus di atas kayu salib. Kasih atas dasar pengorbanan ini disebut juga sebagai kasih agape, berbeda dengan kasih eros yaitu kasih berdasarkan hal bersifat lahiriah. Kasih agape berbeda dengan kasih filia yaitu kasih yang mengharapkan balasan.

Pada suatu waktu di zaman akhir, ketika sangkakala berbunyi, nama kita masing-masing dipanggil untuk memasuki kerajaaan kekal yang sudah disediakan Yesus Kristus bagi kita. Pada waktu itu, iman dan pengharapan sudah tidak diperlukan lagi, karena kita sudah hidup bersama Yesus Kristus. Di dunia kita perlu iman dan pengharapan, tetapi di sorga kita tidak memerlukannya lagi karena tujuan iman dan pengharapan itu sudah tercapai. Di sorga kita bertemu muka dengan muka dengan Yesus Kristus, kasih tetap ada di sana, karena Allah adalah kasih (1Yoh. 4:8). Kasih tidak berkesudahan. (Pdt. Remedi)