Roma 12:1

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Bacaan Alkitab Setahun Mazmur 147; Wahyu 3; Ezra 5-6

Dalam kebudayaan persaingan saat ini, kita diajar untuk tidak pernah menyerah dan pasrah – karena itu kita tidak sering mendengar tentang penyerahan. Kalau menang adalah segalanya, maka menyerah tidak terpikirkan. Kita lebih memilih berbicara tentang kemenangan, keberhasilan, kemampuan mengatasi, dan penaklukan daripada mengalah, tunduk, taat, dan menyerah. Tetapi penyerahan kepada Tuhan adalah inti dari penyembahan.

Penyerahan adalah respon alami terhadap kasih dan belas kasihan Tuhan yang luar biasa. Kita memberikan diri kita kepada-Nya, bukan karena ketakutan atau kewajiban, melainkan dalam kasih, karena “Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Ada tiga penghalang yang menghalangi penyerahan diri secara total kepada Tuhan : ketakutan, keangkuhan dan kebingungan. Ketiga hal tersebut diakibatkan karena kita tidak menyadari seberapa dalamnya Tuhan mengasihi kita, sehingga kita ingin mengendalikan kehidupan kita sendiri. Pada akhirnya kita tidak mempercayai Tuhan sepenuhnya.

Apakah kita dapat mempercayai Tuhan? Percaya adalah unsur yang penting dalam penyerahan. Kita tidak bisa berserah kepada Tuhan, kecuali kita mempercayai-Nya. Ketapi kita tidak dapat mempercayai-Nya sampai kita mengenal Dia dengan lebih baik. Ketakutan menghalangi kita untuk menyerahkan diri, tetapi kasih melenyapkan ketakutan. Semakin kita menyadari betapa besarnya kasih Allah, semakin mudah kita untuk berserah.

Kita tidak bisa berserah kepada Tuhan, kecuali kita mengenal Tuhan dan mempercayai-Nya dengan sepenuh hati.

Sumber : Untuk Apa Aku Ada Di Dunia Ini? ; Rick Warren; Immanuel Publishing