“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”  – (1 Kor 13:13).

Yang Paling Besar Adalah Kasih

Iman adalah ibarat sebuah pipa penghubung antara dunia rohani dengan dunia jasmani. Kalau kita tidak punya iman maka kekayaan dalam dunia rohani tidak bisa ditransformasikan ke dalam dunia jasmani. Iman dan pengharapan adalah saudara kembar. Kalau orang memiliki iman, ia punya pengharapan, sebaliknya, kalau orang tidak punya iman, ia tidak punya pengharapan. Iman dan pengharapan adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Tentang kasih, ayat tema di atas mengatakan, kasih adalah yang terbesar. Kenapa? Dalam 1 Kor 13 : 8 dikatakan: “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap”. Ketika kita sudah berada di sorga bersama dengan Yesus Kristus, tinggal di rumah Bapa, tidak ada lagi artinya nubuat, bahasa roh dan iman karena kita sudah bersama dengan Tuhan setiap hari. Pengetahuan akan lenyap. Pengetahuan yang paling canggih di dunia ini, kelak di sorga akan tampak sebagai sesuatu yang usang, tidak ada artinya dibandingkan dengan pengetahuan dalam kerajaan sorga.

Kasih tidak berkesudahan. Kasih ada di dunia ini dan ada di sorga, kasih tetap selama-lamanya, karena “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8).

Kasih Energi Rohani

Bensin premium, pertamax dan solar adalah bahan bakar untuk menggerakkan sepeda motor, mobil dan mesin-mesin. Bahan bakar itu adalah energi untuk menggerakkan peristiwa-peristiwa jasmani. Kasih adalah bahan bakar atau energi, yang menggerakkan peristiwa-peristiwa rohani. Kasih lah yang menggerakkan hati Tuhan untuk  menganugerahkan keselamatan bagi manusia-manusia berdosa, seperti tertulis dalam Yohanes 3:16,  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.

Kasih menggerakkan hati Tuhan untuk datang menemui manusia di dalam Yesus Kristus, Anak-Nya Yang Tunggal. Ia rela menanggung penghinaan dan  penderitaan, dilahirkan dikandang domba, dihujat, dicaci, bahkan matinya seperti seorang penjahat, disalibkan di Golgota. Ia menjadi korban tebusan bagi dosa-dosa kita. Kasih Allah akan dunia, mengerakkan hati Tuhan untuk mengampuni manusia-manusia yang berdosa.

Oleh karena kasih, Ia berbelaskasih kepada ribuan orang kelaparan yang sedang asyik mendengarkan khotbah-Nya. Yesus memberkati 5 roti dan 2 ikan, memberi makanan bagi mereka semua.

Di jalan raya Yerikho, seorang pengemis buta, namanya Bartimeus, berseru-seru memanggil nama Yesus: “Yesus Anak Daud kasihanilah aku!”. Walau orang-orang di sekitarnya menegur Bartimeus supaya diam, ia berteriak lebih keras lagi: “Anak Daud kasihanilah aku!”. Karena hatinya tergerak oleh belaskasih, Yesus mendengarkan seruan Bartimeus dan memulihkan  penglihatannya.

Karena hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, Yesus menghidupkan anak perempuan satu-satunya dari Yairus, seorang kepala rumah ibadah.

Pada waktu Ia berbelas kasihan, yang kusta menjadi tahir, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, yang buta melihat, yang terikat dilepaskan dan yang mati dibangkitkan.

Dalam 2 Raj 20, diceritakan tentang raja Hizkia yang sedang sakit keras. Tuhan mengutus Nabi Yesaya untuk memberitahukan firman-Nya, bahwa Hizkia akan mati dan ia dipersilahkan menyampaikan pesan-pesan terakhir kepada kaum keluarganya. Sesudah Yesaya meninggalkan ruang pembaringannya, Hizkia membalikkan mukanya ke arah dinding, menangis, ia berdoa memohon kepada Tuhan agar penyakitnya disembuhkan. Belum lagi Yesaya keluar dari pelataran istana, Tuhan memerintahkan Yesaya untuk kembali menemui Hizkia dan mengatakan bahwa Tuhan sudah mendengarkan doa dan melihat air mata Hizkia, dan Tuhan memperpanjang umur Hizkia 15 tahun lagi. Sungguh luar bisa! Apabila hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, Tuhan bisa membatalkan keputusan-Nya sendiri. Apabila hati Tuhan tergerak oleh kasih, segala sesuatu bisa terjadi.

Sumber Kasih Adalah Allah

Dimanakah kita dapat menemukan sumber kasih itu? Kalau air sungai bisa mengalir ke hilir,  itu terjadi karena di hulu ada sumber air. Di bumi ini ada panas, karena ada sumbernya di matahari. Dalam 2 Kor. 3:11, Paulus menyebut Allah adalah sumber kasih dan dami sejahtera. Kita bisa menikmati air karena ada sumbernya di hulu. Kita bisa menikmati panas karena ada matahari. Kita bisa menikmati kasih dan damai sejahtera karena ada sumbernya yaitu Allah sendiri.

Semua orang mencari kehidupan sukacita, damai dan sejahtera yang bahasa populernya kehidupan bahagia. Sungguh menyedihkan, manusia pada umumnya mencari kehidupan damai sejahtera itu pada sumber yang salah. Ada yang menganggap kekayaan sebagai sumber, yang lain menganggap pendidikan atau jabatan tinggi sebagai sumber. Kalau ada orang mencari air tawar ke laut atau mencari panas ke kutub utara, kita akan menyebut mereka sebagai orang yang sangat dan sangat bodoh. Demikian juga Allah menyebut orang yang mencari damai sejahtera di luar diri-Nya sebagai orang yang sangat dan sangat bodoh. Sumber kasih dan  damai sejahtera hanya Allah sendiri.

Mendapatkan Kasih Energi Rohani

Bensin premium, pertamax atau solar bisa dibeli di galon minyak atau SPBU. Dimanakah kita membeli bahan bakar rohani yaitu kasih? Kasih tidak bisa dibeli di SPBU atau tempat lainnya. Uang, berapa besar sekalipun tidak bisa membeli kasih itu, sebaliknya, kasih diberikan secara gratis. Energi rohani itu kita peroleh dengan cuma-cuma pada waktu kita mengakui Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja kita, pada waktu kita bertobat di dalam nama-Nya (Kis 2:38).

Tidaklah mudah bagi kita yang mengusung nama “kasih” dalam gereja kita, Gereja Injili Kasih Indonesia (GIKI) untuk hidup memperlihatkan kasih baik dalam lingkungan sendiri, dengan gereja-gereja tetangga dan masyarakat di luar gereja. Mengasihi bagi kita berarti “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (1 Pet 3:9). Tuhan Yesus, Kepala Gereja memampukan kita!